MAKLUMAT – Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan menggelar Seminar Parenting: Deteksi Dini dan Optimalisasi Tumbuh Kembang pada Kamis (23/7/2026). Kegiatan itu bertujuan memperkuat pemahaman pendidik dan orang tua mengenai pentingnya deteksi dini serta optimalisasi tumbuh kembang anak melalui pola pengasuhan yang tepat dan kolaboratif.
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Karya Dharma itu merupakan bagian dari peringatan Hari Anak Nasional ke-42. Sebanyak 181 peserta mengikuti seminar. Terdiri atas pengawas, penilik, kepala sekolah, guru PAUD, SD, SMP, serta perwakilan orang tua dari 12 kecamatan di Kabupaten Pacitan.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan Khemal Pandu Pratikna, S.STP., menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Tetapi, juga memerlukan keterlibatan aktif keluarga dan dukungan seluruh pemangku kepentingan.
”Momentum Hari Anak Nasional harus menjadi pengingat bahwa investasi terbaik bagi masa depan bangsa dimulai dari perhatian terhadap tumbuh kembang anak. Sinergi antara sekolah, keluarga, dan pemerintah menjadi kunci lahirnya generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter,” ujar Khemal.
Pada sesi pertama, peserta memperoleh materi mengenai kebijakan daerah dari Bunda PAUD Kabupaten Pacitan. Pemateri menekankan komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat layanan pendidikan anak usia dini yang berkualitas, inklusif, dan ramah anak.
Materi mengenai tumbuh kembang anak disampaikan oleh dr. Septa Mariana, Sp.A., M.Biomed. Ia menjelaskan bahwa pemantauan perkembangan fisik, kognitif, bahasa, sosial, dan emosional perlu dilakukan secara berkala agar potensi maupun hambatan perkembangan anak dapat diketahui lebih awal.
”Deteksi sejak dini memungkinkan anak memperoleh pendampingan yang sesuai dengan kebutuhannya. Semakin cepat dikenali, semakin besar peluang anak berkembang secara optimal,” kata dr. Septa.
Sementara itu, dr. Roy Sugiyowantono, MM., CFP mengulas pentingnya pemenuhan nutrisi sebagai fondasi utama pertumbuhan anak. Menurutnya, pola makan bergizi seimbang harus menjadi perhatian utama keluarga dalam mendukung kesehatan dan perkembangan anak.
”Pemenuhan nutrisi yang tepat akan memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan fisik, daya tahan tubuh, hingga perkembangan kemampuan belajar anak. Orang tua perlu memahami kebutuhan gizi sesuai usia anak,” paparnya.
Materi berikutnya disampaikan Arif Kurniawan, Ftr., M.Si. Ia membahas deteksi dini gangguan perkembangan motorik serta berbagai bentuk stimulasi sederhana yang dapat diterapkan baik di rumah maupun di lingkungan sekolah.
”Stimulasi tidak harus rumit. Aktivitas sederhana yang dilakukan secara konsisten sesuai tahapan usia akan membantu anak mencapai perkembangan motorik secara optimal,” jelas Arif.
Setelah pemaparan materi, peserta mengikuti diskusi interaktif bersama para narasumber. Forum tersebut dimanfaatkan guru dan orang tua untuk berkonsultasi mengenai berbagai persoalan tumbuh kembang anak yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Pada sesi kedua, peserta memperoleh materi mengenai alur stimulasi bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) menuju kemandirian yang disampaikan oleh PAUD Plus Az-Zalfa. Materi ini menekankan pentingnya layanan pendidikan yang inklusif serta pendampingan sesuai kebutuhan masing-masing anak.
Agenda kemudian dilanjutkan dengan pemaparan profil perusahaan dan produk HDI oleh Asih Sitaresmi bersama dr. Roy Sugiyowantono sesuai jadwal kegiatan. Peserta kemudian mengikuti praktik stimulasi dini yang dipandu Arif Kurniawan hingga acara ditutup.
Dari Kecamatan Pringkuku, SMP MBS Pringkuku mengirimkan Heni Sulistyowati, S.Pd., MM sebagai peserta seminar. Kehadirannya menjadi bagian dari komitmen sekolah dalam meningkatkan kompetensi pendidik, khususnya dalam membangun kolaborasi yang lebih erat dengan orang tua.
Heni menilai materi yang disampaikan para narasumber memberikan wawasan praktis yang dapat diterapkan di lingkungan sekolah maupun dalam komunikasi dengan wali murid.
”Seminar ini mengingatkan bahwa pendidikan tidak berhenti di ruang kelas. Ketika sekolah dan keluarga memiliki pemahaman yang sama, proses tumbuh kembang anak akan lebih terarah dan optimal,” tutur Heni. (*)
Penulis: Edi Susanto













