Gus Salam Dapat Restu Bani Bisri, Bursa Calon Ketum PBNU Makin Panas

gus salam

MAKLUMAT— KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, mendapat restu keluarga besar Bani Bisri Syansuri untuk maju dalam kontestasi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Muktamar ke-35 NU yang digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, 27–31 Agustus 2026.

Restu tersebut diberikan dalam pertemuan silaturahmi Bani Bisri yang berlangsung 17 hari sebelum Muktamar ke-35 NU. Forum itu menjadi bagian dari ikhtiar Gus Salam untuk memastikan dukungan keluarga pesantren sebelum memasuki arena pemilihan.

Gus Salam merupakan cucu Kiai Bisri Syansuri, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama. Ia menyebut restu keluarga pesantren menjadi bagian penting sebelum dirinya melangkah lebih jauh dalam kontestasi.

“Temu silaturahmi Bani Bisri ini agar semuanya clear ketika saya berikhtiar secara total menjadi Ketua Umum PBNU,” ujar Gus Salam dikutip, Rabu (12/8/2026).

Setelah memperoleh restu Bani Bisri, Gus Salam berencana melanjutkan silaturahmi ke sejumlah pesantren, termasuk Pondok Pesantren Lirboyo dan Al-Falah Ploso di Kediri.

Ia juga akan sowan kepada para ulama dan kiai di berbagai daerah sebelum bertemu dengan jajaran Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) di seluruh Indonesia.

Baca Juga  War Ticket Haji: Ketika Rukun Islam Diperlakukan seperti Tiket Konser

Menurut Gus Salam, pesantren memiliki posisi penting dalam sejarah berdirinya NU. Karena itu, dukungan dan doa para kiai menjadi bekal penting dalam pencalonannya.

“NU ini besar karena barokahnya para kiai,” tegasnya.

Gus Salam ingin membawa kepemimpinan PBNU ke depan tetap berpijak pada tradisi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dan pesantren.

“Tanpa restu dan doa mereka, kita bukan apa-apa,” lanjutnya.

Pemilihan Ketua Umum PBNU menjadi salah satu agenda yang paling mendapat perhatian utama. Sejumlah tokoh NU mulai menyatakan kesiapan atau masuk dalam bursa calon ketua umum. Di antaranya Ketua PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dan Ketua PWNU Jatim KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin).

Kemunculan Gus Salam menambah dinamika menjelang muktamar. Statusnya sebagai cucu salah satu pendiri NU serta dukungan keluarga besar Bani Bisri menjadi modal sosial yang tidak bisa diabaikan dalam kontestasi.

Restu Bani Bisri bukan sekadar agenda silaturahmi keluarga. Dalam kultur NU, hubungan antara pesantren, kiai, keluarga pendiri, dan struktur organisasi memiliki posisi strategis dalam menentukan arah kepemimpinan.

Gus Salam tampaknya memahami peta tersebut. Sebelum berhadapan dengan PWNU dan PCNU sebagai pemilik suara dalam muktamar, ia memilih memperkuat legitimasi kultural melalui silaturahmi kepada keluarga dan para kiai.

Baca Juga  Presiden Prabowo Dijadwalkan Buka Muktamar ke-35 NU Besok

Langkah ini sekaligus menunjukkan bahwa pertarungan menuju kursi Ketua Umum PBNU tidak hanya berlangsung di ruang organisasi. Dukungan pesantren dan jaringan ulama juga menjadi bagian penting dari konsolidasi kandidat.

Dengan Muktamar ke-35 tinggal hitungan pekan, restu Bani Bisri membuat posisi Gus Salam semakin diperhitungkan. Namun, restu kultural tetap harus diterjemahkan menjadi dukungan organisasi jika ingin memenangkan kontestasi.

Pada akhirnya, dinamika muktamar akan ditentukan oleh kemampuan setiap kandidat membangun komunikasi, merawat ukhuwah, dan memperoleh dukungan sesuai mekanisme yang berlaku di internal NU.