MAKLUMAT — Di tengah semakin masifnya perjuangan perempuan dalam menghapus diskriminasi dan mendampingi korban kekerasan seksual, kita justru dihadapkan pada ironi yang patut menjadi refleksi bersama.
Saat banyak organisasi perempuan, komunitas mahasiswa, hingga lembaga layanan korban berupaya membangun ruang aman bagi perempuan, ruang publik justru kembali dipenuhi narasi yang merendahkan perempuan, bahkan dinyanyikan dan dipopulerkan oleh perempuan sendiri.
Kontroversi perubahan lirik lagu Gapapa maupun polemik lagu Lalaki Langit memperlihatkan bahwa karya budaya bukan sekadar hiburan, tetapi juga membentuk cara pandang masyarakat terhadap relasi laki-laki dan perempuan.
Ketika perempuan direduksi hanya sebagai objek, diposisikan sebagai pihak yang harus menerima perlakuan tidak adil, atau dipertentangkan dengan sesama perempuan demi validasi sosial, maka yang sedang diproduksi bukan sekadar lagu, melainkan normalisasi budaya patriarki.
Sebagai Bidang Immawati PC IMM Kota Surabaya, kami memandang bahwa persoalan ini tidak dapat disederhanakan sebagai selera musik atau kebebasan berekspresi semata. Yang perlu dikritisi adalah bagaimana narasi yang terus-menerus merendahkan perempuan berpotensi memperkuat stereotip, diskriminasi, bahkan membentuk penerimaan sosial terhadap ketidakadilan gender.
Konsep Internalized Misogyny
Praktik menciptakan atau menyebarkan karya yang merendahkan perempuan dapat dijelaskan melalui konsep internalized misogyny, yaitu kondisi ketika perempuan secara tidak sadar menginternalisasi nilai-nilai patriarki, kemudian mereproduksinya kembali melalui sikap, perilaku, maupun karya yang justru merendahkan perempuan lain.
Internalized misogyny tidak selalu muncul dalam bentuk kebencian yang terang-terangan, tetapi juga melalui candaan, lirik lagu, komentar, maupun penghakiman yang dianggap sebagai sesuatu yang “biasa”. Budaya patriarki ini mampu membentuk perempuan untuk saling membandingkan, saling merendahkan dalam bentuk rivalitas demi validasi sosial, dan mengikis empati serta solidaritas antar sesama perempuan.
Kondisi internalized misogyny ini membuat perempuan tanpa sadar menjadi agen yang melanggengkan sistem patriarki. Akibatnya, perjuangan kesetaraan menjadi semakin berat karena perempuan tidak hanya menghadapi diskriminasi dari luar, melainkan juga dari sesamanya.
Legitimasi terhadap diskriminasi perempuan sering kali bersembunyi di balik dalih norma sosial dan budaya yang dianggap wajar. Ketika masyarakat terus mentoleransi narasi yang merendahkan perempuan atas nama hiburan, tradisi, atau kebebasan berekspresi, maka sesungguhnya kita sedang membiarkan diskriminasi memperoleh ruang hidup yang baru.
Melawan Normalisasi Patriarki
Sebagai Bidang Immawati yang selama ini bergerak dalam advokasi perempuan, pendampingan korban kekerasan seksual, pendidikan kader, serta penguatan perspektif keadilan gender, kami merasakan kontradiksi yang nyata.
Di satu sisi, kami berupaya meyakinkan korban bahwa mereka berharga, layak didengar, dan berhak memperoleh keadilan. Namun di sisi lain, masyarakat masih disuguhi narasi populer yang secara halus mengajarkan bahwa perempuan adalah objek olok-olok, pihak yang harus menerima perlakuan tidak setara, atau bahkan saling menjatuhkan.
Padahal, sejumlah penelitian mengenai perjuangan perempuan menghadapi diskriminasi telah menunjukkan bahwa perubahan sosial menuju masyarakat yang lebih adil dan setara hanya dapat terwujud apabila perempuan membangun solidaritas, meningkatkan kesadaran kritis, serta terlibat aktif dalam meruntuhkan struktur patriarki. Perempuan tidak seharusnya menjadi alat reproduksi budaya yang merendahkan martabat perempuan lainnya.
Kami tidak sedang mengajak masyarakat untuk membenci karya seni ataupun membatasi kreativitas. Namun kami mengajak seluruh pihak musisi, kreator konten, tokoh publik, hingga masyarakat untuk menyadari bahwa setiap karya memiliki konsekuensi sosial. Karya budaya dapat menjadi sarana pemberdayaan, tetapi juga dapat menjadi medium yang memperkuat bias gender apabila tidak disusun dengan perspektif yang adil.
Sudah saatnya perempuan berhenti dijadikan objek komoditas budaya maupun saling menjatuhkan demi popularitas. Yang kita butuhkan hari ini bukan perempuan yang ikut melanggengkan patriarki, melainkan perempuan yang saling menguatkan, membangun ruang aman, dan menjadi bagian dari perubahan menuju masyarakat yang lebih adil, setara, dan bermartabat.
Karena perjuangan melawan kekerasan terhadap perempuan tidak cukup dilakukan melalui pendampingan kasus di ruang advokasi. Perjuangan itu juga harus dimulai dari keberanian mengkritisi setiap narasi yang menormalisasi pelecehan, diskriminasi, maupun perendahan terhadap perempuan siapa pun yang menyuarakannya.
*) Penulis: Ghina Ruqayatul Malihah
Ketua Bidang Immawati PC IMM Kota Surabaya














