22.8 C
Malang
Selasa, Mei 28, 2024
OpiniHakikat Tugas Kepemimpinan Manusia

Hakikat Tugas Kepemimpinan Manusia

Riyan Betra Delza, Bendahara Umum DPP IMM.

ISLAM memandang semua manusia memiliki kedudukan yang sama dari segi kemanusiaannya, walaupun manusia tersebut terdiri dari suku yang berbeda, warna kulit, jenis kelamin bahkan agama. Meski begitu Tuhan telah memberinya rahmat dan kehormatan sebagai modal dasar. Tugas manusialah untuk memelihara rahmat dan kehormatan itu baik saat dia hidup maupun setelah kematiannya.

Jika kita lihat dalam surat Al Isra’ ayat 70 Allah menegaskan: Dia memuliakan manusia dan Dia menganugerahinya aneka kelebihan atas banyak makhluk-Nya. Proses ikhtiar manusia dalam mengimplementasikan rahmat yang ia dapat dari Tuhan dan cara memelihara kehormatan tentu berbeda-beda. Karena kita ketahui bahwa manusia adalah makhluk yang unik. Ada banyak defenisi yang dikemukakan oleh para pakar tentang manusia, namun dari banyaknya defenisi tersebut tidak mampu seutuhnya menggambarkan manusia secara utuh.

Alexis Carrel (1873-1944M) seorang ilmuan berkebangsaan Perancis dan seorang peraih nobel kedokteran pernah menulis  buku berjudul “Man The Unknow” dia menyatakan bahwa sekian banyak pertanyaan yang diajukan tentang manusia,  dari banyaknya pertanyaan itu justru banyak yang tidak diketahui jawabannya bahkan  oleh ilmuan sekalipun. Ada ragam tafsiran tentang manusia seperti manusia adalah mahluk yang berakal, binatang yang berpikir, dan seterusnya.

Sangat luar biasanya manusia, selain tidak mudah didefenisikan secara utuh.  Mulai dari mendefenisikan sifat, bentuk dan fungsi. Jika kita lihat struktur tubuh, ada miliaran sel yang setiap saat tumbuh dan mati, semuanya terintegrasi dan berkomunikasi antara satu dan lainnya melalui darah dan syaraf dan itupun begitu rumit untuk menceritakannya, tentu saya agak kesulitan dalam menjelasakan persoalan tersebut, pertama saya bukan pakar nuerosains dan anatomi. Namun, poin yang ingin saya katakan adalah dari segala lini, bahkan dari susunan organ manusia pun Tuhan ciptakan beragam dan tidak sama.

Mungkin itulah yang disebutkan oleh para ahli bahwa manusia diciptakan Tuhan sesuai dengan citranya dan ini kemudian berarti bahwa manusia berpotensi untuk meneladani sifat-sifat ke Tuhanan sesuai dengan kapasitasnya sebagai makhluk, selalu ada ada potensi kebaikan disetiap diri manusia terlepas dia berbeda cara pandang, warna kulit bahkan agama sekalipun. Karena Tuhan telah memberi rahmat dan kehormatan pada manusia untuk mengenal realitas segala sesuatu.

Seorang sufi Najamudin Ar-Razy menulis bahwa pada mulanya ruh telah diberi kemampuan oleh Allah  berupa kemampuan mengenai hal-hal yang universal. Ketika ia bersatu dengan dunia kemudian dilatih serta diasuh sebagaimana mestinya maka ia akan memperoleh pengetahuan yang bersifat universal dan partikular (pengetahun keduniaan) yang nyata, dengan modal itu ia mampu menjalankan konsepsi tugas sebagai seorang pemimpin dimuka bumi.

Pandangan Islam tentang tugas kepemimpinan manusia di pentas bumi dapat kita temukan dalam Al-Quran pada surat Al-Baqarah ayat 30, di sana Alqur’an merinci bagaimana ke inginan Allah menciptakan Makhluk yang bernama manusia yang akan ditugaskan nantinya memelihara kemaslahatan di bumi. Maka diperintahkan malaikat dan iblis untuk bersujud, namun iblis ingkar karena ia diciptakan dari api sedangkan Adam hanya dari tanah. Akibat penolakan itu iblis dikeluarkan dari surganya Allah.

Setelah dikeluarkannya Iblis dari surganya Allah, Adam diberikan kenikmatan untuk tinggal disyurga dengan segala isinya, namun diberikan pengecualian agar tidak mendekati satu pohon yang tumbuh disana, Allah telah mengingatkan bahwa Iblis adalah musuh  bisa dilihat dalan surat Al-Araf ayat 19 yang artinya : Wahai Adam, Tinggallah engkau bersama istrimu dalam surga dan makanlah apa saja yang kamu berdua sukai. Tetapi janganlah kamu berdua dekati pohon yang satu ini. (Apabila didekati) kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.

Namun dalam kapasitas kemanusiaannya Adam dan isterinya tergoda mencicipi buah dari pohon yang dilarang tersebut yang iblis namakan kebadian yang kekal. Dalam pandangan saya keabadian yang diberitahukan iblis kepada adam yang kemudian dia percayai, merupakan bentuk buruk sangkanya kepada Allah walaupun tentu ada banyak tafsiran ulama secara lengkap mengisahkan peristiwa itu.  Sehingga dengan buruk sangka tersebut Allah memerintahkan adam untuk turun kebumi dalam rangka memperbaiki segala kesalahannya sesuai dengan yang dikisahkan Al’Quran dalan surat Al, Baqarah ayat 35-37.

Agaknya ada beberapa pertanyaan dalam hal ini “ kalau memang adam sejak awal dikehendaki Allah untuk mengurus bumi lalu kenapa ia tidak langsung turun ke bumi saja, kenapa harus singgah dulu disyurga nya Allah dengan segala macam kenikmatan?,. Menurut saya justru keberadaan adam disyurga untuk memberi pelajaran tentang tugas yang akan dilaksanakan Adam di bumi, serta tantangan yang hendak mereka perjuangkan untuk dicapai. Yakni tugas memimpin, dimana di bumi nantinya mereka hendaknya berjuang untuk menciptakan bayang-bayang syurga sebagaimana yang mereka alami, dengan segala ketersediaan serta rasa aman dan damai.

Maka inti dari tugas kepemimpinam kepada adam dan pasangannya,  diharapkan mereka mampu menjadikan pengalaman surgawi yang telah  diperoleh di surga itu untuk dapat diaplikasikan ketika mereka berjuang di bumi, dengan mewujudkan bayang-bayang syurgawi tersebut. Tentunya dengan standar serba kecukupan, rasa aman,  dan damai, kemaslahatan disajikan, maka dengan semua itu mampu mengantarkan semua makhluk menuju tujuan penciptaannya. itulah bentuk pengabdian kepada Allah yang sebenarnya.

Dalam menjalankan tugas memimpin tentunya tidak terpaku pada kaum muslim saja, karena semua manusia terlepas dari perbedaan keyakinan suku dan rasnya, punya potensi dalam mewujudkan bayang-bayang surgawi di muka bumi. Semua manusia wajib memelihara segala bentuk hidangan Tuhan dimuka bumi ini (alam raya dan isinya) serta memelihara kerukunan antar perbedaan tersebut.

Menurut saya selain tugas  ibadah individual , juga ada tugas ibadah yang sifatnya kolektiv, dalam hal ini fungsinya manusia menjadi pemimpin bagi semesta, tentu bisa kita simpulkan bahwa ini juga merupakan bagian dari cara mengabdi kepada Tuhan. Sehingga upaya untuk memakmurkan bumi melalui segala bentuk kegiatan bahkan setiap langkah manusia hendaknya di yakini sebagai bentuk manifestasi ibadah.

Kita menginginkan seluruh bumi dan isinya kepunyaan semua manusia, dengan kepercayaan yang dianut masing-masing dan semua manusia berkewajiban untuk memeliharanya. Maka semua manusia hendaknya berkesadaran jika dalam mewujudkan bayang-bayang syurgawi perlu kerja sama. Dalam hal ini  Kita patut bertanya mengapa Tuhan tidak menggiring kita untuk menganut satu agama saja dan kenapa terkesan membiarkan kita memilih (bisa benar bisa salah).

Karena Tuhan bisa mungkin saja tidak mengingankannya, karena Manusia adalah makhluk Tuhan yang istimewa dengan diberikan akal budi  serta aneka potensi. Sebagaimana tertulis dengan jelas dalam Al Quran Surat Al Maidah ayat 48 Artinya : Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikannya satu ummat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu atas pemberian-Nya kepada kamu. Maka berlomba-lomba lah berbuat aneka kabajikan. Hanya kepada Allah lah kamu kembali semuanya, lalu diberitahukan–Nya lah kamu apa yang telah kamu berselisih dalam menghadapinya.

Karenanya janganlah jadikan perbedaan kepercayaan menjadi dalil bagi kita semua untuk menghakimi mana yang paling berhak atas segala ketentuan Tuhan, yang paling benar dan yang paling tahu atas keinginan Tuhan. Memakmurkan bumi adalah tugas semua manusia, semua ras, suku dan semua Agama. (*)

Riyan Betra Delza, Penulis adalah Bendahara Umum DPP IMM dan Mahasiswa Doktoral Psikologi Universitas Persada Indonesia

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Lihat Juga Tag :

Populer