MAKLUMAT– Eskalasi di Selat Hormuz mencapai titik didih baru. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengonfirmasi penyitaan dua kapal komersial, yakni MSC Francesca dan Epaminodes, pada Rabu (22/4). Salah satu kapal, MSC Francesca, disebut-sebut memiliki keterkaitan langsung dengan kepentingan rezim Israel.
Melansir media Iran, Press TV, penyitaan ini bukan sekadar pencegatan administratif. Laporan dari Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) menyebutkan bahwa proses penghentian kapal diwarnai aksi kekerasan.
Sebuah kapal cepat (gunboat) milik IRGC dilaporkan melepaskan tembakan ke arah anjungan (bridge) salah satu kapal tanpa peringatan radio terlebih dahulu, yang mengakibatkan kerusakan berat pada struktur navigasi kapal tersebut.
Pelanggaran Protokol di Jalur Vital
Pihak Teheran berdalih tindakan tegas ini diambil karena kedua kapal dianggap melakukan “provokasi maritim”. Berdasarkan rilis resmi IRGC, poin-poin pelanggarannya meliputi:
-
Pelarian Senyap: Mencoba keluar dari Selat Hormuz secara sembunyi-sembunyi tanpa izin transit.
-
Sabotase Navigasi: Memanipulasi sistem alat bantu navigasi internasional guna menghindari deteksi radar Iran.
-
Pelanggaran Berulang: Mengabaikan peringatan keamanan yang telah dikeluarkan oleh otoritas pantai Iran sebelumnya.
“Intelijen kami memantau penuh. Kapal-kapal ini sengaja melanggar protokol untuk menguji kedaulatan Iran di wilayah strategis ini,” tegas juru bicara AL IRGC.
Blokade Lawan Blokade
Aksi Iran ini diduga merupakan balasan langsung atas tindakan Amerika Serikat (AS) yang sebelumnya merampas kapal kargo Touska milik Iran di dekat perairan Oman pada Minggu (19/4). Situasi semakin pelik karena insiden ini terjadi di tengah masa gencatan senjata yang rapuh antara Teheran dan Washington.
Saat ini, MSC Francesca dan Epaminodes telah sandar di pesisir Iran untuk pemeriksaan kargo dan dokumen secara menyeluruh.
Sementara itu, dunia internasional kini menanti reaksi pasar energi, mengingat insiden ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak global akibat terganggunya jalur distribusi utama di Timur Tengah.***














