Kerja Politik Jokowi Belum Dongkrak PSI, Elektabilitas Masih 2,6 Persen

MAKLUMAT — Kerja politik Joko Widodo (Jokowi) untuk mendongkrak elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) belum menunjukkan hasil signifikan. Survei Parameter Politik Indonesia mencatat elektabilitas PSI hanya 2,6 persen, masih berada di bawah PPP.

Angka tersebut berbeda jauh dengan hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang sebelumnya menempatkan PSI di angka 4,1 persen, bahkan melampaui PAN dan PPP.

Perbedaan hasil survei itu kembali memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana aktivitas politik Jokowi mampu meningkatkan preferensi pemilih terhadap PSI.

Direktur ABC Riset & Consulting, Erizal, menilai hasil survei Parameter Politik Indonesia menunjukkan bahwa dukungan terhadap PSI belum bergerak signifikan.

“Kerja-kerja politik yang dilakukan Jokowi masih mengalami stagnasi dari segi preferensi pemilih,” kata Erizal, dikutip Senin (7/9/2026).

Menurut Erizal, hasil survei Parameter Politik Indonesia yang dipimpin Adi Prayitno menempatkan PSI kembali pada posisi seperti hasil Pemilu 2024. PSI berada di urutan ke-10 dengan elektabilitas 2,6 persen.

Sementara itu, hasil survei SMRC sebelumnya memberikan gambaran berbeda. Lembaga tersebut mencatat elektabilitas PSI mencapai 4,1 persen dan menempatkannya di atas PAN serta PPP.

Perbedaan tersebut membuat publik memiliki dua gambaran mengenai perkembangan elektabilitas PSI. Satu survei menunjukkan kenaikan cukup tajam, sedangkan survei lainnya memperlihatkan PSI masih berada pada posisi yang relatif sama.

Baca Juga  Johan Budi: Jokowi Tolak Revisi UU KPK pada 2017–2018

Erizal menyebut pilihan terhadap hasil survei pada akhirnya bergantung pada tingkat kepercayaan publik terhadap masing-masing lembaga.

“Kalau lebih percaya Saiful Mujani, peganglah hasil survei SMRC. Kalau lebih percaya Adi Prayitno, abaikanlah survei SMRC,” ujarnya.

Dua Survei, Dua Gambaran PSI

Perbedaan angka 4,1 persen dan 2,6 persen menjadi bagian penting dalam membaca posisi PSI saat ini. Selisih tersebut menunjukkan adanya perbedaan hasil pengukuran preferensi pemilih antara SMRC dan Parameter Politik Indonesia.

Namun, satu hal yang perlu dicermati adalah posisi PSI dalam survei Parameter Politik belum memperlihatkan lonjakan elektabilitas meski Jokowi terus melakukan aktivitas politik.

Jokowi sendiri diketahui melakukan safari politik, termasuk ke Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Aktivitas tersebut menjadi bagian dari kerja politik yang kemudian dikaitkan dengan upaya memperkuat dukungan terhadap PSI.

PSI Masih Harus Membuktikan Efek Mesin Politik Jokowi

Jika menggunakan hasil survei Parameter Politik sebagai acuan, kerja politik Jokowi belum otomatis berbanding lurus dengan peningkatan elektabilitas PSI.

Elektabilitas 2,6 persen juga menunjukkan PSI masih membutuhkan konsolidasi politik dan penguatan basis pemilih untuk meningkatkan posisinya.

Sebaliknya, jika menggunakan hasil SMRC, PSI terlihat mengalami lonjakan hingga 4,1 persen. Karena itu, perbedaan metodologi, waktu survei, serta karakteristik responden menjadi faktor yang perlu diperhatikan sebelum menarik kesimpulan terlalu jauh.

Baca Juga  Soal Deflasi 5 Bulan Terakhir, Jokowi Beri Penjelasan

Yang jelas, dua hasil survei tersebut memberikan pesan berbeda. PSI bisa disebut melejit jika mengacu SMRC, tetapi masih stagnan jika menggunakan Parameter Politik. Perkembangan survei berikutnya akan menjadi penentu apakah kenaikan elektabilitas PSI benar-benar konsisten atau hanya bersifat sementara.