Eyang Meri Hoegeng dan Nama Baik yang Dijaga Sampai Ujung Usia

Eyang Meri Hoegeng

MAKLUMAT — Eyang Meri Hoegeng (Meriyati Roeslani Hoegeng) dan almarhum Jenderal (purn) Hoegeng Iman Santoso bukan sekadar figur sejarah. Mereka adalah simbol integritas tanpa kompromi—sebuah sikap hidup yang dijalani dalam sunyi, diuji dalam godaan, dan dipertahankan hingga di ujung usia.

Eyang Meri Hoegeng, lahir pada 23 Juni 1925, putri dari Soemakno Martokoesoemo dan Jeanne Reyneke van Stuwe. Ia berpulang pada usia 100 tahun, 3 Februari 2026, di RS Bhayangkara Polri. Usianya genap satu abad, namun jejak keteladanannya melampaui angka-angka kalender.

Ia adalah saksi hidup—dan penjaga—nama baik yang diyakini suaminya sebagai satu-satunya harta yang tak boleh hilang.  Bersama suaminya, Jenderal Hoegeng Iman Santoso, Eyang Meri bukan sekadar pasangan pejabat. Mereka adalah satu garis lurus—antara kata dan perbuatan.

Mereka pertama kali berjumpa bukan di ruang resmi atau pesta elite, melainkan di drama radio Saijah dan Adinda. Dari suara ke suara, dari dialog ke keyakinan. Lalu menikah, dan sejak itu Meri tak pernah sekadar “istri pejabat”. Ia adalah penjaga pagar.

Medan, 1959: Ketika Berlian Menjadi Fitnah

Pagi itu di Jalan Keling, Medan, Hoegeng mengajak istrinya ke kantor. Ada kabar beredar di kalangan pedagang India: Mery menerima cincin berlian. Hoegeng murka. Bukan karena istrinya, tapi karena fitnah itu sendiri.

Di hadapan pedagang yang dituding memberi hadiah, Mery menggeleng: ia tak mengenal orang itu. Pedagang itu pun menyangkal. Hoegeng mengaum. Asbak melayang. Ia tahu betul: ini bukan hadiah, melainkan upaya merusak mental dan reputasi.

Medan saat itu adalah ladang ujian. Penyelundupan, judi, korupsi—semua bertaut dengan pejabat. Jaksa Agung Soeprapto sudah berpesan: siapa yang tak tahan godaan, kariernya tamat. Hoegeng bertahan. Dan Meri berdiri di belakangnya—tanpa celah. Ketika Hoegeng diangkat menjadi Kepala Jawatan Imigrasi, Mery baru saja membuka toko bunga “Leilani” di Cikini. Usaha itu langsung ditutup.

Bukan karena rugi. Tapi karena takut orang membeli bunga bukan untuk keindahan, melainkan untuk mencari muka. “Kalau orang berbaik-baik pada saya dengan membeli bunga istri saya, itu bahaya,” kata Hoegeng. Mery mengerti. Tanpa debat. Tanpa air mata.

Lambretta yang Dikembalikan, Belanda yang Ditunda

Sebagai anak Kapolri, Didit Hoegeng pernah kegirangan saat dua motor Lambretta tiba di rumah. Tapi kegembiraan itu singkat. Motor dikembalikan. Begitu pula saat Mery hendak ke Belanda menemui ayah kandungnya yang sakit. Uang sudah ada. Tiket bisa dibeli. Tapi Hoegeng melarang.

Ia takut publik menafsirkan: istri Kapolri melancong dengan uang cukong. Mery patuh. Ayahnya wafat tak lama kemudian. Baru pada 1971 ia bisa ke Belanda—setelah semuanya bersih dari prasangka.

Hadiah, Peti Kayu, dan Wanita Cantik

Suatu hari, peti kayu besar dikirim ke rumah mereka. Isinya mesin cuci, elektronik, kain mahal. Semua dikirim balik. Hadiah itu terkait perkara smokkel. Dibilang “tanda hormat”. Hoegeng menolak.
“Hormat bukan begini caranya,” katanya. Perkara jalan terus. Pelaku dipenjara.

Uang pensiun Hoegeng sempat hanya Rp7.500 per bulan. Mereka melukis, menyanyi, mengisi siaran radio. Hidup pas-pasan. Tanpa keluhan. Hoegeng menolak rumah dinas. Menolak dubes. Menolak jabatan maskapai. Ia bahkan menolak tak membayar sewa rumah—karena takut suatu hari diminta balas jasa. Baginya, semua itu adalah utang moral.

Nama Baik, Satu-satunya Warisan

Pesan ayah Hoegeng terus dipegang: “Kita sudah kehilangan harta dan segalanya. Yang tinggal hanya nama baik.” Eyang Meri menjaga pesan itu hingga napas terakhir. Ia bukan pejabat. Tapi tanpanya, integritas Hoegeng tak akan utuh.

Di tengah zaman ketika jabatan sering diwariskan bersama kompromi, kisah mereka berdiri sebagai pengingat : bahwa kejujuran bukan slogan—melainkan disiplin hidup. Dan bahwa nama baik, jika dijaga sungguh-sungguh, bisa hidup lebih lama dari usia manusia. Selamat jalan Eyang Meri. Terima kasih telah menjadi suri teladan bagi Bangsa Indonesia. ***