Dwi Soetjipto: Pasokan BBM Aman, Stok 21 Hari Bukan Konsumsi Harian

MAKLUMAT — Isu gangguan pasokan bahan bakar minyak (BBM) di tengah ketegangan geopolitik global belum berdampak pada distribusi di dalam negeri. Stok BBM nasional disebut masih aman dan penyaluran kepada masyarakat berjalan normal.

“Untuk saat ini masyarakat tidak perlu cemas. Pasokan BBM tetap berjalan normal sehingga tidak perlu terjadi panic buying,” ujar Dwi Soetjipto, pendiri DS Research Center, di Jakarta, Selasa (17/3/2026).

Dwi menjelaskan, angka ketersediaan BBM sekitar 21 hari yang kerap beredar di publik sering disalahpahami. Menurut dia, angka tersebut merupakan cadangan operasional yang digunakan dalam sistem distribusi harian, bukan cadangan strategis energi nasional.

“Perlu dipahami bahwa angka 21 hari tersebut adalah cadangan operasional yang digunakan dalam sistem distribusi energi sehari-hari, bukan cadangan strategis energi nasional,” katanya.

Cadangan operasional itu merupakan stok yang disiapkan PT Pertamina (Persero) untuk menjaga kesinambungan pasokan kepada konsumen. Selama tidak ada gangguan pada produksi maupun rantai pasok, termasuk impor bahan baku, distribusi BBM dinilai tetap terjaga.

“Selama tidak ada gangguan pada produksi dan rantai suplai, pasokan BBM kepada masyarakat mestinya aman,” kata mantan Direktur Utama Pertamina periode 2014–2017 tersebut.

Baca Juga  DPD IMM Jatim Tolak Kenaikan Harga BBM: Potensi Picu Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok

Ia juga meminta Pertamina rutin memperbarui informasi kepada publik mengenai kondisi produksi dan rantai pasok energi. Informasi yang jelas dinilai penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat serta meredam kekhawatiran.

Terkait perkembangan global, Dwi menyoroti posisi Selat Hormuz sebagai salah satu jalur distribusi energi paling strategis di dunia. Gangguan di kawasan ini umumnya berdampak pada kenaikan harga minyak dan fluktuasi pasar energi.

“Untuk Indonesia, dampaknya masih dalam tahap waspada dan wait and see sambil terus memantau perkembangan global,” ujarnya.

Ia menilai pemerintah dan Pertamina memiliki sejumlah opsi untuk mengantisipasi potensi gangguan rantai pasok, termasuk jika terjadi disrupsi di Selat Hormuz.

“Jika terjadi gangguan rantai suplai dari Selat Hormuz, kami yakin Pertamina dan pemerintah memiliki berbagai solusi untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional,” kata Dwi.

Dalam jangka panjang, ia mengingatkan pentingnya penguatan ketahanan energi nasional. Langkah yang perlu dipercepat antara lain peningkatan eksplorasi energi domestik, penguatan kapasitas kilang, serta pengembangan energi baru dan terbarukan.

Dwi juga menilai Indonesia perlu memiliki cadangan energi strategis nasional sebagai lapisan pengaman tambahan.

“Untuk jangka panjang akan lebih aman apabila negara memiliki cadangan strategis nasional yang kuat sehingga ketahanan energi kita semakin terjaga,” ujarnya.

Baca Juga  Anggota DPR Minta Wacana WFH Dikaji Ulang: Belum Tentu Efektif Tekan Konsumsi BBM