Muhadjir Effendy: Tauhid Harus Hadir dalam Kerja Nyata Membebaskan Umat

Ketua PP Muhammadiyah Muhadjir Effendy menyampaikan materi dalam pengajian Ramadan PP Muhammadiyah di UMY, Ahad (22/2/2026). (Foto: Dok Panitia)

MAKLUMAT — Ketua PP Muhammadiyah, Prof Dr Muhadjir Effendy MAP, menegaskan bahwa tauhid tidak boleh berhenti pada keyakinan teologis semata, tetapi harus diwujudkan dalam kerja nyata yang membebaskan manusia dari kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan sosial.

Hal itu ia disampaikan dalam Pengajian Ramadan 1447 Hijriah yang digelar di Student Dormitory Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ahad (22/2/2026).

Dalam paparannya, Muhadjir menjelaskan bahwa “tauhid murni” mencakup dua dimensi utama, yakni tauhid uluhiyah dan tauhid rububiyah.

Tauhid uluhiyah berarti hanya Allah yang berhak disembah, sedangkan tauhid rububiyah merupakan pengakuan bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta dan pengatur alam semesta. Tauhid menjadi murni apabila terbebas dari praktik tahayul, khurafat, dan bid’ah.

Menurutnya, konsekuensi logis dari tauhid adalah perubahan sikap hidup. Seorang muslim bukan sekadar beriman di dalam hati, melainkan harus menghadirkan nilai keesaan Tuhan dalam pengelolaan kehidupan sosial, ekonomi, dan pendidikan. Tauhid, kata Muhadjir, melahirkan kesadaran manusia sebagai hamba Allah sekaligus khalifah di bumi.

Muhammadiyah, lanjutnya, menjadikan tauhid sebagai landasan gerakan dakwah dan tajdid (pembaruan). Prinsip amar makruf nahi munkar diterjemahkan tidak hanya sebagai dakwah lisan, tetapi juga sebagai upaya memberantas “kemunkaran sosial” seperti kebodohan dan kemiskinan.

Baca Juga  Khotbah Bachtiar Guncang Taiwan: Pulanglah, Bangun Negerimu!

Implementasi tauhid juga dilakukan melalui Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Pada bidang pendidikan, gerakan Muhammadiyah berawal dari pengajian kemudian mendirikan sekolah modern yang mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum. Kini, ribuan lembaga pendidikan dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi Muhammadiyah tersebar di seluruh Indonesia. Tujuannya adalah mencetak generasi berilmu, berakhlak, serta menghilangkan dikotomi antara ilmu agama dan ilmu dunia.

Pada sektor kesehatan, Muhammadiyah mengembangkan pelayanan sosial sejak berdirinya Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) tahun 1918. Saat ini jaringan rumah sakit, klinik, dan balai kesehatan Muhammadiyah melayani masyarakat tanpa diskriminasi status sosial maupun ekonomi. Menolong orang sakit dipandang sebagai bentuk ibadah sosial, bagian dari pengabdian kepada Allah.

Sementara pada bidang ekonomi dan sosial, Muhammadiyah mendirikan Baitul Maal wat Tamwil, koperasi, serta lembaga keuangan mikro syariah dan mengelola Lazismu untuk penyaluran zakat, infak, dan sedekah secara tepat sasaran. Program tersebut juga meliputi panti asuhan, pemberdayaan kaum dhuafa, serta layanan disabilitas dengan tujuan mewujudkan keadilan sosial dan kemandirian umat.

Muhadjir menekankan bahwa seluruh Amal Usaha Muhammadiyah dijalankan secara profesional dan sistemik, tetapi tetap berlandaskan keikhlasan. Organisasi, menurutnya, hanyalah alat untuk memakmurkan bumi sebagai amanah Tuhan.

Baca Juga  Haedar Nashir: Tidak Boleh Ada Dikotomi Pemimpin Nasionalis dan Agamis dalam Pemilu 2024

Dalam kesempatan itu, pria yang juga pernah menjabat Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut mengajak umat Islam, khususnya warga Persyarikatan, untuk membaca realitas sosial, bergerak secara terorganisasi, dan membangun peradaban melalui pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.