Memantapkan Gerakan Muhammadiyah: Motor Inovasi Sosial, Social Entrepreneur, dan Social Enterprise

Penulis: Dr. Suyoto, M.Si.(Kang Yoto). *)

MAKLUMAT — Secara alamiah (by nature), Muhammadiyah adalah gerakan sosial berbasis pemecahan masalah (problem-based solution). Di mana ada masalah umat dan bangsa, di situ kader dan warga Muhammadiyah merasa terpanggil untuk hadir.

Semangat ini terekam jelas dalam lintasan sejarah sejak zaman KH. Ahmad Dahlan hingga hari ini. Berbagai solusi nyata terwujud dalam praktik organisasi: panti asuhan, Pelayanan Kesehatan Umum (PKU), gerakan kepanduan (Hizbul Wathan), hingga lembaga pendidikan mutakhir. Menariknya, seluruh aksi ini lahir dari semangat menghadirkan nilai keislaman dalam kerangka praksis—atau yang dalam kajian sosiologi agama dikenal sebagai ortopraksi Islam, yakni keyakinan agama yang diwujudkan melalui aksi dan praktik sosial nyata.

Dalam kacamata akademis modern, apa yang konsisten dilakukan Muhammadiyah tersebut tidak lain adalah inovasi sosial: sebuah solusi yang dirancang sengaja untuk menjawab masalah kemanusiaan demi kemaslahatan bersama.

Tulisan ini tidak bermaksud mengevaluasi praktik inovasi sosial Muhammadiyah. Namun, dari pergaulan dan pengamatan penulis dalam dinamika persyarikatan di tingkat Ranting, Cabang, hingga Daerah, ditemukan realitas yang menarik. Sebagian pimpinan dan kader sangat aktif melahirkan praktik inovasi sosial yang segar, sementara sebagian lainnya masih cenderung berkutat pada isu-isu faham keagamaan dan dinamika internal organisasi semata.

Padahal, keragaman masalah sosial yang dihadapi masyarakat di berbagai pelosok Indonesia menuntut kapasitas inovasi sosial dari seluruh aktivis Muhammadiyah di semua tingkatan. Gerakan sosial tidak bisa lagi dijalankan secara sentralistik. Diperlukan ketajaman membaca masalah lokal dan keberanian memberikan solusi kontekstual yang relevan dengan situasi setempat.

Menumbuhkan Skill Inovasi Sosial dan Kepemimpinan Ekosistem

Bagaimana agar para aktivis Muhammadiyah tampil lincah (agile) dan responsif sesuai spirit Islam Berkemajuan?

Para aktivis—baik yang mengemban amanah di struktur organisasi, Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), maupun gerakan otonom—perlu memperkuat diri dengan rangkaian keterampilan inovasi sosial.

Baca Juga  Terjun ke Politik Jadi Bagian dari Mengambil Peran Syiar Muhammadiyah

Keterampilan ini mencakup banyak hal, di antaranya kemampuan membaca dan memetakan masalah sosial (problem sensing); kemampuan komunikasi publik agar isu tersebut mendapatkan perhatian dan kepedulian bersama; perumusan gagasan solusi sosial (social solution design); pembuatan reka bentuk awal (prototyping) dan uji coba; implementasi di lapangan; serta refleksi dan pembelajaran atas praktik yang telah berjalan.

Sebagai organisasi keagamaan, proses kontekstualisasi keyakinan dan pemahaman agama tidak boleh berhenti pada pendekatan tarjih formal semata. Di sinilah ruang pemikiran Islam yang progresif diletakkan. Sementara dari sisi manajerial, kepemimpinan tim Muhammadiyah perlu ditingkatkan menjadi kepemimpinan ekosistem (ecosystem leadership)—kepemimpinan yang mampu merangkul, mengonsolidasi, dan menggerakkan berbagai pemangku kepentingan (stakeholders).

Dari Social Entrepreneur Menuju Social Enterprise

Jika praktik inovasi sosial ini hidup berkesinambungan di seluruh tingkatan organisasi, wajah Muhammadiyah sebagai social entrepreneur (pelaku inovasi sosial) akan kian terasa. Ketika dilakukan secara terstruktur, melembaga, dan sistematis, secara organisatoris Muhammadiyah mengukuhkan dirinya sebagai sebuah social enterprise yang dahsyat.

Sebagai social enterprise, sejak awal berdiri Muhammadiyah tidak canggung mengadopsi prinsip, praktik, hingga teknologi modern sebagai daya dukung (enabler) inovasi sosialnya. Keterbukaan ini membuat Muhammadiyah luwes menyerap berbagai praktik baik (best practices) dari mana pun asalnya tanpa pernah terjebak pada sekadar simbolisme identitas.

Keunggulan lain Muhammadiyah terletak pada model kepemimpinan kolektif-kolegial yang berhasil menghindarkan organisasi dari subjektivitas atau selera perorangan. Mekanisme permusyawaratan (Muktamar hingga Musyran) terbukti menjadi benteng kokoh dari intervensi luar maupun praktik money politics.

Bila modal sosial berupa kohesivitas dan keikhlasan ini dipadukan dengan jiwa social entrepreneurship serta budaya organisasi pembelajar (learning organization), dampak inovasi sosial Muhammadiyah akan jauh lebih luar biasa.

Baca Juga  Luncurkan Muhammadiyah Research School, IMM DIY Padukan Nalar Ilmiah dan Tanggung Jawab Sosial

5 Disiplin Organisasi Pembelajar Peter Senge

Sebagaimana temuan Peter Senge dalam karyanya The Fifth Discipline, learning organization adalah praktik efektif yang memungkinkan sebuah organisasi tetap hidup relevan dan adaptif melintasi perputaran abad. Senge merumuskan lima disiplin utama yang dapat diinternalisasikan ke dalam tubuh Muhammadiyah.

Adapun lima disiplin tersebut adalah keahlian Pribadi, model mental, visi bersama, pembelajaran berkelompok, serta berpikir sistem.

Sementara, kemungkinan prakteknya dalam tubuh Muhammadiyah di antaranya:

Pertama, Keahlian Pribadi (Personal Mastery). Kader dan pengelola AUM terus-menerus mengasah kapasitas diri, keahlian profesional, serta integritas moralnya, sehingga hadir sebagai individu yang kompeten dan tulus melayani. Masalah menjadi ruang pertumbuhan intelektual, emosional dan spiritual semua kader.

Kedua, Model Mental (Mental Models). Keberanian membongkar asumsi lama atau pola pikir kaku yang menyejarah, lalu membukanya dengan wawasan modern dan inklusif sesuai semangat keislaman berkemajuan.

Ketiga, Visi Bersama (Shared Vision). Menjadikan cita-cita “Masyarakat Islam yang Benar-benar Adil dan Makmur” bukan sekadar slogan Muktamar, melainkan kepemilikan bersama yang dipahami, hidup dan diperjuangkan hingga level Ranting.

Keempat, Pembelajaran Berkelompok (Team Learning). Menghidupkan tradisi dialog generative, diskusi kritis, refleksi dan kolaborasi antarmajelis, lembaga, serta AUM untuk memecahkan masalah kompleks secara bersama-sama, bukan secara silo/terkotak-kotak.

Kelima, Berpikir Sistem (Systems Thinking). Kemampuan melihat akar persoalan masyarakat secara menyeluruh dan saling terhubung—bukan sekadar mengobati gejala luar—sehingga solusi yang dihadirkan Muhammadiyah berdampak jangka panjang.

Bayangkan jika kelima disiplin ini berpadu dengan karakter pragmatisme berprinsip khas Muhammadiyah! Karakter di mana ajaran agama tidak berhenti sebagai ritual ibadah murni, melainkan diwujudkan menjadi manfaat sosial berlandaskan prinsip rahmatan lil ‘alamin.

Mengambil Peluang Kebajikan Sosial

Peluang untuk mengukir amal saleh lewat inovasi sosial terbuka sangat lebar di negeri ini. Peta masalah sosial dapat dibaca dengan mudah, misalnya melalui panduan Sustainable Development Goals (SDGs): kerusakan lingkungan, ketimpangan ekonomi, keterbelakangan, hingga marginalisasi.

Baca Juga  Muhammadiyah dan RCDS Inggris Bahas Krisis Iklim, Perdamaian Dunia, dan Kolaborasi Kemanusiaan

Semua persoalan tersebut memberi ruang lapang bagi lahirnya solusi-solusi baru. Muhammadiyah memiliki modal yang lengkap: kepercayaan publik (public trust), ulama, akademisi, jaringan infrastruktur, aktivis militan, serta struktur kepemimpinan di setiap tingkatan. Modal ini berpeluang melahirkan: instrumen pemecah masalah yang solutif, kerangka relasi sosial baru yang inklusif, transformasi ekosistem dan ruang diskursus generatif—sebuah ruang dialog kritis yang sehat untuk menumbuhkan daya kritis pelaku inovasi sosial sekaligus menjaga mekanisme koreksi diri (self-correcting mechanism) dalam tubuh organisasi.

Menjawab Panggilan Ilahi

Secara spiritual, seluruh ikhtiar inovasi sosial ini adalah bentuk komitmen atas panggilan Allah dan Rasul-Nya untuk menjadikan Islam sebagai ajaran yang menghidupkan: “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah panggilan Allah dan Rasul apabila Dia memanggil kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu, …”(QS. Al-Anfal: 24)

Langkah ini sekaligus bentuk kepedulian untuk mencegah bencana sosial akibat kezaliman atau kelalaian bersama (QS. Al-Anfal: 25).

Allah SWT menegaskan pentingnya orientasi dan kontribusi nyata setiap umat:

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيَهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148)

Mari kita perhebat gerakan inovasi sosial ini. Bukan untuk bersaing egois dengan siapa pun, melainkan sebagai ikhtiar terbaik untuk melangkah maju, menghadirkan versi kepemimpinan dan gerakan sosial paling berdampak bagi kemanusiaan dan kebangsaan.

Jika sepaham dengan ide ini, tentu diperlukan penguatan kapasitas dan skill social innovation, serta sosial entrepreneurs dan sosial enterprise.

Jakarta, 3 Oktober 2026

*) Penulis: Dr. Suyoto, M.Si.
Pengajar Universitas Muhammadiyah Gresik; Bupati Bojonegoro 2008-2018