Jepang dan Piala Dunia 2026: Merangkai Mimpi Besar dengan Disiplin dan Kerja Keras

Sejumlah pemain Timnas Jepang dalam laga persahabatan menuju Piala Dunia 2026. (Foto: JFA)

MAKLUMAT — Ketika berbicara Piala Dunia, sulit untuk tidak menempatkan Jepang sebagai kekuatan utama sepak bola Asia saat ini. Dalam tiga dekade terakhir, tidak ada negara Asia yang menunjukkan perkembangan sepak bola secepat, sekonsisten, dan seberkelanjutan seperti Negeri Sakura. Mereka bukan lagi sekadar wakil Asia yang berharap menciptakan kejutan, melainkan tim yang secara rutin mampu bersaing dengan kekuatan-kekuatan besar dunia.

Menjelang Piala Dunia 2026, Jepang kembali menjadi salah satu perwakilan Asia yang paling diperhitungkan. Mereka lolos dengan relatif nyaman, memiliki skuad yang dipenuhi pemain dari liga-liga elite Eropa, dan datang dengan ambisi yang lebih besar daripada sekadar lolos dari fase grup. Target yang mereka gaungkan bahkan jauh lebih tinggi: mencapai perempat final, bahkan menembus semifinal dan juara.

Bagi sebagian orang, ambisi tersebut mungkin terdengar berlebihan. Namun jika melihat perjalanan Jepang dalam pengembangan ekosistem sepak bola selama tiga puluh tahun terakhir, sesungguhnya tidak ada yang mustahil.

Transformasi Menjadi Kekuatan Utama Asia

Generasi muda saat ini mungkin sulit membayangkan bahwa Jepang pernah menjadi negara yang tidak memiliki tradisi sepak bola yang kuat.

Sebelum era 1990-an, Jepang lebih dikenal sebagai negara baseball daripada sepak bola. Mereka baru pertama kali tampil di Piala Dunia pada 1998. Namun sejak saat itu, Jepang hampir tidak pernah absen dari putaran final.

Lebih dari itu, mereka berhasil membangun fondasi yang kokoh melalui liga profesional yang sehat, sistem pembinaan usia muda yang terstruktur, investasi pada pelatih berkualitas, serta keberanian mengirim pemain-pemain muda ke Eropa.

Hasilnya kini terlihat jelas. Jepang tidak lagi bergantung pada satu generasi emas. Ketika satu generasi berakhir, generasi berikutnya muncul dengan kualitas yang sama, bahkan sering lebih baik. Inilah yang membedakan Jepang dari banyak negara lain di Asia.

Mereka tidak membangun kesuksesan berdasarkan individu, melainkan ekosistem yang sistematis dan visi yang jelas.

Eksodus Talenta Muda ke Eropa

Piala Dunia 2026 kemungkinan menjadi edisi dengan kualitas skuad Jepang terbaik sepanjang sejarah. Di setiap lini, Jepang dipenuhi pemain-pemain yang tampil reguler di kompetisi elite Eropa.

Baca Juga  Jepang Lumat Indonesia 6-0 di Laga Terakhir Kualifikasi Piala Dunia

Takefusa Kubo menjadi salah satu pemain paling kreatif yang dimiliki Asia saat ini. Kaoru Mitoma dikenal sebagai pemain sayap yang mampu merepotkan pertahanan mana pun. Wataru Endo menjadi pemimpin di lini tengah, sementara pemain-pemain seperti Ritsu Doan, Daichi Kamada, Hiroki Ito, dan Takehiro Tomiyasu menambah kedalaman yang luar biasa.

Bahkan di posisi yang dulu sering dianggap sebagai kelemahan tim Asia, Jepang kini memiliki kualitas yang mampu bersaing dengan negara-negara Eropa.

Yang lebih mengesankan, para pemain tersebut bukan sekadar pelengkap di klub masing-masing. Banyak dari mereka menjadi pemain inti dan terbiasa menghadapi tekanan pertandingan level tertinggi setiap pekan.

Karena itu, ketika Jepang menghadapi Brasil, Jerman, Spanyol, Prancis, atau Inggris, mereka tidak lagi merasa inferior. Para punggawa Samurai Biru sudah terbiasa menghadapi lawan-lawan itu setiap pekan di level klub.

Karakter Bangsa: Tanggung Jawab, Disiplin, Kerja Keras

Jika ada satu kata yang paling tepat menggambarkan Jepang, itu adalah konsistensi. Mereka mungkin belum pernah mencapai semifinal Piala Dunia. Namun mereka hampir selalu tampil kompetitif.

Dalam beberapa edisi terakhir, Jepang berhasil mengalahkan tim-tim besar unggulan seperti Jerman dan Spanyol, atau terbaru mengalahkan Brasil dalam laga persahabatan. Jepang juga sudah berkali-kali lolos dari fase grup. Bahkan ketika tersingkir, mereka melakukannya dengan cara yang terhormat dan memberikan perlawanan yang sengit.

Ingatan pada babak 16 besar Piala Dunia 2018 di Rusia, saat Jepang bertemu generasi emas Belgia yang masih diperkuat Eden Hazard, Vincent Kompany, Kevin De Bruyne, Dries Mertens hingga Romelu Lukaku tentu sangat membekas. Kala itu, Yuto Nagatomo dkk yang sempat unggul 0-2 terkena comeback secara dramatis sehingga harus mengakui keunggulan Belgia 3-2.

Perjuangan besar dan perlawanan alot juga diberikan Jepang ketika bertemu Kroasia yang digawangi Luka Modric dkk pada 16 besar Piala Dunia 2022 di Qatar. Samurai Biru bahkan memaksa Kroasia—yang merupakan runner-up edisi 2018—bermain hingga babak adu penalti usai skor berakhir sama kuat 1-1.

Tidak banyak negara yang mampu mempertahankan standar tinggi seperti itu selama puluhan tahun. Konsistensi ini bukan lahir dari bakat semata. Ia lahir dari budaya yang tertanam kuat dalam masyarakat Jepang: tanggung jawab, disiplin, dan kerja keras.

Baca Juga  Terungkap Keris Kurang Diminati Masyarakat, Ini Penjelasan Budayawan

Jepang dikenal sebagai salah satu bangsa paling disiplin di dunia. Mereka juga bangsa yang dikenal sangat tekun dan bersungguh-sungguh, pekerja keras yang ulet. Dalam budaya Jepang, tanggung jawab terhadap tugas dan kewajiban juga memiliki posisi yang sangat tinggi.

Tak cuma itu, salah satu hal yang paling sering dipuji dunia dari Jepang adalah sikap rendah hati mereka, baik saat menang maupun kalah. Tak cuma para pemain dan official, bahkan para suporter Negeri Sakura pun banyak menuai pujian dalam berbagai event internasional atas sikap dan tindakannya yang terpuji.

Dunia sepak bola masih mengingat berbagai tindakan para pemain dan suporter Jepang yang menjadi simbol karakter bangsa mereka. Mulai dari kebiasaan membersihkan ruang ganti setelah pertandingan, memungut sampah di stadion, hingga menunjukkan rasa hormat kepada lawan dan penyelenggara.

Tindakan-tindakan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung pesan yang sangat kuat. Sepak bola bukan hanya tentang menang dan kalah. Karakter juga merupakan bagian dari kemenangan.

Mimpi Besar di Panggung Dunia

Kini Jepang berada pada tahap yang berbeda dalam perjalanan sepak bolanya. Jika pada masa lalu target mereka hanyalah lolos ke Piala Dunia, kini mereka ingin berbicara lebih jauh di hajat akbar sepak bola dunia empat tahunan itu. Untuk pertama kalinya menembus 8 besar, semifinal, atau bahkan bermimpi menjadi juara dunia.

Sebagian orang mungkin menganggapnya terlalu ambisius. Namun itu bukanlah angan kosong, Jepang yang ditukangi oleh pelatih domestik Hajime Moriyasu telah mempersiapkan segalanya. Terlebih, dengan format 48 tim dalam 12 grup akan membuat sistem gugur berjalan lebih panjang—mulai 32 besar, edisi-edisi sebelumnya mulai 16 besar.

Tidak ada yang menyangka Kroasia bisa mencapai final pada 2018 dan semifinal 2022. Tidak ada yang menduga Maroko mampu menembus semifinal Piala Dunia 2022. Tidak banyak yang percaya Korea Selatan dan dapat mencapai empat besar pada 2002.

Jepang memahami bahwa untuk menjadi besar, mereka harus berani bermimpi besar.

Baca Juga  Swiss Vs Kolombia: Menang Adu Penalti, Ruben Vargas Dkk Tantang Argentina di Perempat Final Piala Dunia 2026

Piala Dunia 2026 akan menjadi ujian berikutnya bagi Jepang. Mereka memiliki pemain-pemain berkualitas, sistem pembinaan yang matang, dan pengalaman internasional yang melimpah.

Namun di atas semua itu, mereka memiliki sesuatu yang lebih penting: budaya. Budaya disiplin, budaya belajar, budaya menghormati proses, dan budaya untuk terus memperbaiki diri tanpa pernah merasa puas.

Ketika Jepang melangkah ke Piala Dunia 2026, mereka tidak hanya membawa harapan untuk Asia. Mereka juga membawa sebuah pesan universal: bahwa disiplin, kerja keras, tanggung jawab, kerendahan hati, dan penghormatan terhadap sesama adalah fondasi yang dapat mengantarkan siapa pun menuju keberhasilan.

Skuad Jepang di Piala Dunia 2026

Pelatih Hajime Moriyasu telah resmi memanggil dan mengumumkan 26 pemain yang bakal mengisi skuad Timnas Jepang untuk berlaga di putaran final Piala Dunia 2026. Seperti dikatakan sebelumnya, skuad Samurai Biru berisi para pemain yang bermain di klub-klub Eropa, baik di Liga Jerman, Liga Belanda, Liga Belgia, Liga Italia, hingga Liga Spanyol.

Meskipun begitu, Hajime Moriyasu juga tidak meninggalkan pemain-pemain terbaik yang berkompetisi di liga domestik. Seperti diketahui, Liga Jepang (J-League) merupakan salah satu liga domestik terbaik dan paling kompetitif di Asia.

Sosok-sosok senior juga masih dipanggil, seperti eks pemain Inter Milan Yuto Nagatomo (39), pemain Liverpool Wataru Endo (33), hingga pemain KRC Genk Junya Ito (33), yang diharapkan mampu membimbing, memotivasi, sekaligus menjadi mentor bagi pemain-pemain muda.

Kiper:

  • Zion Suzuki (AC Parma/Italia)
  • Keisuke Osako (Sanfrecce Hiroshima/Jepang)
  • Tomoki Hayakawa (Kashima Antlers/Jepang)

Belakang:

  • Yukinari Sugawara (Southampton/Inggris)
  • Shōgo Taniguchi (STVV/Belgia)
  • Kou Itakura (Ajax/Belanda)
  • Yūto Nagatomo (FC Tokyo/Jepang)
  • Tsuyoshi Watanabe (Feyenoord/Belanda)
  • Ayumu Seko (Le Havre/Prancis)
  • Hiroki Ito (Bayern Muenchen/Jerman)
  • Takehiro Tomiyasu (Ajax/Belanda)
  • Junnosuke Suzuki (Copenhagen/Denmark)

Tengah:

  • Wataru Endo (Liverpool/Inggris)
  • Ritsu Doan (Eintracht Frankfurt/Jerman)
  • Keito Nakamura (Reims/Prancis)
  • Junya Ito (KRC Genk/Belgia)
  • Daichi Kamada (Crystal Palace/Inggris)
  • Ao Tanaka (Leeds United/Inggris)
  • Yuito Suzuki (Freiburg/Jerman)
  • Takefusa Kubo (Real Sociedad/Spanyol)
  • Kaishu Sano (Mainz/Jerman)

Depan:

  • Daizen Maeda (Celtic/Skotlandia)
  • Ayase Ueda (Feyenoord/Belanda)
  • Koki Ogawa (NEC Nijmegen/Belanda)
  • Kento Shiogai (NEC Nijmegen/Belanda)
  • Keisuke Goto (RSC Anderlecht/Belgia)

Pelatih: Hajime Moriyasu (Jepang)