MAKLUMAT — Badan Pangan Nasional bersama Perum Bulog resmi memperpanjang program bantuan pangan (banpang) hingga Juni 2026 sebagai instrumen utama, untuk mengintervensi pasar dan menjaga stabilitas harga minyak goreng di tingkat konsumen.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa menegaskan bahwa percepatan distribusi ini sangat mendesak. Langkah strategis ini diambil guna mempercepat penderasan pasokan Minyakita, sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap pangan murah.
“Kami sudah menginstruksikan Bulog untuk segera mengeksekusi bantuan pangan posisi Mei sampai Juni karena realisasi saat ini baru menyentuh kisaran 34 persen,” ujar Ketut di Jakarta dikutip, Senin (25/5/2026).
Melalui program ini, lanjut Ketut, pemerintah menggelontorkan sekitar 132,9 ribu kiloliter Minyakita kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Hingga 20 Mei 2026, Bapanas mencatat penyaluran baru mencapai 46,2 ribu kiloliter untuk 11,5 juta KPM.
Artinya, Bulog harus memacu sisa pagu salur sebesar 86,8 ribu kiloliter hingga pertengahan tahun ini. Setiap keluarga menerima alokasi 4 liter, yang otomatis memotong rantai permintaan di pasar umum.
Kolaborasi Amankan Pasokan Ibu Kota
Meskipun data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tren penurunan harga Minyakita pada pekan kedua Mei, grafik harian di lapangan masih bertengger sedikit di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 15.700 per liter.
Untuk menekan angka tersebut, Bapanas menggandeng Kementerian Perdagangan (Kemendag) guna memperketat pengawasan Domestic Market Obligation (DMO) dari 10 produsen utama.
Pasokan wajib ini akan langsung dialihkan ke Bulog, menyasar wilayah krusial seperti DKI Jakarta dan Banten, tanpa melalui distributor lini bawah (D1) lainnya. Langkah ini mendapat dukungan penuh dari Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Kemendag, Nawandaru Dwi Putra.
Ketut mengingatkan agar penyaluran banpang dan pasokan rutin ke pasar rakyat berjalan beriringan secara proporsional. Konsistensi pasokan ganda ini menjadi kunci utama agar tidak terjadi fluktuasi harga yang ekstrem di masyarakat.
Menakar Efektivitas “Suntikan” Juni
Keputusan memperpanjang bantuan pangan hingga Juni 2026 menunjukkan kekhawatiran pemerintah terhadap potensi lonjakan harga pangan di tengah tahun. Minyakita, yang sejatinya adalah kontribusi DMO pengusaha sawit (bukan subsidi APBN), memegang peran krusial sebagai jangkar harga minyak goreng domestik.
Namun, tantangan terbesar berada pada pundak Bulog. Dengan sisa kuota distribusi sebesar 86,8 ribu kiloliter yang harus habis dalam waktu sekitar satu bulan, intervensi ini membutuhkan percepatan logistik yang masif.
Jika distribusi serentak ini berhasil dieksekusi sepanjang Mei-Juni, serbuan stok ke tangan 11,5 juta KPM diproyeksikan efektif melonggarkan tekanan pasar, memaksa harga retail turun di bawah atau setidaknya setara HET Rp 15.700.
Sebaliknya, jika birokrasi penyaluran melambat, pasar rakyat tetap rentan mengalami kelangkaan musiman.














