MAKLUMAT — Penerapan mesin pengering hemat energi membantu pelaku UMKM kerupuk di Kenjeran, Surabaya, memangkas waktu produksi sekaligus mengurangi ketergantungan pada cuaca. Teknologi tersebut menjadi bagian dari pendampingan yang dilakukan tim pengabdian Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA).
Ketua tim pengabdian, Halimatus Sa’diyah, mengatakan kegiatan tersebut diarahkan untuk membantu pelaku UMKM meningkatkan efisiensi produksi dan menjaga kualitas produk. Pendampingan juga diberikan agar usaha mitra dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar.
“Penerapan teknologi harus diikuti dengan penguatan manajemen usaha dan pemasaran. Karena itu, program ini tidak hanya berfokus pada mesin pengering, tetapi juga bagaimana produk UMKM memiliki daya saing dan usaha dapat berkembang secara berkelanjutan,” ujarnya kepada wartawan Maklumat.id pada Jumat (21/8/2026).
Upaya meningkatkan daya saing pelaku UMKM dilakukan melalui penerapan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan produksi. Hal itu diterapkan dalam pelatihan dan pendampingan UMKM Kerupuk Kenjeran melalui Mesin Pengering Hemat Energi di Kenjeran, Surabaya, pada Ahad (16/8/2026) silam.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program DPPM Kemendiktisaintek 2026 yang dilaksanakan tim pengabdian UMSURA bersama mitra UMKM kerupuk di Kenjeran. Program ini memadukan penerapan teknologi pengeringan dengan pendampingan pemasaran dan manajemen usaha.
Ketergantungan Pada Cuaca
Sebelum menggunakan mesin pengering, proses pengeringan kerupuk sangat bergantung pada kondisi cuaca. Ketika hujan atau matahari tidak cukup terik, proses produksi ikut melambat. Kondisi tersebut dapat mengganggu pemenuhan permintaan dan membuat jumlah produksi tidak menentu.
Mesin pengering hemat energi kemudian diperkenalkan untuk membuat proses pengeringan lebih terkontrol. Waktu pengeringan yang sebelumnya membutuhkan sekitar 24 hingga 72 jam dapat dipangkas menjadi 4 hingga 6 jam setelah penerapan teknologi tepat guna tersebut.
Perubahan juga terlihat pada kapasitas produksi harian. Sebelum penerapan mesin, mitra mampu menghasilkan sekitar 20 hingga 30 kilogram kerupuk per hari. Setelah menggunakan mesin pengering, kapasitas produksi meningkat menjadi sekitar 50 hingga 80 kilogram per hari.
“Dengan mesin ini, proses pengeringan tidak lagi terlalu bergantung pada cuaca. Mitra bisa mengatur proses produksi dengan waktu yang lebih singkat sehingga kapasitas produksi dapat ditingkatkan,” jelasnya.
Pendampingan tidak berhenti pada penggunaan mesin. Tim pengabdian juga memberikan penguatan mengenai mix marketing kepada pelaku UMKM. Materi tersebut mencakup pengembangan produk, penentuan harga, perluasan saluran distribusi, dan kegiatan promosi.
Tim juga mendampingi mitra dalam mengelola usaha agar peningkatan produksi dapat diikuti dengan pengelolaan yang lebih baik. Pelaku UMKM diarahkan untuk melakukan pencatatan usaha, mengendalikan biaya produksi, menjaga kualitas, serta menyusun rencana pengembangan usaha.
Dalam pelaksanaannya, tim melakukan sosialisasi dan pendampingan pemasaran serta manajemen usaha. Mitra juga dilatih agar dapat mengoperasikan dan memanfaatkan mesin pengering secara mandiri dalam kegiatan produksi sehari-hari.
Program tersebut diharapkan memberi manfaat dalam jangka panjang bagi UMKM kerupuk di Kenjeran. Peningkatan efisiensi produksi diharapkan berjalan bersama dengan perbaikan kualitas produk, pemasaran, dan pengelolaan usaha.
“Harapannya, teknologi yang sudah diterapkan dapat dimanfaatkan secara mandiri oleh mitra dan menjadi bagian dari pengembangan usaha mereka ke depan,” pungkasnya.
*) Penulis: M Habib Muzaki













