Mendikdasmen Abdul Mu’ti di Kota Blitar: Muhammadiyah Harus Menjadi Cahaya dan Pemberi Solusi bagi Bangsa

Mendikdasmen Abdul Mu'ti

MAKLUMAT – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) sekaligus Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, mengajak seluruh warga Muhammadiyah tampil sebagai cahaya yang menghadirkan solusi di tengah berbagai persoalan bangsa, bukan sekadar meratapi keadaan.

Menurut Abdul Mu’ti, tantangan zaman, termasuk hadirnya kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan fenomena scroll society, menuntut lahirnya lebih banyak pribadi Ulul Albab, yakni orang-orang berilmu yang mampu menyelesaikan persoalan di tengah masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Abdul Mu’ti saat memberikan tausiah dalam Tabligh Akbar yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Blitar, Ahad (12/7/2026) malam.

Tabligh Akbar tersebut dihadiri Bendahara Umum PWM Jawa Timur drh. Zainul Muslimin, Wakil Ketua PWM Jawa Timur Hidayaturrahman, Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin, Ketua DPRD Kota Blitar dr. Syahrul Alim, serta para Ketua PDM se-Eks Karesidenan Kediri.

“Kita hidup di zaman Artificial Intelligence (AI). Kita hidup di tengah scroll society, masyarakat yang kerjanya hanya scroll. Yang kita perlukan sekarang adalah Ulul Albab, yaitu orang yang dengan ilmu yang dimilikinya mampu menyelesaikan banyak masalah,” kata Abdul Mu’ti.

Ia mengajak warga Muhammadiyah tidak larut dalam pesimisme, melainkan menjadi penerang bagi masyarakat.

“Mari bersama-sama menjadi terang, menjadi cahaya di tengah-tengah gulita. Jangan hanya meratapi kegelapan. Ada orang yang justru senang dengan kegelapan karena mengambil keuntungan dari situasi itu.”

Menurut Abdul Mu’ti, cahaya membuat manusia mampu melihat jalan yang benar. Karena itu, ilmu pengetahuan harus menjadi penerang yang membimbing masyarakat keluar dari berbagai persoalan.

Baca Juga  M-ID, Inovasi Digital Muhammadiyah: Satu Akun untuk Semua Layanan

Ulul Albab Hadir Membawa Solusi

Dalam tausiahnya, Abdul Mu’ti mengaitkan pesan tersebut dengan kandungan Surah Ali Imran ayat 190–191 tentang karakter Ulul Albab. Menurutnya, seseorang akan menjadi pribadi unggul apabila senantiasa mengingat Allah, memiliki ilmu, berpandangan luas, dan mampu melakukan refleksi terhadap setiap tindakan.

“Seseorang akan menjadi hebat apabila menjadi Ulul Albab. Orang yang senantiasa mengingat Allah, baik ketika berdiri, duduk maupun berbaring. Dalam kondisi apa pun harus selalu ingat kepada Allah.”

Ia menjelaskan, istilah Ulul Albab disebut sebanyak 16 kali dalam Al-Qur’an dan memiliki kedekatan makna dengan Ulul Ilmi (orang berilmu), Ulul Abshar (berpandangan visioner), serta Ulun Nuha (memiliki akal sehat dan kebijaksanaan).

Menurut Abdul Mu’ti, zikir bukan hanya mengingat Allah dengan lisan, tetapi juga melakukan refleksi dan muhasabah agar setiap keputusan yang diambil membawa kemaslahatan.

“Berzikir artinya juga berpikir reflektif, melakukan muhasabah terhadap apa yang kita lakukan. Orang-orang yang disebut Ulul Albab bukan orang yang jauh dari Allah, tetapi mereka yang selalu dekat dengan Allah SWT.”

Muhammadiyah Harus Menjadi Jalan Keluar

Abdul Mu’ti menegaskan, persoalan bangsa tidak cukup disikapi dengan kritik atau keluhan. Orang-orang berilmu memiliki tanggung jawab menghadirkan solusi.

“Kalau ada masalah ya kita selesaikan sebagai wujud tanggung jawab dalam berbangsa dan bernegara. Orang yang berilmu harus bisa memandu yang lain. Di situlah peran Ulul Albab.”

Ia menegaskan Muhammadiyah harus terus menjaga perannya sebagai gerakan Islam yang menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Muhammadiyah harus hadir dalam memberi solusi kepada bangsa.”

Menanggapi berbagai narasi pesimistis mengenai kondisi Indonesia, Abdul Mu’ti mengingatkan agar warga Muhammadiyah tidak terjebak pada sikap yang hanya memperkeruh keadaan.

“Bagi yang hanya mengatakan Indonesia gelap lalu kabur, itu bukan sikap Ulul Albab.”

Kekuatan Muhammadiyah Bertumpu pada Sistem

Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu’ti juga menyinggung Muktamar Muhammadiyah. Menurutnya, kekuatan Muhammadiyah tidak bertumpu pada figur, melainkan pada sistem organisasi yang dibangun secara kolektif.

“Soal Ketua Umum PP Muhammadiyah kita tunggu Muktamar. Muhammadiyah bukan bertumpu pada sinten (siapa orangnya), tetapi pada sistem. Karena itu Muhammadiyah tetap tentrem dan ayem.”

Menurutnya, budaya kolektif itulah yang membuat Muhammadiyah terus berkembang dan mampu menghadirkan berbagai amal usaha yang memberi manfaat luas bagi masyarakat.***

Baca Juga  Ancaman di Kalimantan Berbeda dengan di Jawa, LRB-MDMC Gelar Pelatihan Manajemen Bencana