MAKLUMAT — Reparasi radio, es lilin, kebun, hingga ruang rapat perguruan tinggi. Jejak langkah Dr. Drs. H. Supriyono, M.Ed., tidak lahir dari satu jalur yang lurus.
Sejak kecil, ia terbiasa bekerja sekaligus belajar. Pengalaman demi pengalaman itu kemudian membentuk satu keyakinan: pendidikan tidak cukup berhenti di ruang kelas. Ilmu harus menjelma menjadi karya dan memberi manfaat.
Prinsip itulah yang kini ia bawa ketika dipercaya menjadi Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor Universitas Islam Balitar (UNISBA) Blitar pada Selasa (11/8/2026). Di kampus tersebut, Supriyono mendorong konsep Entrepreneurial University, dengan tagline The Real Entrepreneurial University. Baginya, kampus harus menjadi tempat lahirnya ilmuwan, inovator, profesional, sekaligus entrepreneur.“Belajar itu bukan hanya teori, tetapi juga praktik nyata yang mengubah hidup dan berdampak bagi kehidupan masyarakat,” kata Supriyono, Senin (17/8/2026).
Belajar dari Es Lilin dan Radio
Jauh sebelum memimpin perguruan tinggi, Supriyono sudah akrab dengan dunia kerja. Saat masih SD di Ngebel, Ponorogo, ia ikut mengumpulkan batu dan mengangkut kayu untuk pembangunan SD Inpres. Dari pekerjaan itu, ia mendapatkan uang saku.Beranjak SMP, ia bekerja di pabrik es lilin di kawasan Brubuh, Sutojayan, Blitar. Es lilin itu kemudian dijajakannya berkeliling kampung untuk membantu biaya sekolah.
Namun, Supriyono tidak berhenti pada pekerjaan fisik. Ketika duduk di kelas II SMP dan sudah menguasai elektronika, ia membuka jasa reparasi radio, tape, dan televisi. Bahkan, ia berhasil merancang radio sendiri. Radio itu pula yang akhirnya membuka jendela pengetahuannya. Ia rajin mendengarkan BBC Inggris, ABC Australia, RANESI Belanda, dan VOA Amerika. Dari sana, ketertarikannya terhadap bahasa Inggris mulai tumbuh. Saat SMA, Supriyono bahkan sudah berani mengajarkan bahasa Inggris kepada anak-anak di lingkungannya. Sejak itu, belajar dan bekerja seolah menjadi dua dunia yang tak pernah terpisahkan.
Menyeberang ke Kanada dan Australia
Pengalaman hidup kemudian membawanya melangkah lebih jauh dari Blitar. Pada 1986, Supriyono terpilih mengikuti Canada-World Youth Exchange Program. Ia berangkat ke Kanada sebagai Caraka Muda Indonesia.Di Dryden High School, Ontario, ia menjadi asisten guru. Ia juga mempelajari pengelolaan lingkungan, limbah pabrik kertas, hingga budaya komunitas Indian Ojibwa.
Pengalaman internasionalnya berlanjut pada 1994. Supriyono mengikuti program S2 di Melbourne melalui Indonesia-IBRD Primary School Principals Development Program dan belajar di School of Humanities, La Trobe University, Australia. Di Australia, ia tidak hanya duduk di bangku kuliah. Ia juga mengajar bahasa Indonesia di sejumlah sekolah dasar di Victoria, La Trobe University Language Center, dan Ivanhoe Grammar School. Pengalaman tersebut semakin memperkuat pandangannya: pendidikan harus membuka ruang bagi kreativitas, jejaring, dan keberanian mencoba.
Menjadi Protocol Officer KTT Nonblok X
Di tengah perjalanan akademik dan profesionalnya, Supriyono juga mendapat pengalaman dalam forum internasional. Pada 1992, ia dipercaya menjadi Protocol Officer The Tenth Non-Aligned Summit, atau KTT Nonblok X, di Jakarta.Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan lingkungan diplomasi internasional. Sekaligus memperluas wawasan dan jejaringnya dalam menangani kegiatan berskala besar.
15 Tahun di Freeport
Setelah mudik ke Indonesia, Supriyono memasuki dunia industri. Pada 1997, ia terlibat dengan PT Freeport Indonesia sebagai konsultan Language and Cross-Cultural Training.Setahun kemudian, ia menjadi management trainer. Pada 1999, ia bergabung sebagai karyawan organik di Divisi Quality Management Services.
Kariernya berkembang. Dari Group Leader Management Development Program, ia kemudian dipercaya menduduki sejumlah posisi di bidang pelatihan, pengembangan kepemimpinan, hingga kualitas hidup.
Di Freeport, Supriyono juga terlibat dalam Business Incubator untuk masyarakat tujuh suku dan berbagai program pemberdayaan pendidikan.
Ia kemudian dipercaya memimpin Yayasan Pendidikan Jayawijaya PT Freeport Indonesia. Di sana, ia mengembangkan sekolah yayasan tersebut sekaligus Tomawin Dormitory.Sekitar 15 tahun berada di lingkungan industri membuat pengalaman manajerial dan kepemimpinannya semakin lengkap.
Pulang ke Kampus
Pada 2012, Supriyono kembali ke dunia perguruan tinggi. Ia bergabung dengan UNISBA Blitar sebagai dosen Pendidikan Bahasa Inggris.
Setahun kemudian, ia dipercaya menjadi Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan. Karier akademiknya terus berlanjut. Ia kemudian dipercaya menjadi Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Sistem Informasi, lalu Wakil Rektor III dengan berbagai bidang tanggung jawab. Kini, ia dipercaya menjadi Plt. Rektor UNISBA Blitar. Konsep Entrepreneurial University menjadi salah satu gagasan yang ia bawa. Mahasiswa tidak cukup hanya dibekali ilmu akademik. Mereka juga diarahkan memiliki kemampuan profesional dan kewirausahaan melalui Pendidikan Kewirausahaan dan program Students Enterprise.
Jejaring kampus diperluas dengan UMKM, Rumah BUMN, pesantren, dunia usaha, serta organisasi kewirausahaan seperti IIBF, TDA, HIPMI, dan KADIN. Kerja sama pendidikan juga dibangun dengan mitra di Thailand, Malaysia, India, dan Australia.
Kampus Harus Jadi Jembatan
Bagi Supriyono, kampus tidak boleh menjadi menara gading. Kampus harus menjadi jembatan. Jembatan antara ilmu dan kebutuhan dunia kerja. Antara akademik dan kewirausahaan. Antara pengetahuan dan pemberdayaan masyarakat. Gagasan itu juga ia bawa ke lingkungan sosial dan pesantren.
Ia ikut mengembangkan Santripreneur Enterprise dan Pusat Inkubasi Bisnis Santripreneur di Pondok Pesantren As-Syuja’iyah, Kabupaten Blitar.
Sementara melalui GGOLD Indonesia, sejak 2010 lebih dari 20 ribu peserta dari berbagai profesi disebut telah mengikuti pelatihan konsep GGOLD Way 165.
Konsep tersebut menggabungkan lima nilai: Greatness, Gratitude, Obedience, Love, dan Discipline. Pendidikan yang Membuat Orang Lain Tumbuh
Supriyono juga dikenal sebagai penyair. Karya-karyanya bergerak pada puisi musikal profetik, kontemplatif, edukatif, dan urban aventura.Hingga 2026, karya musikalnya disebut mencapai 162 puisi musikal.Pada Januari 2026, dedikasinya di bidang pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia mendapat Asia Education & Academic Impact Award dari World Achievement Association dan Lembaga Penghargaan Indonesia. Penghargaan itu menjadi salah satu pengakuan atas perjalanan panjangnya di bidang pendidikan, kepemimpinan, dan pengembangan sumber daya manusia.
Penghargaan bukanlah tujuan akhir dari sebuah perjalanan.Pada momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia, gagasan Supriyono tentang pendidikan merdeka menemukan relevansi. Baginya, merdeka dalam pendidikan bukan berarti bebas tanpa arah. Kemerdekaan justru harus melahirkan tanggung jawab, kemampuan, karya, dan manfaat. “Entrepreneurial University adalah jembatan antara ilmu, iman, dan usaha.” Kalimat itu menjadi benang merah perjalanan panjang Dr. Supriyono.
Dari mengangkut kayu dan batu, menjajakan es lilin, memperbaiki radio, mengajar bahasa Inggris, terlibat dalam forum internasional, belajar ke luar negeri, bekerja di industri tambang, hingga akhirnya memimpin perguruan tinggi. Jalurnya memang berliku. Namun, ujungnya tetap sama, yakni membangun manusia yang merdeka, berkarakter, berdaya saing, dan beriman. Sebab, bagi Supriyono, pendidikan bukan tentang seberapa tinggi seseorang berdiri setelah belajar. Pendidikan adalah tentang seberapa banyak orang lain yang bisa ikut tumbuh.***













