MAKLUMAT — Ketua Umum DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Riyan Betra Delza menyampaikan pidato reflektif dalam peringatan Milad ke-62 IMM pada Sabtu (14/3/2026). Ia menegaskan bahwa IMM bukan sekadar organisasi kemahasiswaan, tetapi gerakan ideologis yang memiliki peran penting dalam perubahan sosial dan kemajuan bangsa.
Riyan menegaskan bahwa IMM sejak awal berdirinya telah membawa misi besar sebagai gerakan intelektual dan kemanusiaan yang berakar pada nilai-nilai Islam berkemajuan.
“Hari ini kita tidak sedang berbicara tentang sebuah organisasi biasa, kita sedang berbicara tentang gerakan ideologis gerakan intelektual dan gerakan kemanusiaan yang bernama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. IMM bukan sekadar tempat berhimpun, ia adalah rahim peradaban tempat gagasan dirawat, nurani diasah, dan keberanian dilahirkan,” ujarnya.
Pada Milad ke-62 ini, IMM mengusung tema “Bergerak dan Berdampak untuk Indonesia.” Tema tersebut, kata Riyan, bukan sekadar slogan, melainkan panggilan sejarah bagi seluruh kader IMM untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa.
“Tema ini bukanlah slogan kosong, ia adalah panggilan sejarah. Seorang toko besar dunia, Nelson Mandela, pernah berkata pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia. IMM berdiri di atas fondasi itu, pendidikan, pencerahan, dan pembebasan,” katanya.
Ia menekankan bahwa mahasiswa tidak cukup hanya memiliki kecerdasan akademik. Kader IMM juga harus memiliki kecerdasan moral dan sosial agar mampu menjawab tantangan zaman.
“Sebagai mahasiswa kita tidak cukup untuk cerdas secara akademik, kita harus cerdas secara moral, cerdas secara sosial, dan cerdas dalam membela zaman. Gerakan tanpa dampak adalah gema tanpa suara. Dampak lahir dari keberanian untuk turun tangan, bukan hanya angkat tangan,” tegasnya.
Riyan juga mengingatkan pesan tokoh dunia, Mahatma Gandhi, tentang pentingnya menjadi aktor perubahan itu sendiri.
“Mahatma Gandhi pernah mengingatkan kita be the chance death you wish to see in the world, jadilah perubahan yang ingin kamu lihat di dunia. maka IMM tidak boleh hanya mengkritik realitas, IMM harus menjadi solusi atas realitas itu, tidak cukup hanya menjadi penonton demokrasi, kita harus menjadi penuntun arah demokrasi. Tidak cukup hanya mengeluhkan ketidakadilan, kita harus berdiri di garis depan memperjuangkan keadilan,” ujarnya.
Lebih lanjut, dalam konteks kebangsaan, Riyan menilai Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan besar, mulai dari disrupsi teknologi, polarisasi sosial, krisis integritas, hingga ancaman lunturnya nilai-nilai kebangsaan.
“Indonesia hari ini menghadapi tantangan besar disrupsi teknologi, polarisasi sosial, kritis integritas, hingga ancaman lunturnya nilai-nilai kebangsaan. Di sinilah IMM mengambil peran strategis. Sebagai anak kandung gerakan tajdid, IMM mewarisi semangat pembaruan dari KH Ahmad Dahlan, bahwa Islam harus hadir sebagai solusi kemajuan, bukan sekadar simbol identitas,” katanya.
Ia juga mengutip pesan Martin Luther King tentang pentingnya memperjuangkan keadilan. Sebab itu, ia menandaskan bahwa kader-kader IMM harus religius dalam spiritualitas, progresif dalam pemikiran, dan humanis dalam tindakan.
“Kita harus menjadi kader yang religius dalam spiritualitas, progresif dalam pemikiran, dan humanis dalam tindakan, seperti yang dikatakan Martin Luther King, injustice anywhere is a threat to justice everywhere, ketidakadilan di mana pun merupakan ancaman bagi keadilan. Di mana pun ketidakadilan, di sudut mana pun negeri ini, adalah panggilan bagi kader IMM untuk bergerak,” ujarnya.
Tak cuma itu, Riyan juga menegaskan bahwa gerakan IMM harus dilakukan secara terarah, berbasis ilmu, serta membawa dampak nyata bagi masyarakat.
“Bergerak bukan berarti gaduh, bergerak berarti terarah, bergerak berarti berbasis ilmu, bergerak berarti membawa dampak nyata bagi masyarakat, dalam diskusi kita tajam dalam analisis, dalam aksi kita santun dalam etika, dalam pengabdian kita tulus tanpa pamrih,” katanya.
View this post on Instagram
Ia juga menegaskan peran IMM di berbagai ruang, baik di kampus, masyarakat, maupun dalam kehidupan kebangsaan.
“IMM harus hadir di kampus sebagai kekuatan internal yang mencerahkan. IMM harus hadir di tengah masyarakat sebagai kekuatan sosial yang memberdayakan. IMM hadir di ruangan kebangsaan sebagai kuatan moral yang menjaga identitas, sebagaimana Soekarno pernah menyerukan beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia,” ujarnya.
Riyan optimis kader-kader IMM dapat menjadi harapan masa depan bangsa jika memiliki visi, integritas, dan keberanian moral.
“IMM adalah kumpulan pemuda terdidik, jika kader-kadernya memiliki visi integritas dan keberanian moral, maka Indonesia tidak akan kekurangan harapan. Immawan dan Immawati yang saya banggakan, kita tidak hidup untuk menjadi biasa-biasa saja. Kita hidup untuk menjadi berarti,” katanya.
Ia pun mengajak seluruh kader IMM memastikan organisasi tersebut tidak hanya besar secara struktur, tetapi juga nyata dalam kontribusi.
“Mari pastikan IMM bukan hanya besar dalam struktur, tetapi besar dalam kontribusi. Bukan hanya kuat dalam retorika, tetapi kuat dalam karya. Bukan hanya solid dalam barisan, tetapi solutif dalam tindakan. Karena pada akhirnya sejarah tidak mencatat siapa yang paling banyak berbicara, tetapi siapa yang paling banyak memberi arti,” tuturnya.
Mengakhiri pidatonya, Riyan menegaskan komitmen IMM untuk terus bergerak, mencerahkan, dan memberi dampak bagi Indonesia.
“IMM bergerak, IMM mencerahkan, IMM berdampak, dan untuk Indonesia kita tidak hanya hadir, kita mengubah. Selamat milad ke-62 tahun IMM, abadi perjuangan kita semua,” pungkas pemuda asal Sumatera itu.













