Membaca Arah Angin Ponorogo: Manifesto Pohon Peradaban Pemuda Muhammadiyah

Penulis: Darmanto Saputro. *)

MAKLUMAT — Setiap kali sebuah organisasi kepemudaan menggelar karpet merah rapat koordinasi, selalu ada kecemasan yang berulang: apakah kita sedang merawat gerakan, atau sekadar merayakan ritus birokrasi? Diskusi yang membakar ruang-ruang sidang kerap menguap begitu saja saat pintu keluar diketuk. Di tengah zaman yang berlari tanpa rem, di mana algoritma digital mendikte kesadaran manusia, Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) Pemuda Muhammadiyah Ponorogo tahun ini harus menjadi sebentuk pertobatan ekologis-organisatoris. Kita tidak sedang menyusun lembar rekomendasi; kita sedang menanam sebuah pohon peradaban melalui tiga laku utama: Bertumbuh, Berakar, dan Berdampak.

Tumbuh Menembus Langit Zaman

Laku pertama adalah Bertumbuh. Di bawah langit disrupsi, pertumbuhan tidak boleh lagi dihitung dari deretan angka di atas kertas presensi. Kita menyaksikan generasi hari ini tumbuh di dalam genggaman layar digital, namun sering kali rapuh dalam kedalaman. Bagi Pemuda Muhammadiyah Ponorogo, bertumbuh adalah memperlebar sayap kompetensi, menjinakkan kecerdasan buatan, dan menegakkan kedaulatan ekonomi dari bawah.

Kitab suci telah menghentak kesadaran kita melalui Surah Ar-Ra’d ayat 11, bahwa perubahan nasib sebuah kaum bermula dari rahim transformatif diri mereka sendiri. Kita tidak bisa menuntun masa depan bumi Reog jika lentera literasi digital kita padam, atau jika isi dompet kader masih digantungkan pada belas kasihan eksternal. Maka, menumbuhkan ekosistem kewirausahaan (fatsun ekonomi) adalah fardu kifayah gerakan. Membawa sektor pertanian lokal, geliat UMKM, dan industri kreatif Ponorogo ke altar modernisasi adalah cara kita menerjemahkan ayat tersebut. Kita bertumbuh bukan untuk menjadi raksasa yang menakuti, melainkan menjadi menara yang meninggikan kalimat dakwah amar ma’ruf nahi munkar.

Baca Juga  Pemuda Muhammadiyah Aceh Kutuk Keras Perusakan Lingkungan yang Picu Longsor dan Banjir

Akar yang Memeluk Bumi Reog

Namun, sejarah selalu mengingatkan bahwa pohon yang tumbuh terlalu tinggi tanpa jangkar yang kuat hanya sedang memesan tempat untuk tumbang diterjang badai. Di sinilah laku kedua menuntut kesetiaan: Berakar. Akar Pemuda Muhammadiyah adalah kesucian tauhid, ideologi Islam berkemajuan, dan denyut nadi masyarakat kelas bawah.

Allah SWT melukiskan metafora keindahan ini dalam Surah Ibrahim ayat 24: sebuah pohon yang baik ditandai dengan ashluha tsabit—akarnya teguh menghujam ke rahim bumi, sementara cabangnya bebas menari memeluk langit. Bagi kita yang bernapas di Ponorogo, berakar berarti meluruhkan ego elitis untuk kemudian memeluk kebudayaan lokal.

Pemuda Muhammadiyah tidak boleh hadir sebagai orang asing yang angkuh di tanah Reog. Tradisi dan kearifan lokal bukan musuh yang harus diberangus, melainkan kanvas kebudayaan yang musti kita warnai dengan kuas Islam yang mencerahkan, inklusif, dan berkemajuan. Penguatan perkaderan formal seperti Baitul Arqam adalah ritus sakral untuk memastikan bahwa sekencang apa pun angin modernitas meniup daun-daun kita, hati kita tetap terikat pada akar sejarah KH. Ahmad Dahlan.

Berbuah dalam Sunyi, Berdampak dalam Nyata

Puncak dari segala pengorbanan bertumbuh dan keteguhan berakar adalah laku ketiga: Berdampak. Pohon yang rimbun tak akan pernah dipuji jika ia mandul tanpa buah. Organisasi ini akan kehilangan legitimasi moralnya jika hanya pandai berdebat tentang teks-teks langit di dalam menara gading, sementara tetangga di samping sekretariat kita masih didera lapar dan kebodohan.

Baca Juga  Pemuda Muhammadiyah Apresiasi Hadirnya Dua Perguruan Tinggi Baru di Kota Subulussalam

Al-Qur’an dalam Surah Ali Imran ayat 110 meletakkan mahkota “umat terbaik” bukan karena kesalehan ritual yang egois, melainkan karena karakter ukhrijat lin-naas—dilahirkan dan dihibahkan hidupnya untuk kemaslahatan manusia. Frasa ini adalah mandat ideologis bagi Pemuda Muhammadiyah Ponorogo untuk turun tangan membedah persoalan riil di daerah. Kita harus hadir di garis depan saat kemiskinan mencekik, ketika anak-anak pinggiran kehilangan bangku sekolah, atau saat kelestarian alam Ponorogo mulai dikhianati.

Di panggung publik, Pemuda Muhammadiyah harus menjelma menjadi “suara bagi mereka yang tak bisa bersuara”. Ketika kita melayangkan kritik kepada pemerintah daerah, kritik itu tidak boleh lahir dari syahwat politik pragmatis, melainkan dari kedalaman data dan ketulusan solusi. Kita ingin memastikan bahwa ketika Pemuda Muhammadiyah berbicara, ada angin segar yang mengusir sumpeknya ruang publik.

Sebuah Janji Pulang

Bertumbuh, Berakar, dan Berdampak bukanlah untaian kata mutiara yang berbaris rapi di atas baliho kegiatan. Ketiganya adalah sebuah ekosistem spiritual yang tak boleh saling mengkhianati. Kita bertumbuh dalam kecerdasan, berakar dalam keimanan dan tradisi, demi menghasilkan buah dampak yang manis bagi seluruh masyarakat Ponorogo.

Rapimda ini adalah momentum untuk pulang. Pulang ke khittah perjuangan, pulang ke pelukan rakyat. Sudah saatnya kita membuktikan bahwa pemuda bukan sekadar komoditas politik dalam angka bonus demografi, melainkan sutradara utama yang merajut tenun kemajuan Ponorogo masa depan.

Baca Juga  Pemuda Muhammadiyah: Tuduhan Ijazah Palsu Jokowi adalah Fitnah Tak Berdasar

Billahi fii sabillihaq fastabiqul khoirot
Nasrun minallahi wa fathun qarib.***

 

*) Penulis: Darmanto Saputro
Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Ponorogo