MAKLUMAT – Usia bukan penghalang bagi Abdul Ghofur untuk terus belajar. Di tengah kesibukannya sebagai peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), ia berhasil menuntaskan pendidikan doktor di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada usia 61 tahun 5 bulan. Ghofur pun dinobatkan sebagai wisudawan tertua dalam prosesi Wisuda ke-134 ITS.
Pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa semangat menuntut ilmu tidak harus berhenti ketika seseorang memasuki usia lanjut. Bagi Ghofur, menyelesaikan pendidikan doktor bukan sekadar meraih gelar akademik, tetapi juga bagian dari tanggung jawab untuk terus mengembangkan keilmuan di bidang teknologi kelautan.
Perjalanan menuju gelar doktor itu tidak ditempuh dalam waktu singkat. Ghofur memulai studi S3 Ilmu Kelautan di Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS pada akhir 2022, setelah puluhan tahun berkecimpung dalam dunia penelitian.
Sebelumnya, ia telah menyelesaikan pendidikan sarjana Teknik Kelautan ITS pada 1990. Setelah itu, Ghofur memulai karier di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), lembaga yang kemudian bergabung dengan BRIN pada 2021.
Di tengah perjalanan kariernya, Ghofur juga mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan magister melalui beasiswa di Newcastle University, Inggris. Pengalaman belajar di luar negeri menjadi salah satu fase penting yang membentuk kedisiplinan dan kemampuannya beradaptasi.
“Perjalanan S2 ini yang benar-benar menggembleng saya, hidup di negara orang, jauh dari keluarga, dan harus menyesuaikan diri dengan budaya belajar orang-orang di sana,” tuturnya.
Setelah kembali ke Indonesia, Ghofur melanjutkan pengabdiannya di bidang rekayasa dan teknologi kelautan. Pengalaman panjang tersebut menjadi bekal ketika ia kembali ke bangku kuliah untuk menempuh pendidikan doktoral.
Saat memulai S3 pada 2022, usianya telah menginjak 57 tahun. Meski sempat merasa tidak lagi muda, ia menjalani mandat dari salah seorang pimpinan di BRIN dengan penuh tanggung jawab.
“Syukurnya, karena bidang studi yang ditempuh tetap linier dengan pengalaman kerja saya, proses perkuliahan S3 di FTK ITS masih dapat saya jalani dengan lancar,” ungkapnya.
Bekerja dari Pagi, Menulis Disertasi Malam Hari
Kesibukan sebagai peneliti tidak membuat Ghofur meninggalkan tanggung jawab akademiknya. Setiap hari, ia bekerja di kantor sejak pagi hingga sore. Waktu malam kemudian dimanfaatkan untuk belajar dan menyelesaikan disertasi.
Pengalaman puluhan tahun di bidang teknologi kelautan memang memberinya fondasi pengetahuan yang kuat. Namun, ia tetap harus menyesuaikan diri dengan perkembangan perangkat dan metode penelitian.
Salah satu tantangannya adalah mempelajari perangkat lunak baru, yakni Ansys Fluent, untuk mendukung analisis numerik dan pengujian struktur terapung di laboratorium.
“Karena terakhir kuliah itu 20-an tahun lalu, saya jadi mempelajari perangkat lunak baru seperti Ansys Fluent untuk mendukung analisis numerik dan pengujian struktur terapung di lab,” paparnya.
Disertasi Ghofur berfokus pada pengembangan Short SPAR, struktur untuk turbin angin lepas pantai terapung yang dirancang bagi perairan dangkal.
Penelitian tersebut berangkat dari karakteristik perairan Indonesia yang banyak memiliki kedalaman sekitar 20–25 meter. Kondisi ini menjadi pertimbangan dalam mengembangkan desain struktur terapung yang sesuai dengan kebutuhan perairan dangkal.
Dalam penelitiannya, Ghofur menggabungkan kalkulasi numerik dengan pengujian hidrodinamika. Ia menggunakan model SPAR klasik yang dilengkapi heave plate dan viscous plate untuk membantu meredam gerakan struktur terapung.
Penelitian tersebut mendapat dukungan melalui fasilitas In-House Beasiswa Riset (IBR) BRIN, termasuk bantuan pendanaan pengujian dan publikasi dari promotornya.
Utamakan Etika meski Lebih Tua dari Dosen
Selain menghadapi tantangan akademik dan teknis, Ghofur juga membawa prinsip yang ia pegang selama menempuh pendidikan doktoral. Salah satunya adalah menjaga rasa hormat kepada dosen dan promotor, meskipun sejumlah pengajar berusia lebih muda darinya.
Bagi Ghofur, pendidikan tidak hanya bertujuan meningkatkan kecerdasan intelektual. Proses belajar juga harus membentuk adab, moral, dan karakter seseorang.
Ia pun mengingatkan generasi muda agar tidak mengabaikan disiplin dan kerja keras selama menjalani pendidikan.
“Sebagai mahasiswa, kita harus menjaga disiplin, tekun belajar, bekerja keras, dan menghindari kebiasaan yang memicu kemalasan,” pesannya.
Setelah meraih gelar doktor pada usia 61 tahun, Ghofur berencana kembali melanjutkan pengabdiannya sebagai peneliti di BRIN. Ia juga ingin mengembangkan riset Short SPAR serta berkontribusi dalam penelitian perlindungan pesisir Indonesia.
Kisah Ghofur menunjukkan bahwa perjalanan akademik tidak selalu harus selesai pada usia muda. Dengan pengalaman, disiplin, dan kemauan untuk terus belajar, kesempatan mengembangkan ilmu tetap terbuka sepanjang hayat.












