Lestari Moerdijat Dorong Kesehatan Mental Masuk Kurikulum Pendidikan Nasional

Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Lestari Moerdijat. (Foto: MPR RI)

MAKLUMAT — Anggota Komisi X DPR RI, Lestari Moerdijat alias Rerie, mendorong agar kesehatan mental diintegrasikan dan menjadi bagian penting dalam kurikulum pendidikan nasional. Menurutnya, kondisi darurat kesehatan mental pada anak dan remaja saat ini menuntut langkah nyata serta penanganan terintegrasi dari semua pihak.

“Penanganan yang terintegrasi untuk mengatasi masalah kesehatan mental anak dan remaja sangat krusial, demi menyelamatkan masa depan generasi penerus bangsa,” ujar Lestari keterangan tertulis, Ahad (12/4/2026).

Ia mengungkapkan, berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemkes) pada awal 2026, sekitar 5% anak dan remaja Indonesia mengalami gejala gangguan jiwa, terutama depresi dan kecemasan. Temuan tersebut, lanjutnya, diperkuat hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada Maret 2026 yang menyebut satu dari sepuluh anak Indonesia menghadapi indikasi masalah kesehatan jiwa.

Dari sekitar 7 juta anak yang menjalani skrining, tercatat sebanyak 363.326 anak (4,8%) menunjukkan gejala depresi, sementara 338.316 anak (4,4%) mengalami gejala kecemasan. Namun, dari jumlah itu, hanya 2,6% anak dan remaja yang mendapatkan penanganan profesional.

Lestari menilai, sejumlah kasus kekerasan yang melibatkan anak dan remaja dalam beberapa bulan terakhir—seperti anak membunuh ibu di Sumbawa Nusa Tenggara Barat (NTB) dan di Semarang Jawa Tengah—bukanlah anomali.

Baca Juga  Resmi Bertransformasi, UMMAD Kini Jadi UMJT: Kelola 13 Program Studi

“Itu adalah gejala. Gejala dari sistem yang gagal membekali mereka dengan kemampuan paling dasar sebagai manusia, yaitu memahami diri sendiri,” sorotnya.

Lebih jauh, politisi Partai NasDem yang juga Wakil Ketua MPR RI itu juga mengkritisi sistem pendidikan nasional yang selama ini dinilai terlalu menekankan capaian angka, ranking, dan prestasi kognitif, tetapi mengabaikan aspek kesehatan mental serta kematangan emosi peserta didik.

“Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka sekolah—tanpa disadari—akan menjadi ruang yang justru memproduksi tekanan, bukan membangun ketahanan. Kesehatan mental harus menjadi bagian inti dalam kurikulum nasional,” tandasnya.

Lestari menilai, anak-anak saat ini tumbuh di lingkungan dengan tekanan yang semakin kompleks, namun belum sepenuhnya dibekali kemampuan untuk memahami dan mengelola tekanan tersebut.

Tanpa intervensi yang serius, lanjut Lestari, bangsa ini berisiko kehilangan satu generasi karena tumbuh dalam ancaman kesehatan jiwa yang rapuh.

“Untuk menjadi bangsa yang kuat, kita membutuhkan generasi penerus yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga tangguh secara mental,” kata wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah II itu.

Lestari menegaskan pentingnya komitmen kuat serta langkah konkret dari para pemangku kepentingan, supaya dapat membangun mekanisme yang tepat demi melahirkan generasi penerus bangsa yang sehat, berkarakter kuat, dan berdaya saing di masa depan.

Baca Juga  Oleh-oleh Kunjungan ke Tiongkok, Smamda Sidoarjo Bakal Implementasikan Sejumlah Hal