Jangan Remehkan Burnout! Begini Tanda-tanda dan Bahayanya

Waspada burnout, ancaman diam-diam bagi kesehatan mental dan fisik. (Ilustrasi diolah menggunakan SORA)

MAKLUMAT — Spesialis kedokteran jiwa dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr Rr Tesaviani Kusumastiwi SpKJ, menyoroti bahaya burnout, yang menurutnya kerap terabaikan oleh masyarakat lantaran hanya dianggap sebagai kelelahan biasa.

Menurut Tesaviani, burnout kerap disalahartikan sebagai kelelahan biasa yang dapat hilang dengan istirahat. Padahal, kondisi tersebut merupakan masalah serius yang berpotensi mengancam kualitas hidup seseorang, baik secara fisik maupun psikis.

Ia menjelaskan, kelelahan dan burnout memiliki perbedaan mendasar yang kerap luput dari masyarakat. Burnout, kata dia, merupakan stres jangka panjang.

“Kalau kelelahan itu stresnya bersifat sementara dan bisa membaik dengan istirahat. Sementara burnout merupakan stres jangka panjang. Meskipun sudah beristirahat, tubuh tetap merasa lelah,” jelasnya, dikutip dari laman resmi UMY pada Senin (26/1/2026).

Selain dari durasi stres, Tesaviani juga menyebut perbedaan antara kelelahan dan burnout adalah pada tingkat risiko. Ia menjelaskan, kelelahan umumnya tidak menimbulkan dampak kesehatan serius, sedangkan burnout berpotensi memicu berbagai gangguan fisik maupun psikis seperti gangguan lambung seperti GERD, nyeri kepala, gangguan kecemasan, hingga depresi.

Tanda-tanda Burnout

Lebih lanjut, Tesaviani menerangkan tanda-tanda awal burnout, yang menurutnya sering kali tidak disadari karena individu cenderung menyangkal kondisi psikis yang dialaminya. Namun, tubuh justru memberikan sinyal melalui berbagai keluhan fisik.

Baca Juga  IPM Jatim Optimis Sukadiono Mampu Hadirkan Perubahan Positif di Sektor Kesehatan

“Bangun tidur tetapi masih merasa lelah, cepat capek meskipun melakukan aktivitas ringan, nyeri kepala atau otot, gangguan pencernaan, hingga gangguan hormonal seperti menstruasi yang tidak teratur, itu bisa menjadi tanda awal burnout,” papar dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UMY itu.

Kemudian, dari sisi psikis, burnout ditandai dengan mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi, mudah lupa, serta gangguan tidur. Menurut Tesaviani, kondisi tersebut banyak dialami oleh mahasiswa maupun pekerja dengan tuntutan akademik dan beban kerja yang tinggi.

Ia menegaskan, tidur memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental. Ancaman burnout dapat mengganggu keseimbangan kimia dalam tubuh yang berdampak langsung pada kualitas tidur, sehingga tubuh gagal melakukan proses pemulihan secara optimal.

Langkah Pencegahan

Sebagai langkah pencegahan, Tesaviani menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas dan waktu istirahat, serta antara tuntutan eksternal dan penghargaan terhadap diri sendiri.

“Jika upaya menyeimbangkan aktivitas dan istirahat sudah dilakukan tetapi burnout masih dirasakan, jangan ragu untuk mengomunikasikannya kepada profesional, baik psikolog maupun psikiater,” katanya.

“Agar sumber burnout dapat dikenali dan ditangani secara tepat,” tandas Tesaviani.