Mahasiswa KKN-P 42 Umsida Dorong Optimalisasi Komoditas Pertanian Desa Begaganlimo

Inovasi produk keripik gadung Desa Begaganlimo bersama mahasiswa KKN-P Kelompok 42 Umsida. (Foto: KKN Umsida)

MAKLUMAT — Sejumlah mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pencerahan (KKN-P) Kelompok 42 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) mendorong optimalisasi potensi pertanian di Desa Begaganlimo, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, melalui inovasi produk, hingga strategi branding dan pemasaran.

Desa Begaganlimo sendiri dikenal memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan menjadi penggerak perekonomian masyarakat, seperti durian, porang, dan gadung yang telah dimanfaatkan masyarakat sebagai komoditas pertanian sekaligus sumber pendapatan.

Desa yang berada di kawasan kaki Gunung Anjasmoro ini memiliki kondisi alam yang mendukung pertumbuhan berbagai tanaman. Selain menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari, keberadaan komoditas tersebut juga menjadi potensi ekonomi yang dapat dikembangkan melalui pengolahan dan pemasaran yang lebih inovatif.

Mengenal Durian Begaganlimo

Durian merupakan salah satu tanaman buah yang banyak dijumpai di Desa Begaganlimo. Pohon durian memiliki batang yang besar dan kokoh dengan percabangan yang cukup lebat. Daunnya berwarna hijau dengan bentuk memanjang, sedangkan buahnya memiliki kulit berduri dan daging buah yang memiliki aroma serta rasa khas.

Masa panen durian di Desa Begaganlimo umumnya berlangsung pada bulan Desember hingga Februari. Pada periode tersebut, masyarakat dapat memanen buah durian dari pohon yang telah memasuki masa produksi. Musim panen menjadi salah satu waktu yang dinantikan oleh masyarakat karena durian dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi pemilik pohon.

Selama ini, masyarakat yang memiliki pohon durian umumnya menjual hasil panen dalam bentuk buah segar. Durian dipasarkan secara langsung kepada pembeli maupun melalui penjualan berdasarkan hasil panen yang tersedia. Cara tersebut cukup membantu masyarakat memperoleh pendapatan, tetapi nilai ekonominya masih bergantung pada musim panen dan harga pasar.

Baca Juga  Mahasiswa KKN Umsida Kenalkan Metode Value Clarification Technique di SDN Tambak Sari: Perkuat Karakter Siswa

Melihat potensi tersebut, pengembangan durian tidak hanya dapat dilakukan melalui penjualan buah segar, tetapi juga dapat diarahkan pada pengolahan produk turunan. Dengan adanya inovasi pengolahan, pengemasan, dan pemasaran digital, durian berpotensi memiliki nilai tambah yang lebih tinggi serta jangkauan pasar yang lebih luas.

Porang, Tanaman Umbi Bernilai Ekonomi

Selain durian, Desa Begaganlimo juga memiliki potensi tanaman porang. Porang merupakan tanaman umbi yang tumbuh dari bagian bawah tanah dan memiliki batang tunggal dengan daun bercabang yang khas. Tanaman ini dapat tumbuh cukup tinggi dan menghasilkan umbi yang menjadi bagian utama untuk dimanfaatkan secara ekonomi.

Masyarakat Desa Begaganlimo telah memanfaatkan porang sebagai salah satu komoditas pertanian. Namun, hasil panen porang masih banyak dijual dalam bentuk bahan mentah kepada pengepul. Sistem pemasaran tersebut membuat petani bergantung pada harga yang ditentukan berdasarkan kondisi pasar dan pengepul yang menjadi mitra penjualan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa porang masih memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut. Pengolahan porang menjadi produk bernilai tambah serta penguatan strategi branding dan pemasaran dapat menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan daya saing komoditas lokal Desa Begaganlimo.

Gadung, Komoditas yang Diolah Menjadi Keripik

Komoditas lain yang tidak kalah penting adalah gadung. Gadung merupakan tanaman umbi yang tumbuh merambat dan menghasilkan umbi di dalam tanah. Tanaman ini dapat ditemukan di sekitar kawasan hutan maupun lahan masyarakat. Meskipun membutuhkan proses pengolahan khusus sebelum dikonsumsi, masyarakat Desa Begaganlimo telah memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam mengolah gadung menjadi makanan ringan.

Baca Juga  Mahasiswa KKN Umsida Perkuat Literasi Digital Siswa Lewat AI dan Editing Visual

Gadung yang diperoleh masyarakat terlebih dahulu melalui beberapa tahapan pengolahan sebelum dapat dikonsumsi. Umbi dikupas, diiris, kemudian melalui proses pencucian dan pengolahan menggunakan campuran abu dan garam untuk mengurangi kandungan yang dapat menyebabkan rasa gatal atau tidak nyaman ketika dikonsumsi. Setelah melalui proses pengolahan, gadung dapat digoreng dan dipasarkan sebagai keripik.

Selama ini, keripik gadung umumnya dipasarkan dalam rasa original atau asin sehingga pilihan produk bagi konsumen masih terbatas. Kondisi tersebut menjadi salah satu peluang bagi mahasiswa KKN-P Kelompok 42 Umsida untuk mendorong inovasi produk bersama pelaku UMKM Desa Begaganlimo.

Hadirkan Inovasi Keripik Gadung Tiga Rasa

Sebagai bentuk pengembangan potensi UMKM, mahasiswa KKN-P Kelompok 42 Umsida melaksanakan pelatihan inovasi keripik gadung dengan menghadirkan tiga varian rasa baru, yaitu cokelat, stroberi, dan matcha.

Kegiatan tersebut dilakukan untuk memberikan alternatif produk kepada pelaku UMKM sekaligus meningkatkan daya tarik keripik gadung di kalangan konsumen. Inovasi rasa diharapkan dapat membuat keripik gadung tidak hanya dikenal sebagai makanan tradisional dengan cita rasa gurih dan asin, tetapi juga mampu mengikuti selera konsumen masa kini.

Dalam pelatihan tersebut, peserta dikenalkan dengan konsep pengembangan varian rasa, proses pemberian rasa pada produk, hingga pentingnya tampilan produk yang menarik. Pengembangan varian cokelat, stroberi, dan matcha menjadi upaya untuk memperluas segmentasi konsumen, khususnya generasi muda yang cenderung tertarik terhadap produk dengan pilihan rasa dan tampilan yang lebih beragam.

Baca Juga  Mahasiswa KKN UMY Selamat dari Gempa NTT M7.7

Inovasi tersebut juga dapat menjadi upaya sekaligus langkah awal bagi UMKM untuk mengembangkan identitas produk dan meningkatkan nilai jual keripik gadung. Produk yang sebelumnya hanya memiliki pilihan rasa terbatas dapat dikembangkan menjadi produk lokal yang lebih inovatif dan memiliki daya saing.

Mendorong Potensi Lokal Menjadi Produk Unggulan

Pengembangan durian, porang, dan gadung menunjukkan bahwa Desa Begaganlimo memiliki potensi sumber daya alam yang cukup beragam. Durian memiliki peluang melalui pengembangan produk olahan dan pemasaran, porang dapat diperkuat melalui branding serta pengembangan nilai tambah, sedangkan gadung memiliki peluang melalui inovasi produk dan pengembangan varian rasa.

Melalui program KKN tersebut, para mahasiswa tidak hanya membantu mengenalkan potensi desa, tetapi juga mendorong masyarakat untuk melihat komoditas lokal dari sisi yang lebih luas. Potensi yang selama ini dijual dalam bentuk bahan mentah dapat diarahkan menjadi produk dengan nilai tambah melalui inovasi, pengemasan, branding, dan pemasaran yang lebih baik.

Kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, pelaku UMKM, serta masyarakat, potensi durian, porang, dan gadung diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari penguatan ekonomi lokal Desa Begaganlimo sekaligus menjaga keberadaan produk berbasis kearifan lokal.***

*) Penulis: Tim KKN-P Kelompok 42 Umsida