MAKLUMAT – Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengonfirmasi ancaman inflasi baru yang bersumber dari pos biaya kemasan. Kenaikan harga bahan baku plastik global kini membayangi stabilitas harga komoditas pokok, terutama beras dan gula pasir di tingkat konsumen.
Deputi I Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa mengungkapkan tekanan biaya produksi pada industri plastik mulai merembet ke sektor pangan.
Berdasarkan hitungan Bapanas, kenaikan harga plastik dapat memicu kenaikan harga beras sekitar Rp 360 per kilogram, sementara harga gula berpotensi terkerek antara Rp 100 hingga Rp 190 per kilogram.
”Kenaikan bahan baku plastik yang signifikan berdampak langsung pada biaya operasional pelaku usaha pangan,” ujar Ketut di Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Ketut menjelaskan lonjakan harga minyak bumi dan gangguan rantai pasok global menjadi pemicu utama mahalnya material plastik. Ketergantungan industri pangan terhadap kemasan plastik untuk menjaga kualitas dan distribusi membuat posisi produsen terjepit.
Merespons kondisi ini, pemerintah mulai menginisiasi langkah mitigasi. Staf Khusus Menteri Pertanian, Sam Herodian menyatakan pihaknya mendorong pengalihan pola distribusi ke skema curah atau penggunaan kemasan besar untuk mengurangi beban biaya plastik pada bantuan pangan.
”Pemerintah terus menjajaki kemasan alternatif non-plastik, meskipun tantangan efisiensi dan biaya distribusi masih menjadi kendala utama di lapangan,” kata Sam.
Fenomena ini menunjukkan kerentanan ketahanan pangan nasional terhadap fluktuasi komoditas non-pangan (minyak bumi). Selama ini, intervensi pemerintah lebih fokus pada sisi hulu (produksi pertanian).
Namun, kasus “inflasi kemasan” ini membuktikan rantai hilir memiliki andil besar dalam pembentukan harga di pasar. Jika diversifikasi bahan kemasan atau skema distribusi curah tidak segera diakselerasi, biaya logistik akan terus menjadi beban permanen bagi konsumen akhir.














