El Nino “Godzilla” Ancam Anak-Anak: IDAI Ungkap Risiko Serius dari Dehidrasi hingga Heatstroke

El Nino “Godzilla”

MAKLUMAT – Indonesia bersiap menghadapi fenomena El Nino “Godzilla”—fase ekstrem dari anomali iklim yang diprediksi memperpanjang kemarau dengan suhu jauh lebih panas dari biasanya. Dampaknya tak main-main, terutama bagi anak-anak.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan, anak menjadi kelompok paling rentan dalam kondisi ini. Sistem pengatur suhu tubuh mereka yang belum sempurna membuat risiko kesehatan meningkat tajam.

Ketua Satgas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim IDAI, dr. Darmawan Budi Setyanto menyebut panas berkepanjangan langsung memicu dehidrasi hingga gangguan serius lain.

“Tubuh anak belum mampu beradaptasi optimal terhadap suhu ekstrem. Ini membuat mereka jauh lebih mudah kehilangan cairan,” ujar Budi dikutip, Jumat (17/4/2026).

Tak sekadar dehidrasi, kondisi ini bisa berkembang menjadi kram panas ditandai nyeri otot akibat ketidakseimbangan elektrolit hingga kelelahan panas dengan gejala pusing, mual, dan lemas. Dalam situasi lebih buruk, anak berisiko mengalami heatstroke, kondisi darurat medis ketika suhu tubuh melonjak drastis dan bisa mengancam nyawa.

Masalah tak berhenti di situ. Udara kering dan berdebu selama kemarau memperparah gangguan pernapasan. Anak-anak dengan riwayat asma menjadi kelompok yang paling terdampak, dengan gejala mulai dari batuk hingga sesak napas.

Baca Juga  Ketika Iklim Berubah

Kulit dan selaput lendir pun ikut terimbas. Biang keringat, ruam merah, hingga mimisan menjadi keluhan yang kerap muncul akibat paparan panas ekstrem dan udara kering.

Lebih jauh, krisis air bersih selama kemarau membuka celah bagi penyakit menular seperti diare. Di sisi lain, suhu tinggi mempercepat perkembangbiakan nyamuk yang meningkatkan risiko demam berdarah.

Ancaman juga datang dari potensi kebakaran hutan yang meningkat saat kemarau panjang. Asap yang dihasilkan memperburuk kualitas udara dan memicu gangguan pada saluran napas, mata, serta kulit.

IDAI mengingatkan orang tua untuk lebih waspada. Gejala seperti napas berbunyi, sesak, atau batuk berkepanjangan harus segera ditangani. Jika kondisi memburuk, anak perlu segera dibawa ke unit gawat darurat.

Untuk anak dengan penyakit kronis, aktivitas luar ruangan sebaiknya dibatasi. Orang tua juga diminta konsisten menerapkan pola hidup bersih dan sehat selama musim kemarau.

Sementara itu, pakar meteorologi IPB University, Sonni Setiawan menjelaskan istilah “Godzilla” merujuk pada super El Nino—fase dengan kenaikan suhu muka laut Pasifik bisa mencapai lebih dari 2,5 derajat Celsius di atas normal.

Fenomena ini umumnya berlangsung hingga satu tahun, dengan dampak luas pada iklim global, termasuk Indonesia.

Baca Juga  El Nino “Godzilla” Ancam Panen, Komoditas Ini Paling Rentan

Fenomena El Nino “Godzilla” bukan sekadar isu cuaca, tetapi ancaman kesehatan publik yang nyata. Fokus IDAI pada anak menunjukkan adanya kerentanan struktural—baik dari sisi biologis maupun lingkungan.

Jika pemerintah tidak memperkuat mitigasi sejak dini—mulai dari edukasi, akses air bersih, hingga pengendalian polusi udara—risiko krisis kesehatan anak bisa meningkat signifikan.

Dengan kata lain, ini bukan hanya soal panas ekstrem, tetapi tentang kesiapan sistem kesehatan menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin agresif.***