MAKLUMAT — Anggota Komisi A DPRD Kota Kediri, Imam Wihdan Zarkasyi mendorong takmir masjid dan musala agar dapat mengambil peran strategis di tengah masyarakat. Ia menilai, takmir perlu hadir dan terlibat aktif dalam menjawab berbagai persoalan sosial kemasyarakatan.
“Masjid maupun musala hari ini harus mampu menjadi pusat solusi,” ujarnya saat menjadi narasumber dalam agenda yang diadakan oleh Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Kediri pada Ahad pagi (24/5/2022).
Agenda yang bertajuk Seri Diskusi LHKP ini dilaksanakan dalam rangka menyambut Milad Muhammadiyah ke-117 Hijriah. Bertempat di Local Education Center Kota Kediri, agenda kali ini mengangkat tema Peranan Takmir Masjid dan Musala Muhammadiyah Kota Kediri dalam Menjaga Ketahanan Sosial Masyarakat.
Peran Takmir dalam Dakwah hingga Politik Kebangsaan
Dalam forum tersebut, Imam menyampaikan bahwa ketahanan sosial masyarakat perlu dijaga bersama. Masjid dan musala sendiri memiliki peran penting di tengah kehidupan masyarakat. Selain menjadi tempat ibadah mahdlah, masjid dan musala juga dapat menjadi ruang untuk memperkuat kepedulian sosial dan kebersamaan warga.
“Harus menjadi pusat solusi. Tidak hanya bicara ibadah mahdhah, tetapi juga isu lingkungan, pendidikan sosial, hingga penguatan solidaritas masyarakat,” ujar pria yang juga adalah Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Kota Kediri tersebut.
Imam juga menekankan pentingnya fungsi dakwah bil kaffah yang diemban para takmir masjid dan musala. Menurutnya, dakwah tidak cukup disampaikan melalui ceramah keagamaan semata.
Lebih dari itu, dakwah perlu diwujudkan melalui program masjid atau musala yang mampu menjawab kebutuhan nyata di tengah masyarakat. “Kita harapkan keterlibatan aktif dari takmir, lembaga masjid, hingga partisipasi kelompok muda,” imbuhnya.
Salah satu yang menurutnya penting saat ini adalah bagaimana takmir masjid dan musala mulai mendorong implementasi konsep green masjid. Hal ini penting sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan sekaligus upaya memperkuat ketahanan masyarakat berbasis masjid.
Selain itu, Imam juga mendorong agar para takmir masjid dan musala agar memiliki pemahaman yang baik mengenai politik kebangsaan. Pemahaman ini diperlukan agar takmir dapat bersikap bijak dan proporsional dalam menyikapi berbagai persoalan di tengah masyarakat.
“Pemahaman politik kebangsaan perlu diberikan secara proporsional agar takmir mampu menjadi agen pendidikan sosial yang mencerdaskan masyarakat tanpa kehilangan independensi dakwahnya,” jelasnya.
Ruang Konsolidasi Sekaligus Refleksi Peran Strategis
Wakil Ketua PDM Kota Kediri, Nyoto Pujiadi menjelaskan bahwa forum ini menjadi ruang konsolidasi sekaligus refleksi peran strategis masjid dan musala Muhammadiyah dalam menghadapi tantangan sosial masyarakat perkotaan.
“Masjid dan musala Muhammadiyah harus mampu menjadi pusat ketahanan sosial masyarakat, menghadirkan dakwah yang mencerahkan sekaligus menjawab kebutuhan umat,” ujarnya saat membuka acara.
Nyoto menegaskan bahwa masjid Muhammadiyah tidak hanya berfungsi sebagai pusat ibadah, namun juga sebagai pusat penguatan nilai-nilai sosial hingga pemberdayaan masyarakat. Oleh karenanya, takmir memiliki posisi penting dalam menjaga harmoni sosial di tengah dinamika masyarakat.
Forum ini dihadiri takmir masjid dan musala Muhammadiyah se-Kota Kediri. Tercatat, ada sekitar 25 masjid dan musala Muhammadiyah di bawah naungan PDM Kota Kediri. Kegiatan ini juga diikuti unsur Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Kota Kediri.
Sementara itu, Chandra Aditya selaku Sekretaris Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kota Kediri juga menyampaikan pentingnya sinergi dakwah generasi muda dengan takmir masjid dan musala.
Menurutnya, masjid maupun musala harus mampu menjadi ruang bersama yang terbuka bagi semua generasi. Sebab, dalam sejumlah kasus, anak muda kerap merasa kurang dekat dengan masjid karena adanya jarak dengan generasi yang lebih tua.
Akibatnya, ruang interaksi di antara keduanya tidak terbangun dengan baik. Jika ruang interaksi saja tidak terjalin, apalagi kolaborasi dakwah yang melibatkan lintas generasi. Ia pun berharap agar masjid dan musala di Kota Kediri terus menjadi ruang terbuka dan inklusif bagi semua kalangan.
“Tantangan dakwah saat ini membutuhkan pendekatan yang lebih adaptif, inklusif, dan dekat dengan problem sosial masyarakat. Oleh karena itu, masjid harus menjadi ruang kolaborasi lintas generasi untuk membangun ketahanan sosial yang kuat,” pesannya.













