10 Hari Pertama Zulhijah Belum Semeriah Ramadan, Ini Keutamaannya

10 hari pertama Zulhijah

MAKLUMAT — Semangat ibadah umat Islam pada sepuluh hari pertama bulan Zulhijah dinilai belum semeriah Ramadan, padahal periode tersebut memiliki keutamaan besar dalam Islam dan disebut sebagai hari terbaik untuk memperbanyak amal saleh.

Saat Ramadan tiba, umat Islam biasanya diselimuti atmosfer ibadah yang sangat kuat. Masjid-masjid dipenuhi jamaah yang membaca Al-Qur’an, berlomba mengkhatamkan 30 juz, memperbanyak sedekah, hingga menghidupkan malam dengan qiyamul lail.

Pada sepuluh malam terakhir Ramadan, suasana spiritual bahkan semakin terasa. Berbagai kegiatan ibadah dilakukan secara kolektif, mulai dari buka puasa bersama, kajian keislaman, hingga i’tikaf di masjid.

Namun, kondisi serupa dinilai belum banyak terlihat ketika memasuki sepuluh hari pertama Zulhijah. Padahal, Rasulullah SAW menegaskan bahwa hari-hari tersebut merupakan waktu terbaik untuk memperbanyak amal saleh.

Dalam hadis riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW menyebut amal saleh pada sepuluh hari pertama Zulhijah memiliki kedudukan sangat tinggi di sisi Allah SWT.

Dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak ada satu amal saleh yang lebih dicintai Allah melebihi amal saleh yang dilakukan pada hari-hari ini,” yaitu sepuluh hari pertama Zulhijah. Para sahabat bertanya, “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi SAW menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang berangkat dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sedikit pun dari keduanya.” (HR. Bukhari).

Hadis tersebut menunjukkan betapa agungnya keutamaan 10 hari pertama Zulhijah. Amal saleh yang dilakukan pada hari-hari tersebut disebut memiliki nilai sangat besar, bahkan melebihi jihad, kecuali jihad dengan pengorbanan total.

Baca Juga  Haedar Nashir: Memakmurkan Negeri Bukan dengan Berteriak NKRI Harga Mati

Selain itu, Rasulullah SAW juga menjelaskan keutamaan puasa sunnah dan qiyamul lail pada awal Zulhijah dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Baihaqi.

Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda:

“Tidak ada hari-hari yang lebih dicintai Allah untuk digunakan beribadah kepada-Nya daripada sepuluh hari pertama bulan Zulhijah. Puasa setiap harinya sebanding dengan puasa satu tahun, dan qiyamul lail setiap malamnya sebanding dengan qiyamul lail pada malam Lailatul Qadar.”

Keutamaan tersebut menunjukkan bahwa Zulhijah bukan sekadar identik dengan ibadah kurban, tetapi juga momentum memperbanyak amal saleh dan memperkuat ketakwaan.

Karena itu, umat Islam didorong untuk menghidupkan kembali syiar ibadah pada sepuluh hari pertama Zulhijah dengan memperbanyak tilawah Al-Qur’an, dzikir, puasa sunnah, qiyamul lail, serta kajian keislaman di masjid dan lingkungan masyarakat.

Keluarga, tetangga, hingga kader-kader Muhammadiyah juga dinilai dapat berperan membangun tradisi ibadah yang hidup dan menggembirakan selama Zulhijah.

Sebagaimana Ramadan memiliki atmosfer spiritual yang kuat, Zulhijah juga diharapkan menjadi momentum kebangkitan ibadah umat agar hari-hari terbaik yang dicintai Allah SWT tidak berlalu begitu saja tanpa dimanfaatkan secara maksimal.

Zulhijah bukan hanya bulan kurban, tetapi juga bulan penghambaan kepada Allah SWT. Di dalamnya terdapat peluang besar untuk memperbanyak amal saleh, memperkuat ketakwaan, dan membangun semangat kolektif umat dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.***

Baca Juga  Prof. Haedar Nashir: Muhammadiyah Bangun Indonesia dengan Benar, Bukan Asal Berhasil