Abdul Mu’ti: Medsos Jadi Pusat Pendidikan Keempat, Anak Perlu Didampingi

Abdul Mu'ti

MAKLUMAT — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Prof Abdul Mu’ti mengingatkan bahaya generasi muda yang kian rentan mengalami masalah kesehatan mental akibat penggunaan gawai dan media sosial yang berlebihan.

Hal itu ia sampaikan dalam Seminar Nasional Perlindungan Anak yang digelar di Auditorium K.H. Ahmad Dahlan Lantai 6, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) pada Sabtu (25/7/2026).

Seminar ini menjadi puncak peringatan Hari Anak Nasional 2026 sekaligus Gerakan Bersama Muhammadiyah Aisyiyah Peduli Anak, mengusung tema besar Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan dengan tagline, “Stop Kekerasan pada Anak, Dengarkan Suara Anak, Wujudkan Generasi Berkemajuan”.

Abdul Mu’ti mengatakan kekhawatiran ini bukan hanya dialami Indonesia. Ia mengaku sempat berdiskusi dengan menteri-menteri pendidikan dari Singapura dan Korea Selatan yang menghadapi persoalan serupa terkait generasi muda.

“Rupanya di luar dugaan saya, para menteri itu memang memiliki kondisi dan kekhawatiran yang sama terkait dengan fenomena banyaknya generasi muda ini yang mengalami masalah mental,” ujarnya.

Mengutip buku The Anxious Generation karya Jonathan Haidt, Abdul Mu’ti mengatakan sejumlah pihak pesimistis terhadap visi Indonesia Emas 2045, dengan kekhawatiran bahwa generasi yang tumbuh saat ini justru menjadi “generasi cemas”, bukan “generasi emas”.

Baca Juga  Nabi Muhammad yang Sederhana

Meski demikian, ia menyatakan optimismenya bahwa cita-cita itu tetap bisa terwujud asalkan persoalan yang dihadapi anak-anak bisa diatasi. Selain menyoroti pengaruh media sosial terhadap pola pendidikan anak, Abdul Mu’ti juga mengingatkan sejumlah dampak negatif penggunaan media sosial yang berlebihan.

Menurutnya, kebiasaan berpindah-pindah tontonan berdurasi singkat, terutama di platform seperti TikTok, membuat anak-anak dan remaja semakin sulit berkonsentrasi dalam waktu lama serta kurang terbiasa berpikir secara mendalam.

Ia juga menyoroti fenomena doomscrolling, yakni kecenderungan seseorang terus-menerus menggulir dan mengonsumsi berita atau konten bernada negatif. Menurut Abdul Mu’ti, kebiasaan tersebut secara perlahan membentuk pola pikir negatif terhadap lingkungan sekitar.

“Kalau sering menonton yang negatif, maka dia mempersepsikan dunia itu negatif seperti yang dia tonton,” ujarnya.

Abdul Mu’ti menilai penggunaan media sosial yang tidak terkendali turut menjauhkan anak dari interaksi sosial di dunia nyata. Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat menurunkan kemampuan berpikir kritis sekaligus meningkatkan kecenderungan anak untuk bersikap antisosial.

Ia mencontohkan hasil diskusi publik dalam penyusunan naskah akademik mengenai aturan penggunaan gawai, di mana pelajar SMP dan SMA mengaku kerap menghabiskan waktu pada malam hari untuk menelepon atau mengobrol melalui pesan hingga tertidur.

Baca Juga  Haedar Nashir di Wisuda Umsida: Lulusan Harus Mampu Memberi Maslahat bagi Orang Banyak

Peran Orang Tua sebagai Pendidik Pertama

Abdul Mu’ti juga menyoroti kesenjangan generasi antara orang tua dan anak yang tumbuh di era digital. Ia mengingatkan pentingnya peran ibu sebagai pendidik pertama anak, termasuk dalam pembentukan bahasa dan karakter.

“Ibu adalah pendidik pertama, karena itu anak-anak lebih banyak belajar bahasa dari ibunya,” ujarnya.

Ia turut menyinggung fenomena anak-anak yang tampak baik di rumah maupun sekolah, namun tumbuh di bawah pengaruh figur-figur di media sosial yang tidak dikenal orang tua.

Menurutnya, sejumlah kreator konten hanya mengejar jumlah pengikut dan keuntungan tanpa mempertimbangkan konsekuensi terhadap anak-anak yang menontonnya. Kondisi tersebut, menurutnya menunjukkan bahwa proses pendidikan anak juga dipengaruhi secara kuat oleh media sosial.

Berangkat dari kenyataan tersebut Abdul Mu’ti menekankan perlunya perluasan konsep tri pusat pendidikan yakni sekolah, rumah, dan masyarakat. Tiga hal ini menjadi empat pusat pendidikan dengan menambahkan media sosial sebagai pusat pendidikan keempat. Ia menegaskan keempat pusat ini harus berjalan beriringan dalam mendidik dan melindungi anak.

Dalam momentum peringatan Hari Anak Nasional, ia mengajak seluruh pihak untuk tidak hanya mendampingi anak di rumah dan tempat ibadah, tetapi juga dalam penggunaan media sosial. Ia turut mengajak orang tua untuk melatih diri menjadi pendengar yang baik bagi anak-anak.

Baca Juga  Peluncuran Buku Pendidikan Bermutu Terobosan kebijakan Abdul Mu’ti: Menyatukan Inovasi, Karakter dan Kemanusiaan

Abdul Mu’ti juga berpesan soal pentingnya mendengarkan kebutuhan dan keinginan anak, meski hal tersebut tentu tidak mudah dilakukan. “Menjadi pendengar itu lebih susah daripada menjadi pembicara,” pesannya.

 

*) Penulis: Lail Zahwa Efrilia Dwi Efendi