Khutbah Idulfitri 1447 Hijriah, Sholihin Fanani Tegaskan Peran Manusia sebagai Hamba dan Khalifah

Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Dr H Muhammad Sholihin Fanani MPSDM. (Dok. Ubay NA/ IST)

MAKLUMAT — Wakil Ketua Pimpinan Wilayah (PWM) Jawa Timur, Dr H Muhammadiyah Sholihin Fanani MPSDM, menyampaikan khutbah Idulfitri 1447 Hijriah dengan menekankan pada pentingnya memahami kembali posisi dan kedudukan manusia sebagai hamba Allah (abdullah) dan sebagai khalifatullah (pemimpin atau perwakilan Allah) di muka bumi.

Ia menguraikan bahwa manusia memiliki lima bekal yang diberikan Allah, baik dalam status manusia sebagai abdullah maupun dalam tugas manusia sebagai khalifatullah, yakni akal pikiran, hati nurani, kemampuan untuk memimpin dan menata kehidupan, ajaran agama sebagai tuntunan kehidupan, serta hidayah.

Berikut teks lengkap khutbah Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah yang disampaikan Dr H Muhammadiyah Sholihin Fanani MPSDM.

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْعِيدَ ضِيَافَةً لِلْأَنَامِ، وَجَعَلَهُ مِنْ شَعَائِرِ الْإِسْلَامِ، حَرَّمَ فِيهِ الصِّيَامَ، وَأَحَلَّ فِيهِ الطَّعَامَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِقُ الْعَالَمِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ خَيْرُ الْأَنَامِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Para Jamaah Idulfitri yang dirahmati Allah

Pada kesempatan yang sangat mulia dan berbahagia ini marilah kita berusaha meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah. Kita menunaikan dengan ikhlas semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya.

Hari ini 1 Syawal 1447 Hijriah, telah dijadikan oleh Allah sebagai hari suka cita bagi kita, bagi kaum muslimin seluruhnya. Kita baru saja menempuh proses penyadaran kembali arti pentingnya hidup keruhanian yang transendental melalui puasa di Bulan Ramadan.

Baca Juga  Kuda Pacu Ramadan & Pailit

Oleh karena itu, pertama-tama, pada kesempatan ini khatib mengucapkan taqabbal Allahu minna waminkum. Shiyamana wa shiyamakum. Minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Para Jamaah Idulfitri yang dirahmati Allah

Manusia diciptakan oleh Allah Swt sebagai makhluk yang terbaik dibandingkan dengan seluruh makhluk Allah lainnya. Laqad khalaqnal insaana fii akhsani taqwiim, “sungguh telah Aku ciptakan manusia dalam sebaik-baiknya ciptaan.”

Mengapa manusia diciptakan oleh Allah dalam sebaik-baik ciptaan? Karena memiliki dua peran penting dalam hidupnya. Yaitu peran sebagai abdullah (hamba Allah) dan peran sebagai khalifatullah (pemimpin dan perwakilan Allah) di muka bumi.

Peran sebagai abdullah, manusia memiliki kewajiban hanya menyembah kepada Allah. Tunduk dan patuh kepada perintah-perintah Allah dan hanya menjadikan Allah sebagai satu-satunya kekuatan untuk bergantung dan memohon pertolongan kepada-Nya. Iyyakana’budu waiyyakanastaiin, “hanya kepada-Mu ya Allah aku menyembah dan hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan.”

Peran yang kedua yaitu sebagai khalifatullah fiil ardl, sebagai pemimpin ataupun perwakilan Allah di muka bumi.

Peran sebagai abdullah adalah bersifat individu. Sedangkan peran sebagai khalifatullah adalah peran sebagai makhluk sosial yang harus mengatur, menata, dan melestarikan kehidupan di muka bumi dengan memberikan manfaat kepada masyarakat secara keseluruhan.

Rasulullah bersabda: khairunnas anfauhum linnas, “sebaik-baik manusia adalah yang banyak memberi manfaat kepada orang lain.”

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Jamaah Idulfitri yang dirahmati Allah

Baca Juga  Heri Romadhon Ajak Masyarakat Ikut Mudik Gratis Pemprov Jatim

Puasa Ramadan adalah media terindah untuk mengembalikan fitrah manusia sebagai abdullah dan sebagai khalifatullah.

Ada lima bekal yang diberikan oleh Allah Swt kepada manusia sebagai abdullah dan sebagai khalifatullah.

Bekal pertama adalah akal pikiran. Akal inilah yang membuat manusia menjadi makhluk Allah yang sempurna. Karena dengan akal manusia bisa membedakan antara yang haq dan yang bathil. Mana yang salah mana yang benar. Dengan akan pula manusia akan memiliki ilmu pengetahuan sehingga derajatnya akan tinggi dihadapan Allah dan manusia. Sebagaimana Allah berfirman: Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa derajat.

Kedua, manusia diberikan hati nurani atau perasaan. Dengan hati nurani manusia akan bisa merasakan kebenaran. Dengan hati nurani manusia akan memiliki rasa bersyukur, rasa malu dan rasa prihatin dan kasing sayang.

Ketiga, manusia diberikan bekal sebagai seorang pemimpin, kemampuan untuk memimpin. Setiap orang memiliki kemampuan untuk memimpin, mengatur dan menata kehidupan agar menjadi lebih baik dan sejahtera dunia dan akhirat. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw, “setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawabannya.”

Keempat, manusia diberikan bekal ajaran agama atau tuntunan hidup. Setiap umat mendapatkan satu pemimpin untuk menyebarkan ajaran-ajaran agama, yaitu nabi atau rasul.

Kita mendapatkan pemimpin yang membawa ajaran Islam yang dapat mengantarkan manusia hidup bahagia dunia dan akhirat. Ajaran Islam berlaku untuk sepanjang masa dan dijaga langsung oleh Allah Swt.

Islam menjadi rahmat dan petunjuk bagi semesta alam.

Dan kelima, manusia diberikan bekal dengan hidayah. Dengan hidayah inilah manusia akan dapat menjalankan tugasnya sebagai abdullah dan sebagai khalifatullah.

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Baca Juga  Tugas Kekhalifahan untuk Memakmurkan Bumi, Tidak Merusaknya

Jamaah Idulfitri yang dirahmati Allah

Dengan seiring kehidupan manusia tersebut. Kadang manusia tidak bisa menjalankan fungsinya sebagai abdullah dan sebagai khalifatullah. Oleh karena itu puasa Ramadan mempunyai tujuan untuk mengembalikan fungsi manusia sebagai abdullah dan sebagai khalifatullah. Maka inilah makna Idulfitri yang sesungguhnya.

Mudah-mudahan bermanfaat dan menjadikan kita sebagai abdullah dan sebagai khalifatullah untuk menyejahterakan kehidupan di muka bumi.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Akhirnya marilah kita memohon kepada Allah, konsentrasikan pikiran hanya kepadaNya, hadirkan kesadaran transendental bahwa Ia berada di hadapan kita.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ

. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَّا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يِوْمِ الدِّيْنِ.