KKN UINSA Belajar Hal Baru dari Tradisi Muharram di Pucangro Lamongan

Pucangro

MAKLUMAT — Tradisi peringatan Tahun Baru Islam di Desa Pucangro, Kecamatan Kalitengah, Kabupaten Lamongan, kembali berjalan melalui Pawai Gebyar 1 Muharram yang melibatkan santri, warga, dan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA).

Kegiatan tahunan ini tetap digelar meski persiapan dilakukan dalam waktu singkat. Pondok Pesantren Safa Taslim menjadi penggerak utama kegiatan tersebut setelah pengurus harian dan pengasuh pesantren menyepakati pelaksanaan pawai.

Waktu persiapan yang hanya sekitar tiga hari membuat pelaksanaan tahun ini menyesuaikan kondisi di lapangan.

“Kegiatan ini merupakan kegiatan tahunan setiap 1 Muharram. Namun, persiapan tahun ini terbilang spontan, hanya sekitar tiga hari,” kata Ketua Pondok Pesantren Safa Taslim, H. Supranoto pada Kamis (18/6/2026) silam.

Meski persiapan terbatas, keterlibatan masyarakat tetap terlihat dalam pelaksanaan pawai. Warga dari berbagai unsur, mulai dari santri, wali santri, hingga masyarakat desa, ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.

“Pesertanya ini dari wali murid santri, wali santri, kemudian para santri, dan juga masyarakat Pucangro,” ujar Supranoto.

Mahasiswa KKN 61 UINSA Desa Pucangro turut hadir dalam kegiatan itu sebagai pendukung pelaksanaan di lapangan. Keterlibatan mereka menjadi bagian dari proses adaptasi dengan dinamika sosial masyarakat desa.

Baca Juga  Minta Bupati Segera Wujudkan Janji Politik, PDM Lamongan: Kami Akan Membersamai

Koordinator Desa KKN 61 UINSA Desa Pucangro, Muhammad Bimo Wijoyo, menilai pengalaman terlibat langsung dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran selama KKN berlangsung.

“Kami cukup terkesan melihat partisipasi masyarakat yang begitu besar meskipun persiapan kegiatan relatif singkat,” ujarnya.

Ia menambahkan, keterlibatan dalam kegiatan pawai memberi pengalaman langsung tentang bagaimana kerja kolaboratif antara mahasiswa, pesantren, dan masyarakat desa berjalan di lapangan.

Para mahasiswa melihat proses koordinasi berlangsung secara langsung mulai dari pembagian tugas hingga koordinasi ketika kegiatan berjalan. Dari situ, mereka belajar bahwa kerja bersama di tingkat desa menuntut skill komunikasi dan kemampuan menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada di lapangan.

“Ini menjadi pengalaman yang berharga dan sangat kami pelajari selama pelaksanaan KKN di Desa Pucangro,” ujarnya.

 

*) Penulis: M Habib Muzaki