MAKLUMAT — Kabut asap akibat kebakaran lahan mulai melintas batas ke wilayah Sarawak, Malaysia. Sebanyak 591 sekolah ditutup sementara pada 20–21 Agustus 2026 setelah kualitas udara di sejumlah wilayah Sarawak masuk kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Kondisi tersebut terjadi ketika citra satelit NASA Fire Information for Resource Management System (FIRMS) menunjukkan konsentrasi hotspot yang cukup padat di Kalimantan, terutama wilayah Indonesia yang berdekatan dengan perbatasan Sarawak.
Perbandingan tampilan FIRMS dengan Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi+) Kementerian Kehutanan juga memperlihatkan perbedaan visual pada titik panas. Pada FIRMS, hotspot tampak dominan berwarna merah, sedangkan pada SiPongi+ banyak titik ditampilkan dengan kategori medium confidence atau warna kuning.
Namun, perbedaan warna tersebut tidak serta-merta menunjukkan perbedaan jumlah atau tingkat kebakaran. FIRMS dan SiPongi+ memiliki sistem penyajian dan klasifikasi tersendiri. Data hotspot pada dasarnya merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit, bukan hitungan langsung jumlah kebakaran yang sedang berlangsung.
SiPongi+ sendiri menggunakan klasifikasi low, medium, dan high confidence untuk menunjukkan tingkat kepercayaan terhadap deteksi hotspot. Sistem tersebut juga menyediakan filter berdasarkan satelit, tingkat kepercayaan, wilayah, dan periode pengamatan.

591 Sekolah Sarawak Ditutup
Jabatan Pendidikan Negeri Sarawak memerintahkan penutupan sementara 591 sekolah di 10 wilayah pendidikan. Kebijakan itu mencakup 509 sekolah dasar dengan 107.590 siswa dan 82 sekolah menengah dengan 89.733 siswa.Wilayah yang terdampak meliputi Kuching, Padawan, Bau, Lundu, Samarahan, Simunjan, Serian, Sri Aman, Lubok Antu, dan Betong.
Seperti dilansir BBC, Sabtu (22/8), pembelajaran selama penutupan dialihkan ke sistem pembelajaran dari rumah untuk memastikan kegiatan pendidikan tetap berlangsung. Kebijakan tersebut ditempuh sebagai langkah pencegahan untuk melindungi kesehatan dan keselamatan siswa serta tenaga pendidikan.
Kualitas udara di sejumlah wilayah Sarawak pada 20 Agustus berada dalam kategori tidak sehat. Data yang dikutip Bernama mencatat API Kuching mencapai 191, Samarahan 175, Serian 195, Sri Aman 178, Sarikei 154, Sibu 108, Lundu 180, Tebedu 169, dan Lubok Antu 191.
Sehari kemudian, kondisi di Serian bahkan memburuk. Pada pagi 21 Agustus, API di wilayah tersebut mencapai 241, masuk kategori sangat tidak sehat. Sejumlah wilayah lain juga masih berada pada kategori tidak sehat.
Dalam sistem Malaysia, API 0–50 masuk kategori baik, 51–100 sedang, 101–200 tidak sehat, 201–300 sangat tidak sehat, sedangkan lebih dari 300 tergolong berbahaya.
Hotspot Bukan Berarti Jumlah Kebakaran
Perbedaan tampilan FIRMS dan SiPongi+ perlu dibaca secara hati-hati.
FIRMS NASA merupakan sistem pemantauan kebakaran aktif berbasis data satelit yang menyediakan informasi hotspot secara near real-time. Pada produk VIIRS, satu deteksi memiliki resolusi nominal sekitar 375 meter, sehingga satu titik bukan berarti satu rumah, satu pohon, atau satu lokasi kebakaran dengan batas presisi.
Data FIRMS juga memiliki parameter confidence yang berbeda dari sekadar warna simbol pada peta. NASA membagi tingkat confidence menjadi low, nominal, dan high berdasarkan karakteristik deteksi serta kondisi pengamatan.
Karena itu, titik merah pada tampilan FIRMS tidak tepat langsung diterjemahkan sebagai kebakaran dengan tingkat keparahan tertentu tanpa melihat parameter data yang menyertainya.
Hal serupa berlaku pada SiPongi+. Kementerian Kehutanan menegaskan hotspot merupakan indikasi awal anomali panas dan tidak otomatis menunjukkan jumlah kejadian kebakaran. Satu kejadian kebakaran dapat menghasilkan beberapa hotspot sehingga data tersebut tetap membutuhkan verifikasi lapangan.
Dengan kata lain, perbandingan dua peta satelit harus dilakukan berdasarkan sumber satelit, waktu akuisisi, resolusi, confidence level, serta metode pengolahan data, bukan semata-mata berdasarkan warna titik yang terlihat di layar.
Kemenhut Kerahkan 12.880 Personel
Pemerintah Indonesia dalam keteranngan resmi, merespons peningkatan risiko karhutla dengan memperkuat operasi terpadu, terutama di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.Kementerian Kehutanan menyebut sebanyak 12.880 personel gabungan telah dikerahkan dalam operasi pengendalian karhutla. Personel tersebut berasal dari Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, TNI, Polri, BNPB, BPBD, pemerintah daerah, relawan, pelaku usaha, dan unsur terkait lainnya.
Operasi dilakukan melalui patroli terpadu, pemadaman dini, pemadaman lanjutan, pembuatan sekat bakar, pendinginan lokasi, hingga penjagaan pascapemadaman.
Penanganan di darat diperkuat dengan operasi udara, termasuk pemanfaatan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan dukungan pemadaman udara di wilayah yang sulit dijangkau personel.
Kementerian Kehutanan juga menekankan bahwa setiap hotspot perlu diverifikasi melalui pemeriksaan lapangan untuk memastikan apakah benar terjadi kebakaran, lokasi, penyebab, dan luas area terdampak.***













