Lia Istifhama Ajak Pelajar Putus Rantai Kekerasan demi Pendidikan Inklusif

Lia Istifhama

MAKLUMAT — Anggota DPD RI, Dr Lia Istifhama menekankan pentingnya keterlibatan pelajar dalam memutus rantai kekerasan di lingkungan pendidikan.

Pesan itu ia sampaikan saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional yang menjadi bagian dari Musyawarah Wilayah (Musywil) XXIV Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Jatim di BBPPMPV BOE, Malang, Jumat (3/7/2026).

Seminar ini mengusung tema Partisipasi Pelajar: Memutus Rantai Kekerasan demi Pendidikan Inklusif dan Berkeadilan. Dalam pemaparannya, Lia Istifhama mengajak para pelajar tidak sekadar menjadi saksi ketika terjadi kekerasan di lingkungan sekolah.

Menurutnya, pelajar memiliki peran untuk menciptakan ruang belajar yang aman, inklusif, dan bebas dari berbagai bentuk kekerasan. Ia juga menjelaskan bahwa kekerasan dapat terjadi dalam bentuk fisik maupun psikologis yang dampaknya langsung dirasakan oleh korban.

“Resiliensi adalah kemampuan individu untuk beradaptasi secara positif, bangkit dari kesulitan, dan terus tumbuh meskipun menghadapi tekanan, trauma, atau pengalaman negatif seperti kekerasan seksual,” ujarnya.

Lia Istifhama menjelaskan bahwa kekerasan seksual menjadi salah satu bentuk kekerasan yang meninggalkan dampak paling panjang bagi korban. Selain memengaruhi kondisi psikologis, kekerasan seksual juga dapat berdampak pada kesehatan fisik.

Karena itu, ia menilai penyintas memerlukan dukungan yang memadai agar mampu bangkit dan melanjutkan kehidupan dengan lebih baik.

Baca Juga  BK DPD Panggil Arya Wedakarna soal Miss Equality World 2026, Ini yang Didalami

Ia juga mengingatkan bahwa upaya pencegahan harus berjalan seiring dengan penegakan hukum. Menurutnya, perlindungan terhadap korban tidak akan berjalan optimal apabila pelaku tidak mendapatkan konsekuensi yang jelas atas perbuatannya.

“Penegakan hukum harus diperkuat terhadap tindak kejahatan agar ada konsekuensi yang jelas bagi setiap pelaku,” tegasnya.

Menjelang akhir seminar, Lia Istifhama mengingatkan bahwa pendidikan inklusif tidak boleh berhenti sebagai gagasan atau slogan. Ia mendorong setiap sekolah menunjukkan komitmen melalui berbagai program yang melibatkan seluruh warga sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan berkeadilan.

“Pendidikan inklusif tidak hanya menjadi bahan pembicaraan, tetapi harus diwujudkan secara nyata melalui partisipasi aktif sekolah dalam berbagai program,” pungkasnya.

 

*) Penulis: Ahmad Hoiron