Green Jobs Meledak! Harapan Baru Mahasiswa di Tengah Krisis Kerja

Green Jobs

MAKLUMAT — Krisis kerja makin nyata, tapi peluang justru muncul dari arah tak terduga: green jobs. Siapkah mahasiswa menangkap tren ini? Situasi itu menjadi sorotan dalam forum Ruang Aksi Goes to Campus yang digelar di Aula STFT Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Kegiatan tersebut mempertemukan berbagai pihak—mulai kampus, pemerintah, industri, hingga komunitas—untuk membahas masa depan green jobs bagi generasi muda.

Peluang Besar di Tengah Krisis Lingkungan

Direktur Kemitraan Strategis Koaksi Indonesia, Indra Sari Wardhani, menegaskan bahwa green jobs hadir sebagai jawaban atas krisis lingkungan global.

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi ke depan tak bisa lagi dilepaskan dari aspek keberlanjutan. “Green jobs menjadi titik temu antara kepentingan ekonomi dan kelestarian lingkungan,” ujarnya.

Dari sisi pemerintah, perwakilan Pemprov DKI Jakarta, Ayiful Ramadhan Asit, menyebut target peningkatan energi terbarukan hingga 2050 bakal menciptakan banyak lapangan kerja baru. Salah satunya di sektor pembangkit listrik tenaga surya.

Selain itu, pelatihan tenaga kerja di bidang kendaraan listrik dan energi bersih juga terus diperluas.

Skill Adaptif Jadi Kunci

Dari sektor industri, Cristine Florensia menekankan pentingnya kemampuan adaptif bagi mahasiswa.

Ia merinci tiga keterampilan utama yang perlu dimiliki: pola pikir ekonomi sirkular, kemampuan beradaptasi, serta komunikasi efektif dalam isu keberlanjutan.

Menurut dia, peluang green jobs tidak melulu soal teknis. Inovasi produk ramah lingkungan juga terbuka lebar. Mulai dari tas berbahan plastik daur ulang hingga olahan limbah kopi.

“Kolaborasi kampus, industri, dan pemerintah itu kunci,” tegasnya.

Green Habit Jadi Fondasi

Dari kalangan akademisi, dosen STFT Jakarta, Meilanny Risamasu, mengingatkan bahwa green jobs harus dimulai dari kebiasaan hidup ramah lingkungan.

Menurut dia, kesadaran ekologis tak cukup hanya diajarkan di kelas, tetapi harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

STFT Jakarta sendiri telah mengembangkan konsep Green Campus Blue Seminary dengan memasukkan isu lingkungan dalam kurikulum.

Wakil Ketua III STFT Jakarta, Rahel Sermon Harapani Daulay, menambahkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan juga menjadi bagian dari praktik iman di tengah masyarakat.

Peran Non-Teknis Tak Kalah Penting

Sementara itu, Manajer Riset Koaksi Indonesia, Ridwan Arif, menegaskan bahwa peluang green jobs terbuka luas, termasuk bagi mereka yang tidak berlatar belakang teknis.

Peran sosial, seperti tokoh agama dan pemimpin komunitas, dinilai strategis dalam menyebarkan kesadaran lingkungan.

Hal senada disampaikan Syahrul Ramadan. Ia menilai nilai-nilai keagamaan dapat menjadi kekuatan besar dalam mendorong aksi lingkungan.

“Tokoh agama masih menjadi rujukan utama masyarakat,” ujarnya.

Didorong Jadi Gerakan Nasional

Program Ruang Aksi Goes to Campus rencananya akan diperluas ke berbagai kampus di Indonesia.

Tak sekadar mengenalkan green jobs, program ini juga diharapkan mampu membentuk generasi muda yang adaptif, kritis, dan peduli lingkungan.

Di tengah krisis iklim dan perubahan ekonomi global, green jobs kini bukan lagi sekadar tren, melainkan arah masa depan dunia kerja. ***