“Menolak Punah”: Pemuda Malang Raya Gaungkan Gaya Hidup Berkelanjutan

Para peserta diskusi dan nobar film "Menolak Punah". (Foto: Dok. Panitia)

MAKLUMAT — Semangat membangun gaya hidup berkelanjutan digaungkan para pemuda dan pelajar di Malang Raya melalui kegiatan diskusi dan nonton bareng (nobar) film dokumenter “Menolak Punah”, yang dilaksanakan di SNI Kopi, Jumat (22/5/2026).

Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi antara Kader Hijau Muhammadiyah (KHM) Malang Raya, Zona Bening, Gelap Terang Pustaka Jalanan, dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Jawa Timur.

Selain menghadirkan ruang diskusi mengenai isu lingkungan dan budaya konsumtif, kegiatan ini juga menggaungkan kampanye sederhana dengan mengajak peserta mengenakan pakaian atau membawa barang terlama yang masih mereka miliki.

Dalam sesi berbagi cerita, peserta diminta menceritakan nilai dan kenangan yang tersimpan dari barang yang mereka gunakan sebagai bentuk refleksi terhadap budaya konsumsi cepat yang semakin berkembang.

Salah satu peserta, Agnes, membagikan kisah mengenai barang miliknya yang telah digunakan sejak dirinya masih bayi dan tetap tersimpan hingga sekarang.

Barang tersebut telah bertahan hampir 18 tahun dan menurutnya menjadi simbol kenangan sekaligus bentuk kepedulian terhadap penggunaan barang secara berkelanjutan.

“Barang itu masih ada sampai sekarang dan harapannya nanti bisa digunakan lagi untuk anak saya di masa depan,” ungkap Agnes di hadapan para leserta nobar dan diskusi.

Baca Juga  Agenda Politik Anak Muda: Bangun Partai, Bangun Elektoral, Ajukan Presiden

Cerita tersebut mendapat tanggapan dari Rere—pemantik diskusi dari Zona Bening. Ia menilai kebiasaan menggunakan barang dalam jangka panjang sebenarnya telah lama hidup di tengah masyarakat sebelum budaya konsumsi modern berkembang pesat.

“Memang seharusnya seperti itu. Barang yang kita gunakan bisa dipakai berulang sampai masa depan anak cucu kita. Bahkan barang yang kita sayangi, ketika diberikan kepada orang lain, biasanya kita percaya bahwa orang tersebut juga bisa menjaga dan menyayangi barang itu,” jelas Rere.

Melalui kegiatan tersebut, para peserta diajak memahami bahwa menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar, melainkan dapat dilakukan melalui kebiasaan sederhana seperti merawat, menggunakan ulang, dan menghargai barang yang dimiliki.

Kampanye itu sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap barang memiliki nilai, cerita, dan perjalanan yang tidak harus berakhir hanya karena perubahan tren konsumsi ataupun gaya hidup.