Jangan Khianati Khittah Demi Kursi Kekuasaan di Muktamar ke 35 NU

KH Ahmad Nawawi Maksum

MAKLUMAT – Dulu. Para muassis berpesan. Kursi bukanlah singgasana. Di bilik-bilik pesantren yang teduh, kepemimpinan dipahami sebagai dawuh suci untuk merawat umat. Bukan panggung untuk mengejar tepuk tangan.

Sebagai warga kultural yang lahir dan bernapas dari denyut nadi tradisi keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU), kita tentu sangat akrab dengan laku lampah para kiai kampung. Mereka mengabdikan seluruh umurnya tanpa pernah menghitung lelah. Mereka merawat tradisi dengan keikhlasan yang senyap di akar rumput, jauh dari riuh ambisi duniawi yang melalaikan.

Namun, ketika riuh rendah bursa pemilihan pemimpin hari ini menyapa, batin kita sering kali berbisik gelisah. Apakah kursi mulia ini masih dipandang sebagai ladang khidmat, atau mulai bergeser menjadi ajang mengejar kuasa duniawi? Sering kali, tanpa sadar kita menempatkan nafsu bertakhta jauh lebih tinggi daripada ketulusan nurani yang bersih.

Di sinilah relevansi peringatan dari hujjatul Islam Imam Al-Ghazali dalam kitab monumental Ihya ‘Ulumuddin menyapa lembut kesadaran kita. Beliau mengingatkan bahwa agama dan kekuasaan ibarat dua saudara kembar; agama adalah fondasi suci, sementara kekuasaan adalah penjaga setianya. Ketika fondasi itu mulai retak oleh ambisi pribadi, maka runtuhlah bangunan maslahat umat yang telah lama dijaga dengan penuh pengorbanan.

Baca Juga  Kepemimpinan Adalah Kata-kata: Ketika Ucapan Lebih Keras daripada Kebijakan

Tidak hanya itu, sosiolog agung Ibnu Khaldun dalam karya termasyhurnya, Al-Muqaddimah, turut menggoreskan peringatan historis yang sangat telak.

Beliau menegaskan bahwa keruntuhan sebuah peradaban jamiyah selalu bermula ketika solidaritas suci di akar rumput ashabiyah yang dirajut dengan nilai keimanan mulai terkikis dan dikalahkan oleh syahwat politik serta perebutan pengaruh. Ketika orientasi bergeser dari umat menuju kepentingan golongan semata, maka perlahan-lahan keroposlah sendi-sendi moral organisasi dari dalam.

Menjelang bursa pencalonan Ketua Umum PBNU melalui Muktamar ke 35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026 yang kian menghangat di ruang publik ini, barangkali ini saatnya kita berhenti sejenak dari segala hiruk-pikuk luar. Bukan untuk menuding siapa yang paling keliru atau siapa yang paling layak, melainkan untuk menengok ke dalam cermin diri sendiri secara jujur. Sudahkah niat kita bersih dari segala kepentingan sesaat yang mengeruhkan kejernihan hati dan mencederai persaudaraan sesama kaum beriman?

Sebab, kekuasaan yang datang tanpa landasan moral itu rapuh bagai buih di atas ombak lautan. Tampak megah dari kejauhan, namun musnah seketika saat menghantam karang kenyataan.

Baca Juga  Presiden Prabowo, Rais Aam PBNU dan Gus Ipul Absen di Puncak Harlah ke-100 NU, Gus Yahya Berikan Alasannya

Kekuatan sejati warga kultural selalu hidup dari keikhlasan para guru ngaji dan pejuang subuh yang merawat tradisi dengan cinta yang senyap. Menang tidak membuat mereka jumawa, dan kalah tidak membuat patah arang dalam berkhidmat.

Sebagai anak-anak tradisi pesantren, kita diajar untuk tidak silau pada megahnya dunia. Kursi kepemimpinan hanyalah persinggahan sementara waktu, sementara pengabdian pada umat adalah perjalanan panjang yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Ilahi.

Ketika kita mulai merasa paling berjasa dan paling pantas, di situlah biasanya ketulusan mulai terkikis oleh kesombongan diri yang tersembunyi di balik jubah kebaikan.

Dan pada muaranya, apa pun hasil dari dinamika bursa kepemimpinan ini, cermin terbaik bukanlah bagaimana orang lain menilai langkah kita. Cermin terbaik adalah sejauh mana kita mampu menjaga martabat jamiyah dengan kepala dingin, hati yang jernih, serta komitmen moral yang teguh tanpa reserve.

Maka, sebelum melangkah ke panggung yang riuh, berkemaslah dalam sunyi. Basuhlah wajah dengan air wudu. Sujudlah yang lama di atas sajadah malam. Dan tanyakan pada Sang Pencipta dengan dada yang lapang. Pantaskah diri ini memikul amanah yang begitu suci? Sebab di ujung jalan nanti, bukan gelar dan pujian manusia yang menyelamatkan, melainkan ketulusan cinta yang kita tinggalkan untuk umat.

Baca Juga  Menakar Strategi 3 Pilar Penanggulangan Kemiskinan di Jawa Timur: Capaian, Tantangan, dan Jalan Keluar Terbaik