Jual Beli Beramal Itu Asyik, Upaya Mudipat Tanamkan Empati Sejak Dini

Kepala SD Muhammadiyah 4 Surabaya, Edy Susanto (kiri). (Foto: Qois/ IST)

MAKLUMAT — SD Muhammadiyah 4 (Mudipat) Surabaya menggelar program sekolah sirkular melalui gerakan donasi barang bekas layak pakai yang dikemas dalam kegiatan JURASIK, Selasa (3/3/2026).

Kepala SD Mudipat Surabaya, Edy Susanto, menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari implementasi sekolah sirkular dengan prinsip 5R, khususnya reuse atau penggunaan kembali barang yang masih layak.

“Tidak semua yang kita pakai harus baru. Barang lama yang masih layak bisa dimanfaatkan kembali dan tetap bermanfaat,” ujarnya kepada Maklumat.id.

Ia menjelaskan bahwa barang-barang tersebut merupakan sedekah dari para wali murid yang kemudian dikumpulkan panitia dan dijual kepada internal sekolah, mulai dari guru, karyawan, sopir antar-jemput, hingga wali murid.

Dari kegiatan yang berlangsung selama tiga hari itu, panitia berhasil menghimpun dana sekitar Rp10 juta. Dana tersebut rencananya akan dibelikan sembako atau parsel untuk masyarakat sekitar yang membutuhkan.

“Ada tukang becak, penjual kecil, dan warga dengan kondisi ekonomi di bawah yang akan kita bantu. Ini bukan unsur bisnis, tetapi dari sedekah kita sedekahkan lagi,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana kegiatan dari Ikatan Wali Murid Muhammadiyah (IKWAM) Mudipat, Astrid, menjelaskan bahwa program bertajuk JURASIK tersebut merupakan akronim dari “Jual Beli Beramal Itu Asyik”.

Baca Juga  8 Siswa Mudipat Surabaya Raih Nilai Sempurna TKA 2026

“Kegiatan ini kami kemas agar menarik dan mudah diingat. Intinya adalah declutter, yaitu mengajak warga sekolah mengambil barang layak pakai dari rumah untuk disumbangkan agar bisa dimanfaatkan kembali,” jelasnya.

Ia menambahkan, kegiatan ini baru memasuki tahun kedua pelaksanaan dan menjadi bagian dari gerakan sosial berbasis go green yang diusung IKWAM.

“Di bidang sosial kami mendorong konsep reduce, reuse, recycle, ditambah rethink sebelum membeli barang baru. Barang di sini rata-rata masih 80 sampai 100 persen kelayakannya, sehingga masih sangat bermanfaat,” jelas dia.

Astrid menegaskan, hasil penjualan barang tersebut akan dikembalikan lagi kepada masyarakat dalam bentuk bantuan sosial.

“Final goal-nya adalah untuk membeli sembako dan membantu yang membutuhkan. Barang yang dianggap tidak berharga justru bisa kita manfaatkan untuk kebaikan,” tandasnya.

Selain program JURASIK, Mudipat juga menggalang donasi Parsel Duafa yang rencananya dibagikan pada 13 Maret 2026 mendatang, dengan melibatkan siswa sebagai bagian dari pendidikan filantropi sejak dini.

Selanjutnya, pada 14 Maret 2026 sekolah akan menyalurkan zakat yang dihimpun dari 1.451 siswa, guru, dan karyawan.