MAKLUMAT — Sejenak meninggalkan layar, siswa SD Negeri Watesari diajak kembali bergerak, bermain, dan berinteraksi bersama teman melalui permainan tradisional. Kegiatan tersebut dikemas dalam edukasi penggunaan gadget secara bijak oleh mahasiswa KKN-T 26 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida).
Program bertajuk “Bijak Bermain Gadget, Kenali Permainan Tradisional” tersebut digelar pada Ahad (9/8/2026) dengan rangkaian kegiatan interaktif yang melibatkan para siswa.
Melalui kegiatan itu, siswa dikenalkan pada pemanfaatan gadget untuk aktivitas positif, khususnya pembelajaran. Di sisi lain, mereka juga diajak memahami pentingnya mengatur waktu untuk bergerak, bermain bersama teman, serta berkomunikasi dengan keluarga.
Dalam sesi edukasi, mahasiswa menjelaskan sejumlah dampak yang dapat muncul akibat penggunaan gadget secara berlebihan, mulai dari berkurangnya aktivitas fisik, kelelahan, kesulitan berkonsentrasi, hingga perubahan dalam interaksi sosial.
Materi disampaikan melalui contoh yang dekat dengan keseharian siswa. Para siswa diajak mengenali kebiasaan seperti terlalu lama menatap layar, lupa waktu, memilih bermain sendiri, hingga tetap menggunakan telepon genggam ketika orang lain mengajak berbicara.
Ketua KKN T 26 Umsida, M Bagus Achsanul Qolbi, mengatakan kegiatan tersebut tidak bertujuan membuat anak-anak menjauhi teknologi.
Ia menyebut gadget tetap memiliki manfaat, terutama untuk mendukung kegiatan belajar. Namun, anak-anak perlu memahami kapan gadget digunakan dan kapan waktunya berhenti.
“Kami ingin mengajak mereka lebih banyak bergerak, bermain bersama teman, dan menikmati masa kecilnya tanpa harus selalu bergantung pada gadget,” ujarnya.
Menurut Qolbi, pendekatan tersebut diberikan agar siswa tidak memandang teknologi sebagai sesuatu yang harus dihindari. Sebaliknya, mereka diarahkan untuk memahami batas penggunaan gadget sesuai kebutuhan.
Setelah mendapatkan materi, siswa kemudian diajak mencoba berbagai permainan tradisional secara berkelompok. Kegiatan tersebut membuat suasana semakin aktif karena siswa harus bergerak, berkomunikasi, dan bekerja sama dengan teman.
“Permainan tradisional kami pilih sebagai alternatif kegiatan tanpa layar yang tetap menyenangkan,” terang Qolbi.
Melalui permainan tersebut, siswa juga belajar mengikuti aturan, membangun keberanian, menjaga sportivitas, serta memberikan dukungan kepada anggota kelompok lainnya.
Kepala SD Negeri Watesari, Dr Wiwiek Ekowati, menilai metode tersebut membantu siswa lebih mudah menerima materi karena mereka tidak hanya mendengarkan penjelasan.
“Anak-anak tidak hanya diberikan materi, tetapi juga diajak mengalami langsung bagaimana menyenangkan bermain bersama teman tanpa gadget. Mereka jadi belajar bahwa ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan selain bermain dengan handphone,” ungkapnya.
Selain permainan tradisional, mahasiswa juga menyisipkan lomba mewarnai sebagai ruang bagi siswa untuk menyalurkan kreativitas. Setelah itu, para siswa kembali mengikuti permainan tradisional dalam suasana yang lebih aktif dan komunikatif.
Pada bagian lain, mahasiswa mengajak siswa mengikuti sesi refleksi mengenai penggunaan waktu sehari-hari. Para siswa diminta membayangkan kembali waktu yang mereka habiskan bersama gadget dan membandingkannya dengan waktu untuk belajar, bermain bersama teman, berbicara dengan orang tua, maupun melakukan aktivitas lainnya.
Suasana yang sebelumnya ramai perlahan menjadi lebih tenang. Sejumlah siswa terlihat tersentuh ketika diminta merefleksikan kebiasaan mereka dalam menggunakan gadget.
Salah satu siswa, Kenzo, mengaku sesi tersebut membuatnya kembali mengingat interaksinya dengan orang tua.
“Saya jadi merasa selama ini sering main HP sampai lupa waktu. Kadang orang tua mengajak bicara tapi saya masih sibuk main HP. Setelah kegiatan ini saya ingin mengurangi main HP dan lebih banyak bermain sama teman-teman,” tuturnya.
Melalui sesi refleksi tersebut, mahasiswa tidak hanya mengajak siswa mengetahui dampak penggunaan gadget, tetapi juga mendorong mereka menyadari bagaimana kebiasaan menggunakan perangkat tersebut dapat memengaruhi waktu bersama keluarga, teman, dan lingkungan sekitar.***
*) Penulis: Marcella













