Meski Tak Akui Rezim Maduro di Venezuela, Spanyol Tolak Intervensi Eksternal: Melanggar Hukum Internasional

Meski Tak Akui Rezim Maduro di Venezuela, Spanyol Tolak Intervensi Eksternal: Melanggar Hukum Internasional

MAKLUMAT — Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mendukung intervensi eksternal apa pun di Venezuela yang melanggar hukum internasional dan berisiko meningkatkan ketegangan regional.

Dalam unggahannya di akun media sosial (medsos) X @sanchezcastejon pada Sabtu (3/1/2026), Sanchez menyebut bahwa Spanyol tidak mengakui rezim Nicolas Madura di Venezuela. Namun, ia juga menentang segala intervensi dari luar terhadap negara tersebut yang melanggar hukum internasional.

“Spanyol tidak mengakui rezim (Nicolas) Maduro (Presiden Venezuela). Tetapi Spanyol juga tidak akan mengakui intervensi yang melanggar hukum internasional dan mendorong kawasan ini menuju ketidakpastian dan permusuhan,” tulis Sanchez dalam unggahannya.

Lebih lanjut, ia meminta kepada semua pihak untuk mengedepankan kepentingan rakyat dan menghormati Piagam PBB. Ia juga mendesak semua pihak untuk membangun proses transisi yang adil dengan mengedepankan dialog.

“Kami menyerukan kepada semua pihak untuk memikirkan penduduk sipil, menghormati Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan merumuskan transisi yang adil dan melalui dialog,” tandas Sanchez.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan telah melancarkan operasi serangan besar-besaran ke Venezuela dan “berhasil” menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta sang istri, Cilia Flores.

Baca Juga  Muhammadiyah Desak PBB Akhiri Ketegangan Palestina-Israel, Siap Kirim Relawan dan Bantuan

Kabar beredar menyebut bahwa serangan dan penangkapan terhadap Maduro dilakukan oleh unite elite Delta Force AS, di mana sejumlah media melaporkan adanya bunyi dentuman ledakan keras di wilayah Caracas pada Sabtu (3/1/2026) dini hari waktu setempat.

Dalam pidatonya saat mengumumkan penangkapan Maduro pada Sabtu siang, Trump mengatakan bakal “mengelola” Venezuela hingga dapat melakukan transisi kekuasaan yang aman, tepat, dan bijaksana. “Kami akan menjalankan negara itu, sampai saatnya kami dapat melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana,” ujar Trump, dikutip dari BBC.

Trump menyebut, keputusan itu akan secara efektif menempatkan Venezuela di bawah administrasi sementara yang didukung, jika bukan dikelola langsung oleh Amerika Serikat. Meski begitu, ia tidak memberikan garis waktu secara spesifik, hanya menyatakan bahwa tujuan utamanya adalah mencegah terulangnya situasi politik yang sama seperti pada masa kekuasaan Maduro.

“Jadi kami tidak ingin terlibat dengan orang lain yang kemudian berkuasa dan kita mengalami situasi yang sama seperti yang kita alami selama bertahun-tahun terakhir,” tandas Trump.

“Jadi kami akan menjalankan negara ini sampai saatnya kami dapat melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana, dan itu harus bijaksana karena itulah tujuan kami,” imbuhnya.

Trump mengklaim, AS hanya menginginkan stabilitas dan perdamaian. Ia berkelakar melakukan semua ini hanya supaya rakyat Venezuela memperoleh keadilan dan kebebasan. “Kami menginginkan perdamaian, kebebasan, dan keadilan bagi rakyat Venezuela yang hebat,” kelakar Trump.

Baca Juga  Saudi-Pakistan Teken Pakta Pertahanan: Lahirnya “NATO Muslim”?

Serangan AS ke Venezuela tersebut sontak langsung mendapatkan respons dari berbagai negara, termasuk Rusia dan China yang mengecam aksi invasif itu. Sementara itu, Indonesia menyerukan kepada semua pihak untuk menahan diri dan melakukan deeskalasi, serta mengedepankan penyelesaian masalah kedua belah pihak melalui dialog.

*) Penulis: Ubay NA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *