Fajar Divan: IPM Jatim Harus Menjangkau Ranting hingga Ruang Digital

IPM

MAKLUMAT — Dengan 38 pimpinan daerah yang tersebar dari Ngawi hingga Banyuwangi, Jatim menjadi salah satu wilayah IPM terbesar di Indonesia. Namun, besarnya skala itu justru menjadi tantangan tersendiri, kebijakan organisasi dinilai belum sepenuhnya menyentuh hingga ke tingkat ranting dan cabang.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Umum PD IPM Jember sekaligus Calon Formatur Musyawarah Wilayah (Musywil) IPM Jatim 2026, Fajar Divan Anugrah. Menurutnya, Musywil IPM ini menjadi momentum penting untuk menentukan arah kepemimpinan organisasi ke depan.

Salah satu suara yang mencuat adalah gagasan tentang perlunya memperkuat kaderisasi hingga akar rumput sekaligus memperluas kehadiran IPM di ruang digital.

“Ketika kita melihat Jatim, tidak terlepas dari adik-adik Indonesia Jatim, sehingga menjadi patron keilmuan, perkaderan, dan apa yang nanti bisa kita bawa ke luar. Bagaimana kita mengarahkan kader untuk memperluas keilmuan dan ke depan IPM Jatim akan berusaha lebih baik,” ujarnya ketika diwawancarai wartawan Maklumat.id pada Sabtu (4/7/2026).

Divan menyoroti tantangan geografis Jatim sebagai salah satu evaluasi besar yang perlu dibenahi. Dengan wilayah yang membentang dari Ngawi hingga Banyuwangi, ia menilai kebijakan organisasi belum sepenuhnya menyentuh level ranting dan cabang secara merata.

Baca Juga  Najmi Ali Arba'i, Kader Lamongan yang Jadi Sekretaris Umum PW IPM Jatim 2026-2028

“Tidak banyak kebijakan-kebijakan itu datang dan hadir langsung kepada ranting dan menjadi perhatian kita semuanya. Bagaimana mengejawantahkan Jatim itu ya adalah Jatim, dari Banyuwangi sampai Ngawi, dan itu harus benar-benar tersampaikan dan dibunyikan di ranting dan pimpinan cabang,” tegasnya.

Ia menilai penguatan narasi keilmuan dan pendidikan kader harus berjalan beriringan dengan kemampuan menghadapi perkembangan teknologi digital. Pelajar Muhammadiyah perlu mengambil peran sebagai agen edukasi bagi pelajar lainnya, terutama dalam memanfaatkan media digital secara produktif sehingga hal ini mampu menjawab tantangan tersebut.

“Narasi keilmuan dan pendidikan kaderisasi dalam menghadapi dunia digital harus terus diperkuat. Anggota pelajar harus hadir untuk menjadi edukasi bagi teman-teman di ranting dan cabang,” jelasnya.

Selain kaderisasi, Divan juga mendorong agar IPM Jatim mampu beradaptasi dengan era digital. Ia menekankan pentingnya mengubah doomscrolling, kebiasaan menggulir konten negatif tanpa henti, menjadi ruang kreativitas yang produktif bagi pelajar.

Gagasan ini sejalan dengan arah yang ia harapkan untuk IPM ke depan, bahwa organisasi yang tidak hanya hadir dalam forum-forum formal dan seremonial, tetapi juga aktif dan relevan di ruang-ruang digital tempat para pelajar kini banyak menghabiskan waktunya.

Baca Juga  IPM Jatim Optimis Sukadiono Mampu Hadirkan Perubahan Positif di Sektor Kesehatan

“Gerakan IPM tidak ada sekadar hadir dalam ruang-ruang formal, dalam ruang-ruang seremonial, tapi hadir dalam ruang-ruang digitalisasi,” pungkas Divan.

 

*) Penulis: Nasywa Athirah