MAKLUMAT – Menteri Haji dan Umrah RI sekaligus tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Mochamad Irfan Yusuf mengaku malu melihat dinamika internal ormas yang didirikan KH Hasyim Asy’ari itu menjelang Muktamar 2026. Ia pun meluapkan kekecewaan dan kemarahannya itu secara blak-blakan, terkait persaingan tidak sehat di tubuh NU yang sudah bergeser layaknya perebutan kekuasaan di partai politik.
“Saya ini sebagai bagian dari keluarga besar Nahdliyin, ya, bisa dikatakan saya sebagai keluarga dari pendiri, sangat malu. Sangat malu, sangat kecewa, bahkan dalam tanda petik, ‘sangat marah’ dengan apa yang terjadi di sini. Mudah-mudahan mereka ini sadarlah,” cetus pria yang akrab disapa Gus Irfan itu dikutip, Jumat (3/7/2026).
Ia menyaksikan langsung bagaimana faksi-faksi di dalam NU mulai saling sikut, saling menolak, dan saling menjegal demi menduduki kursi kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031.
Situasi panas ini mendorong Gus Irfan mendesak para petinggi NU saat ini untuk berkaca pada keteladanan para kiai pendahulu. Menurutnya, para pendiri NU terdahulu justru selalu menolak ketika diminta memegang jabatan karena memandang posisi tersebut sebagai amanah berat yang harus dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat, bukan sebagai barang warisan yang sah diperebutkan.
Sebagai bagian dari keluarga besar pendiri NU, Gus Irfan menegaskan bahwa keresahan ini tidak hanya ia rasakan sendiri. Para kiai sepuh di berbagai daerah pun menangis dan merasakan kesedihan mendalam melihat perilaku generasi muda NU saat ini yang dinilai makin menjauh dari kitab pedoman Qanun Asasi NU.
“Beliau-beliau sama dengan kita-kita ini. Sangat marah, sangat sedih. Mereka menangis melihat anak-anak muda seperti itu. Mudah-mudahan mereka yang sangat, sangat jauh dari Qonun asasi NU bisa sadar bahwa NU bukan barang warisan yang diperebutkan,” sesalnya.
Melalui momentum Muktamar yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026 mendatang, ia berharap forum tertinggi lima tahunan tersebut dapat kembali berjalan sejuk, teduh, dan bersih dari syahwat politik praktis.
Mengapa Muktamar NU 2026 Begitu Memanas?
Kritik keras yang dilontarkan oleh Gus Irfan bukan sekadar luapan emosi personal, melainkan alarm bahaya atas terjadinya pergeseran kultur di tubuh organisasi Islam terbesar di Indonesia ini.
Ada tiga faktor utama yang memicu memanasnya tensi menjelang Muktamar NU 2026:
1.Komodifikasi Politik Organisasi
NU secara historis memiliki basis massa riil yang sangat menggiurkan bagi para aktor politik. Jabatan strategis di PBNU kerap dipandang sebagai bargaining power (daya tawar) tinggi untuk pemilu maupun kebijakan nasional, sehingga memicu pihak luar dan faksi internal bertarung habis-habisan menggunakan gaya “manajemen parpol”.
2.Krisis Keteladanan dan Kerinduan akan Qanun Asasi
Sentilan Gus Irfan mengenai Qanun Asasi (prinsip dasar NU) menunjukkan adanya jurang pemisah antara nilai spiritualitas yang diwariskan KH Hasyim Asy’ari dengan realitas pragmatisme kepengurusan modern. Ketika jabatan dikejar—bukan dihindari—organisasi kehilangan muruah spiritualnya.
3.Guncangan di Akar Rumput (Nahdliyin)
Konflik terbuka yang sampai ke telinga publik ini berisiko memecah belah warga di tingkat struktural bawah (PCNU dan PWNU). Jika tidak diredam oleh para kiai sepuh, Muktamar Agustus 2026 berpotensi melahirkan polarisasi tajam yang dapat melemahkan peran sosial-keagamaan NU pasca-muktamar.














