MAKLUMAT — Era Society 5.0 menuntut produktivitas yang semakin tinggi dan arus informasi digital yang bergerak sangat cepat. Dalam kondisi tersebut, keluarga modern, khususnya generasi muda, kerap terjebak dalam fenomena yang dikenal sebagai jam koma. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kondisi kelelahan mental (cognitive fatigue) yang menyebabkan seseorang mudah kehilangan fokus, menurunnya kemampuan mengingat, serta berkurangnya kepekaan sosial.
Kondisi tersebut terjadi ketika seseorang menerima stimulus digital secara berlebihan atau bekerja melebihi kapasitas optimal otaknya dalam memproses informasi. Menurut dr. Dyah Novita Anggraini, jam koma merujuk pada periode ketika tubuh secara alami mengalami penurunan energi dan tingkat kewaspadaan, umumnya setelah tengah hari. Fenomena ini menjadi perhatian serius, terutama bagi remaja yang masih berada dalam tahap perkembangan fisik, psikologis, dan sosial.
Dalam perspektif sosiologi dan psikologi, fenomena jam koma merupakan sinyal bahwa mekanisme kognitif seseorang mengalami kelelahan akibat beban informasi yang berlebihan. Oleh karena itu, memahami fenomena ini menjadi sangat penting, terutama bagi orang tua, agar mampu mengenali batas kapasitas mental anak dalam beradaptasi dengan lingkungan digital yang semakin kompleks.
Di tengah riuhnya dunia digital, rumah seharusnya menjadi tempat pertama bagi anak untuk melepaskan penat dan memperoleh rasa aman. Dalam kajian sosiologi, salah satu fungsi utama keluarga adalah memberikan dukungan emosional dan perlindungan psikologis. Namun, dinamika kehidupan modern menuntut perubahan pola pengasuhan. Orang tua tidak lagi cukup hanya melarang atau mengatur anak dengan pendekatan yang kaku dan otoriter.
Pola asuh yang terlalu otoriter maupun terlalu permisif sering kali membuat anak merasa sendirian dalam menghadapi derasnya arus informasi. Saat ini, pendekatan pengasuhan yang paling dibutuhkan adalah kehadiran yang penuh empati. Orang tua perlu belajar berjalan beriringan dengan anak, menjadi pendengar yang baik, serta bersama-sama membangun batasan penggunaan teknologi yang sehat. Bukan dengan memusuhi teknologi, melainkan dengan mendampingi anak agar mampu mengenali kapan mereka perlu berhenti dan beristirahat ketika otak mulai mengalami kelelahan.
Fenomena ini mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Bayangkan seorang remaja atau mahasiswa yang energinya terkuras oleh tugas akademik, tuntutan masa depan, dan paparan informasi digital yang tidak pernah berhenti. Ketika pulang ke rumah, mereka sering kali tampak hadir secara fisik, tetapi tidak secara mental. Mereka duduk di meja makan sambil menatap layar ponsel tanpa fokus, atau kesulitan merespons percakapan sederhana dengan anggota keluarga.
Digital Detok
Tidak sedikit dari mereka yang menjadikan doom scrolling—kebiasaan mengonsumsi konten media sosial secara terus-menerus hingga larut malam—sebagai pelarian dari stres. Sayangnya, kebiasaan tersebut justru membuat otak semakin lelah. Akibatnya, keesokan hari mereka mengalami kondisi jam koma yang lebih berat, seperti mudah marah, sulit berkonsentrasi, serta perlahan menarik diri dari interaksi keluarga karena merasa tidak dipahami.
Upaya menyelamatkan generasi muda dari lingkaran kelelahan mental ini perlu dimulai dari lingkungan keluarga. Kebiasaan-kebiasaan sederhana yang memperkuat hubungan antarmanusia perlu dihidupkan kembali. Digital detox tidak harus dipahami sebagai hukuman, melainkan dapat menjadi momen kebersamaan keluarga. Misalnya, dengan menerapkan aturan tanpa gawai saat makan bersama atau ketika berbincang menjelang tidur.
Aktivitas Fisik
Selain itu, orang tua dapat mengajak anak melakukan aktivitas fisik yang menenangkan, seperti memasak bersama, menyiram tanaman, berolahraga ringan, atau berjalan santai tanpa membawa ponsel. Ruang dialog yang hangat, terbuka, dan bebas dari penghakiman akan membantu memulihkan fokus, keseimbangan emosi, serta kepekaan sosial anak yang sempat menurun akibat kelelahan mental. Dengan demikian, otak memperoleh kesempatan untuk beristirahat dan memulihkan energinya secara optimal.
Jam koma bukan sekadar istilah populer atau tanda bahwa generasi muda saat ini lemah. Fenomena ini merupakan sinyal bahwa otak manusia memiliki batas dalam menerima dan mengolah informasi. Di tengah dunia digital yang bergerak begitu cepat, peran keluarga menjadi sangat penting sebagai benteng utama kesehatan mental anak.
Keseimbangan Mental dan Emosional
Keberhasilan generasi muda dalam menghadapi era Society 5.0 tidak hanya diukur dari kemampuan mereka memanfaatkan teknologi, tetapi juga dari kemampuan menjaga keseimbangan mental dan emosional. Melalui pola asuh yang penuh kasih, perhatian yang tulus, serta kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, keluarga dapat membantu anak keluar dari jebakan jam koma. Dengan demikian, mereka dapat tumbuh bukan hanya sebagai individu yang produktif, tetapi juga sebagai manusia yang sehat, bahagia, dan utuh.
*) Program Studi Kesejahteraan Sosial, Universitas Muhammadiyah Malang.***













