Ketika Trofi Menutupi Proses: Belajar Kaderisasi dari Sepak Bola

kader

MAKLUMAT — Tulisan kali ini saya buka dengan sebuah quote sarkasme, “Ketika kita tidak sabar meniti jalan terjal perkaderan, ada naturalisasi yang bisa jadi solusi.”

Timnas Indonesia baru saja menorehkan sejarah. Garuda menjadi juara perdana FIFA ASEAN Cup 2026 setelah mengalahkan Thailand melalui adu penalti 4-2 dalam final yang berlangsung dramatis di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Setelah bermain imbang 2-2 selama 120 menit, Indonesia akhirnya mengangkat trofi yang selama ini dinantikan. Tentu, kemenangan itu layak dirayakan mengingat betapa rindunya penggemar sepak bola akan hadirnya sebuah trofi yang dipersembahkan timnas karena sekian lama tim senior puasa gelar.

Tetapi justru setelah pesta selesai, kita perlu bertanya: apa sebenarnya yang sedang kita rayakan? Sebuah trofi, atau sebuah sistem sepak bola yang telah berhasil melahirkan generasi pemain terbaik?

Di sinilah persoalannya. Sepak bola yang sehat sesungguhnya bukan hanya tentang bagaimana memenangkan pertandingan hari ini. Kemenangan adalah puncak dari sebuah proses panjang. Di bawahnya ada sekolah sepak bola, kompetisi usia dini, turnamen antarkampung, pembinaan klub, kompetisi berjenjang, pelatih yang bekerja serius, dan klub yang memiliki keberanian memberikan menit bermain kepada pemain muda.

Dari mekanisme itulah seharusnya bibit-bibit terbaik ditemukan, ditempa, kemudian berkembang menjadi pemain profesional dan akhirnya masuk ke tim nasional. Masalahnya, orientasi terhadap hasil sering membuat proses semacam itu dilupakan. Ketika target kemenangan menjadi segala-galanya, jalan pintas akan selalu menggoda.

Baca Juga  Masa Depan Cerah Timnas Futsal Indonesia: Dulu Jadi Lumbung Gol, Kini Paksa 'Raja Asia' Iran Sampai Adu Penalti

Naturalisasi pemain asing, misalnya, dapat memberikan kualitas instan dan memang tidak otomatis salah. Tetapi ia menjadi problem ketika kehadiran pemain naturalisasi justru membuat pembangunan pemain lokal dan sistem perkaderan sepak bola tidak lagi menjadi prioritas.

Kita akhirnya sibuk mencari pemain yang sudah jadi, tetapi lupa menciptakan sistem yang mampu “menghasilkan pemain jadi”. Filosofi ini menarik jika dibawa ke dunia dakwah, khususnya Muhammadiyah.

Muhammadiyah bukan sekadar organisasi yang membutuhkan orang-orang profesional. Ia adalah gerakan yang memiliki tradisi perkaderan. Dalam sejarahnya, kaderisasi menjadi bagian penting untuk menjamin kesinambungan gerakan dakwah. Bahkan Muhammadiyah memiliki organisasi otonom dengan fungsi salah satunya sebagai wadah kaderisasi Persyarikatan.

Karena itu, Muhammadiyah semestinya tidak hanya bertanya: “siapa orang terbaik yang bisa kita tempatkan hari ini?” Tetapi juga: siapa yang sedang kita siapkan untuk menjadi pemimpin lima, sepuluh, atau dua puluh tahun mendatang?

Jangan sampai dalam mengisi kepemimpinan, kita terlalu mudah mengambil orang yang sudah “jadi” dari luar, sementara anak-anak muda yang bertahun-tahun tumbuh di ortom, mengikuti proses perkaderan, belajar mengelola organisasi, berdakwah, dan memahami ideologi Persyarikatan justru tidak mendapatkan ruang.

Orang dari luar tentu bisa sangat profesional. Keahliannya bahkan mungkin jauh lebih tinggi. Tetapi organisasi kader tidak hanya membutuhkan profesionalitas. Ia membutuhkan “ideologi, loyalitas, pengalaman berproses, dan rasa memiliki terhadap perjuangan”.

Baca Juga  ​Film "The Longest Wait": Menguak Sisi Kelam dan Air Mata di Ruang Ganti Timnas

Sepak bola mengajarkan satu hal sederhana: jangan hanya membangun tim nasional, bangunlah sistem yang melahirkan pemain nasional. Begitu pula Muhammadiyah. Jangan hanya mencari pemimpin ketika membutuhkan. “Bangunlah proses yang melahirkan pemimpin.”

Sebab keberhasilan sejati bukan ketika kita menemukan orang hebat, melainkan ketika sistem kaderisasi kita mampu “melahirkan orang-orang hebat secara berkelanjutan” Dan barangkali, inilah pelajaran terpenting dari sebuah trofi: bahwa kemenangan adalah hasil akhir, kaderisasi adalah kemenangan yang sesungguhnya.

Peran Penting Perkaderan di Muhammadiyah

Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) memiliki peran strategis dalam memastikan keberlanjutan dakwah dan kepemimpinan Muhammadiyah. Perkaderan tidak cukup hanya menghasilkan kader yang aktif dalam organisasi, tetapi harus mampu melahirkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi, integritas, ideologi, dan kesiapan mengisi ruang-ruang dakwah Persyarikatan.

Karena itu, MPKSDI perlu membuat rumusan perkaderan yang lebih tajam, terukur, dan berbasis kebutuhan nyata. Perkaderan harus diarahkan pada proses pembentukan kader secara utuh, sekaligus mampu membaca potensi personal setiap kader sejak dini. MPKSDI juga harus berani menetapkan arah kaderisasi berdasarkan kebutuhan jangka panjang Persyarikatan, bukan sekadar memenuhi kebutuhan kepengurusan dalam periode tertentu.

Langkah penting yang perlu dilakukan adalah determinasi personal, yaitu pemetaan kemampuan, minat, karakter, kompetensi, dan orientasi dakwah setiap kader. Hasil pemetaan tersebut menjadi dasar untuk menentukan jalur pengembangan yang tepat. Kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Pemuda Muhammadiyah, dan Nasyiatul Aisyiyah (NA) harus benar-benar dilakukan plotting yang jelas sesuai kebutuhan Persyarikatan.

Baca Juga  Skuad Muda Timnas Indonesia Jadi Runner-up AFF Futsal 2026, Tuan Rumah Thailand Rebut Gelar Juara

Tidak semua kader harus diarahkan menjadi pengurus struktural. Sebagian dapat dipersiapkan sebagai mubalig, guru, kepala sekolah, dosen, perawat, kepala rumah sakit, profesional, pengusaha, peneliti, atau pemimpin di berbagai bidang kehidupan. Sejak awal kader perlu diketahui potensinya dan diproyeksikan secara serius agar proses pembinaan memiliki tujuan yang jelas serta menghasilkan kader yang tepat pada tempat dan bidang pengabdiannya.

Dengan demikian, MPKSDI perlu membangun sistem perkaderan yang terintegrasi dari proses identifikasi, pembinaan, penugasan, pendampingan, hingga evaluasi. Setiap kader idealnya memiliki peta jalan pengembangan diri dan target pengabdian yang jelas.

Muhammadiyah membutuhkan kader yang bukan hanya memahami nilai dan ideologi Persyarikatan, tetapi juga memiliki keahlian yang kuat serta keberanian mengambil peran strategis di tengah masyarakat. Determinasi personal dan plotting kader akan membuat investasi perkaderan menjadi lebih tepat sasaran.

Dengan pendekatan tersebut, MPKSDI dapat memastikan bahwa setiap potensi kader berkembang menjadi kekuatan nyata untuk memperluas dakwah, memperkuat amal usaha, dan menjaga kesinambungan kepemimpinan Muhammadiyah pada masa mendatang. Kaderisasi akhirnya menjadi proses strategis untuk menyiapkan manusia yang tepat, kompeten, dan siap mengemban amanah pada bidang yang dibutuhkan Persyarikatan.

 

*) Penulis: Hadi Santoso

Anggota Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR) PDM Jember