Mahasiswa Umsida Lolos P2MW 2026 Lewat Startup Snap and Style, Platform Jasa Kreatif Berbasis Digital

Tim startup digital Snap and Style dari Umsida. (Foto: Humas)

MAKLUMAT — Inovasi startup digital Snap and Style karya mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) berhasil menorehkan prestasi membanggakan melalui Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026.

Tim Snap and Style terdiri atas Afifani Aulida Romadhoni sebagai CEO, Moch Nizar Islamudin sebagai CTO, Ananda Ratih Ayu Kumalasari sebagai COO, Rivaldo Sesar Arindha Wardhana sebagai CFO, serta Ahmad Rosyidun Nafi’ sebagai CMO. Startup tersebut berhasil lolos pada kategori Bisnis Digital Tahap Bertumbuh dengan menghadirkan platform booking jasa kreatif dan kebutuhan event yang terintegrasi dalam satu sistem berbasis website.

Ketua tim Snap and Style, Afifani Aulida Romadhoni alias Fani, menjelaskan bahwa ide bisnis tersebut muncul karena belum adanya platform yang menggabungkan berbagai kebutuhan event dalam satu layanan digital.

“Masih belum ada platform yang menyediakan jasa fotografer, MUA, wedding organizer, sewa kebaya, dan event organizer dalam satu aplikasi,” katanya, dalam keterangan tertulis yang diterima Maklumat.id pada Senin (25/5/2026).

Snap and Style, kata dia, sebenarnya pernah mengikuti P2MW pada tahun sebelumnya dalam kategori tahap awal. “Saat itu konsep bisnis masih berupa prototype,” kata sosok yang juga Asisten Laboratorium (Aslab) Prodi Bisnis Digital itu.

Baca Juga  Demokrasi yang Diteror: Ketika Mahasiswa Mulai Dibungkam

Pada P2MW 2026, tim melanjutkan pengembangan bisnis ke tahap bertumbuh dengan menghadirkan sejumlah inovasi baru, salah satunya fitur photobooth digital yang menyediakan berbagai frame untuk kebutuhan dokumentasi acara.

Meski sempat dikembangkan sebelumnya, Fani menyebut platform tersebut masih dalam tahap penyempurnaan fitur agar sistem yang dibangun semakin kompleks dan siap digunakan secara luas.

Dalam pengembangannya, Snap and Style mengusung konsep platform digital berbasis kemitraan. Nantinya, penyedia jasa seperti fotografer, make up artist (MUA), hingga event organizer (EO) dapat bergabung sebagai mitra dalam ekosistem digital tersebut.

Target pengguna layanan ini mulai dari mahasiswa, masyarakat umum, hingga calon pengantin yang membutuhkan layanan event secara praktis dalam satu tempat. “Modelnya mirip kayak Gojek, cuma ini versinya jasa kreatif dan berbentuk web. Jadi lebih mudah aksesnya,” jelas Fani.

Ia menambahkan, tampilan platform nantinya tetap dirancang menyerupai aplikasi digital meskipun dijalankan melalui website berbasis sistem aplikasi.

Selain fokus pada pengembangan teknologi, tim juga mulai melakukan penjaringan mitra sebagai langkah awal membangun ekosistem bisnis digital mereka.

Sementara itu, dosen pembimbing tim, Alshaf Pebrianggara mengungkapkan bahwa sejak awal para mahasiswanya didorong untuk memahami problem nyata di industri event dan fotografi, bukan sekadar membuat aplikasi.

Baca Juga  Istana Pastikan KIP Aman, Hasan Nasbi: Beasiswa-beasiswa Dilanjutkan!

“Jadi prosesnya dimulai dari validasi kebutuhan pasar, observasi perilaku konsumen, hingga bagaimana mereka menyusun model bisnis yang realistis dan scalable,” ungkapnya.

Dalam proses pendampingan, Alshaf fokus pada penguatan ide bisnis dan value proposition, kesiapan eksekusi platform digital, hingga pembentukan mentalitas profesional mahasiswa dalam bekerja sebagai startup team.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi tim, pembagian peran yang jelas, serta kemampuan pitching dalam pengembangan bisnis. “Karena di program seperti P2MW, yang dinilai bukan hanya idenya, tetapi juga kesiapan tim dalam menjalankan bisnis yang ada,” tandasnya.

Menurut Alshaf, program tersebut penting bagi mahasiswa di era digital karena mahasiswa tidak cukup hanya menguasai teori di ruang kelas, tetapi juga harus memiliki pengalaman nyata membangun solusi dan bisnis yang berdampak.

Ia menilai tim Snap and Style memiliki kombinasi kreativitas, kemampuan komunikasi, serta kemauan belajar yang menjadi modal penting dalam pengembangan startup digital ke depan.

Selain itu, ia menilai bahwa industri event dan fotografi digital di Indonesia masih memiliki peluang besar seiring meningkatnya kebutuhan visual dan creative service di era digital.

“Snap and Style tidak hanya menawarkan jasa, tetapi mencoba membangun ekosistem digital yang menghubungkan kebutuhan event dengan penyedia jasa dalam satu platform terintegrasi,” pungkas Alshaf.

Baca Juga  Haedar Nashir di Penutupan Pesmaba UMM: Ilmu Tanpa Iman Melahirkan Kesombongan