Hari Kebangkitan Nasional dan Pertaruhan Masa Depan Indonesia

MAKLUMAT — Berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1920 setiap tahun diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Kelahiran Boedi Oetomo dianggap sebagai penanda penting bangkitnya kesadaran politik yang kelak melahirkan kemerdekaan pada 1945. Kini, ketika dinamika sosial, politik, ekonomi dalam skup global maupun regional berubah sedemikian cepat, apa yang disebut sebagai kebangkitan tampaknya membutuhkan pemaknaan baru. Bangsa Indonesia perlu menengok kembali arah perjalanan bangsa, apakah setelah 80 tahun merdeka Indonesia benar-benar bangkit? Di mana Indonesia dalam kompetisi global yang semakin ketat?

Lebih dari satu abad lalu, para pelajar STOVIA yang dipelopori Soetomo bergerak karena kegelisahan melihat bangsanya tertindas dan tertinggal akibat kolonialisme. STOVIA sendiri secara historis menjadi cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Mereka memahami bahwa penjajahan tidak hanya merampas kekayaan alam, tetapi juga melemahkan martabat, rasa percaya diri, dan kemampuan bangsa untuk menentukan masa depannya sendiri. Karena itu, jalan yang dipilih adalah pendidikan, pembangunan kesadaran kolektif, dan perjuangan yang terorganisasi.

Para pendiri bangsa sadar betul bahwa perubahan besar lahir dari kualitas manusia dan ketekunan membangun peradaban. Gagasan itu terasa semakin relevan pada masa kini. Dunia yang bergerak sangat cepat, nyaris tidak memberi ruang bagi negara yang berjalan lambat. Konflik berlangsung dalam bentuk persaingan teknologi, ekonomi, energi, informasi, dan perebutan rantai pasok dunia.

Konflik Rusia–Ukraina mengguncang stabilitas pangan dan energi global. Ketegangan antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran memengaruhi geopolitik internasional. Rivalitas Amerika Serikat dan China melahirkan perang teknologi, perang chip, dan perebutan dominasi industri masa depan. Dalam situasi seperti itu, setiap negara berlomba memperkuat industrinya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, mempercepat penguasaan teknologi, dan menjaga daya tahan ekonomi nasional.

Baca Juga  Pedoman dan Logo Resmi Hari Kebangkitan Nasional ke-117 Tahun 2025

Indonesia menghadapi tantangan yang sama. Ancaman terbesarnya bukan hanya tekanan eksternal, melainkan melemahnya disiplin, produktivitas, daya juang, integritas, dan keberanian berpikir besar. Karena itu, pembahasan mengenai bonus demografi tidak cukup berhenti pada optimisme angka penduduk usia produktif. Sejarah menunjukkan bahwa bonus demografi tidak otomatis menghasilkan kemajuan. Keuntungan itu hanya akan menjadi kekuatan apabila ditopang manusia yang sehat, terdidik, produktif, disiplin, dan memiliki karakter kuat. Tanpa itu, bonus demografi justru dapat berubah menjadi tekanan sosial.

Indonesia juga menghadapi situasi yang paradoksal. Teknologi berkembang sangat cepat, tetapi budaya instan ikut tumbuh. Banyak orang ingin terlihat berhasil lebih cepat daripada membangun kapasitas diri secara serius. Popularitas sering lebih dihargai dibanding kualitas. Hal-hal viral lebih mudah menarik perhatian dibanding karya nyata.

Padahal bangsa besar dibangun oleh manusia-manusia yang bekerja konsisten, bertanggung jawab, dan terus meningkatkan kemampuannya. Dalam konteks itu, kebangkitan nasional hari ini sesungguhnya berkaitan dengan kebangkitan kualitas, kompetensi, etos kerja, dan karakter bangsa.

Hal yang sama berlaku dalam birokrasi. Indonesia membutuhkan aparatur negara yang tidak berhenti pada fungsi administratif, tetapi mampu bekerja secara transformatif. ASN dan pejabat publik memegang posisi penting karena kebijakan, anggaran, pelayanan publik, dan arah pembangunan berada di tangan mereka.

Masalahnya, birokrasi Indonesia masih sering dihadapkan pada lambannya pelayanan, orientasi prosedural yang berlebihan, inefisiensi, hingga penyalahgunaan kekuasaan. Padahal perubahan global bergerak jauh lebih cepat dibanding ritme birokrasi konvensional.

Membangkitan Kesadaran Baru

Indonesia tidak dapat dikelola dengan mentalitas rutinitas dan zona nyaman. Negara ini membutuhkan aparatur yang mampu bekerja keras, bekerja cerdas, bekerja tuntas, dan bekerja ikhlas. Jabatan publik pada dasarnya adalah amanah untuk mempercepat kemajuan bangsa. Dalam persaingan global, keterlambatan birokrasi dapat berarti hilangnya investasi, peluang kerja, inovasi, bahkan kesempatan pembangunan generasi berikutnya.

Baca Juga  Hari Kebangkitan Nasional: Haedar Nashir Ajak Bangkitkan Kesadaran Kolektif Jaga Persatuan, Majukan Indonesia

Orientasi kebangsaan juga menjadi tantangan dalam dunia politik. Menurunnya kepercayaan publik terhadap politik menempatkan anggota legislatif pada posisi penting untuk mengembalikan marwah politik sebagai jalan pengabdian.

Politik tidak boleh berkutat hanya pada perebutan kekuasaan, transaksi jangka pendek, atau pencitraan elektoral. Indonesia membutuhkan parlemen yang memahami perubahan zaman, mampu berpikir jangka panjang, dan berani memperjuangkan kepentingan nasional di atas kepentingan kelompok. Keputusan politik hari ini akan menentukan apakah Indonesia hanya menjadi pasar, atau mampu berkembang menjadi negara industri maju yang berdaulat.

Harapan besar berikutnya berada di tangan generasi muda. Saat ini, ribuan anak muda Indonesia belajar di berbagai perguruan tinggi, baik di dalam negeri maupun di berbagai pusat ilmu pengetahuan dunia seperti Amerika, Eropa, Jepang, China, Australia, dan Timur Tengah. Mereka adalah investasi masa depan bangsa.

Bagi mereka yang belajar di luar negeri, terutama penerima beasiswa, tanggung jawabnya tidak berhenti pada gelar akademik. Mereka diharapkan menyerap ilmu pengetahuan, memahami teknologi, mempelajari sistem terbaik dunia, lalu membawa pulang pengalaman dan solusi untuk Indonesia. Sejarah menunjukkan bahwa kebangkitan bangsa hampir selalu ditentukan oleh kualitas generasi terdidiknya. Namun ilmu pengetahuan juga memerlukan keberpihakan kepada kepentingan bangsa.

Indonesia membutuhkan generasi muda yang cerdas sekaligus memiliki keberanian untuk kembali membangun negerinya. Kemajuan bangsa lain tidak cukup dikagumi. Yang perlu dipelajari adalah disiplin, budaya kerja, integritas institusi, dan keberanian mereka menyusun visi jangka panjang.

Baca Juga  Kebangkitan Nasional 2026: Bangkit Jadi Negara Maju

Karena itu, Hari Kebangkitan Nasional tidak lagi cukup dimaknai sebagai nostalgia sejarah. Kebangkitan hari ini berkaitan dengan kualitas pendidikan, produktivitas, inovasi, moral publik, dan tanggung jawab kolektif.

Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Tetapi yang lebih dibutuhkan Indonesia adalah orang-orang yang bersedia bekerja serius untuk bangsanya. Lebih dari seratus tahun lalu, para pendiri Boedi Oetomo memulai kebangkitan nasional dari ruang kelas sederhana dengan gagasan besar tentang Indonesia yang bermartabat. Perjuangan itu belum selesai.

Bila generasi Boedi Oetomo mencanangkan kemerdekaan dari penjajahan fisik sebagai tujuan, generasi masa kini semestinya berani membidik kemerdekaan ekonomi, keunggulan  dalam ilmu pengetahuan, kedaulatan energi dan teknologi, serta keadilan dalam kesejahteraan sebagai visi yang harus dicapai.

Semua itu tidak akan tercapai apabila bangsa ini hanya berbicara tentang perubahan tanpa kesediaan untuk bekerja mewujudkannya. Sejarah pada akhirnya tidak mencatat siapa yang paling banyak berbicara tentang cinta tanah air, melainkan siapa yang benar-benar bekerja untuk memastikan bangsanya mampu maju menghadapi perubahan zaman.

Jika para pendiri bangsa dahulu membangkitkan Indonesia dengan kesadaran dan pendidikan, maka generasi hari ini harus melanjutkannya dengan produktivitas, integritas, ilmu pengetahuan, dan keberanian membangun negeri. Sebab sejarah tidak diwariskan kepada bangsa yang paling nyaman, melainkan kepada bangsa yang paling siap berjuang. (*)

*) Wakil Sekretaris Jenderal PP IKA ITS 2024–2028 , Sekretaris Dewan Pakar IKA ITS PW Jakarta Raya 2023–2027 , Co-Founder Centre for Energy and Innovation Technology Studies (CENITS)