MAKLUMAT — Mahasiswa KKN Terpadu (KKN-T) Kelompok 27 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menggelar edukasi bertajuk “Bentuk Remaja SIGAP (Siap Tanggap) melalui Pelatihan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K)” di Desa Seketi, Kecamatan Balongbendo, Kabupaten Sidoarjo, Sabtu (18/7/2026).
Kegiatan yang menjadi bagian dari program kerja bidang kesehatan tersebut diselenggarakan bersama Posyandu Remaja Ceria Desa Seketi. Program ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan remaja dalam menghadapi kondisi darurat.
Ketua KKN Terpadu Kelompok 27, Muhammad Yusuf, mengatakan pelatihan tersebut dirancang untuk membekali generasi muda dengan keterampilan dasar pertolongan pertama.
“Proker ini bertujuan sebagai upaya meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan generasi muda dalam menghadapi kondisi darurat,” ujarnya.
Untuk mendukung kegiatan, tim KKN menghadirkan narasumber dari PMI Kota Pasuruan yang memberikan materi mengenai langkah-langkah pertolongan pertama pada kecelakaan.
“Kami harap ilmu yang diperoleh bisa diterapkan di lingkungan sekitar. Dengan begitu, semakin banyak remaja yang memiliki kepedulian dan mampu memberikan pertolongan pertama secara tepat,” terang Yusuf.
Ketua Posyandu Remaja Ceria, Asril Vika Ramadani, menjelaskan bahwa kegiatan ini ditujukan bagi remaja berusia 10 hingga 20 tahun. Meski demikian, panitia tetap membuka kesempatan bagi masyarakat lain yang ingin mengikuti kegiatan.
“Yang kami ajak untuk mengikuti kegiatan edukasi ini merupakan remaja desa dengan usia 10-20 tahun, akan tetapi kita juga tidak membatasi siapapun yang berkenan ikut, tetap kami persilahkan,” jelas Asril Vika Ramadani.
Selain penyuluhan, peserta juga memperoleh layanan pemeriksaan dan konsultasi kesehatan yang dilaksanakan pada Meja 2 hingga Meja 4. Pemeriksaan meliputi tinggi badan, berat badan, tekanan darah, serta konsultasi kesehatan untuk membantu peserta mengetahui kondisi kesehatannya sejak dini sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya pola hidup sehat.
Pada sesi pelatihan, peserta mendapatkan materi dasar mengenai Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K). Salah satu peserta, Vika, mengaku memperoleh pemahaman baru mengenai langkah-langkah awal yang harus dilakukan saat menghadapi korban kecelakaan.
“Di sini kami mendapat pemahaman mengenai langkah dasar yang dilakukan saat menghadapi korban kecelakaan sebelum mendapatkan penanganan lebih lanjut dari tenaga kesehatan,” kata Vika.
Narasumber kegiatan, Mukhammad Arif Hidayatullah, memaparkan berbagai tahapan penanganan awal, mulai dari mengenali kondisi korban, memastikan keamanan lingkungan sekitar, memeriksa kesadaran dan pernapasan korban, hingga menghubungi layanan medis.
Ia juga menjelaskan tindakan yang sebaiknya dihindari agar kondisi korban tidak semakin memburuk akibat penanganan yang kurang tepat. Dalam penyampaian materi, Arif memberikan contoh situasi yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari, seperti korban pingsan, luka ringan, hingga kecelakaan.
“Pertolongan pertama bukan berarti harus langsung melakukan tindakan medis. Yang paling penting adalah memastikan keselamatan diri sendiri, menjaga kondisi korban tetap aman, dan segera meminta bantuan tenaga kesehatan,” jelas Arif.
Selama kegiatan berlangsung, peserta tampak aktif mengikuti penyampaian materi, berdiskusi, serta mempraktikkan teknik pertolongan pertama yang diperagakan narasumber. Antusiasme tersebut menunjukkan tingginya minat remaja untuk memahami penanganan awal yang tepat ketika menghadapi situasi darurat.***
*) Penulis: Sylvi














