MAKLUMAT — Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menemukan perkembangan baru terkait operasi judi online. Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Komdigi, Alexander Sabar mengungkapkan bahwa operasi spam ini telah meluas secara bersamaan dan mulai menyasar influencer dan konten kreator daerah.
“Kami mendeteksi perluasan operasi spam judi online kini tidak lagi terbatas pada satu platform digital saja. Selain Instagram aktivitas serupa juga teridentifikasi secara bersamaan di TikTok, Facebook, X, dan YouTube,” ujarnya, melansir dari siaran pers Komdigi pada Rabu (1/7/2026).
Dengan meluasnya operasi spam tersebut, terjadi pergeseran sasaran penyebaran. Sebelumnya operasi spam ini banyak menyasar akun media sosial pemerintah, kini sekitar 52 persen secara aktif mengincar akun influencer dan konten kreator daerah dengan jumlah pengikut tinggi.
Dirjen Alexander menjelaskan beberapa alasan mengapa sasaran penyebaran ini mengalami perubahan, yaitu karena audiens lokal yang dinilai memiliki keterlibatan kuat dan kepercayaan tinggi dengan kreator daerah. Selain itu, moderasi komentar yang lebih rendah membuat komentar promosi judi online berpotensi bertahan lebih lama dan menjangkau lebih banyak pengguna.
Ia juga menyampaikan bahwa Instagram dan TikTok menjadi platform dengan volume serangan tertinggi karena penetrasi konten kreator daerah yang tinggi. Sementara itu, Threads belum menjadi target utama karena basis penggunanya yang masih relatif kecil.
Hal tersebut dinilai telah menunjukkan bahwa pelaku menyesuaikan strategi penyebaran dengan pola konsumsi media sosial. Alexander juga menambahkan terkait penggunaan mesin otomatis berbasis bot dari India dan Brazil untuk menjalankan operasi spam ini.
“Seluruh operasi ini dijalankan menggunakan mesin otomatis berbasis bot dari India dan Brazil, dikendalikan oleh jaringan agen WNI yang merupakan bagian dari ekosistem white-label dengan lebih dari 138 agen aktif,” tuturnya.
Ia memperingatkan adanya potensi peningkatan operasi spam dalam waktu dekat, terutama selama Piala Dunia berlangsung. “Selama Piala Dunia berlangsung hingga 19 Juli 2026, potensi eskalasi masih sangat terbuka,” imbuhnya.
Menanggapi hal tersebut, Komdigi terus memperkuat koordinasi dengan penyelenggara platform digital agar mempercepat penanganan akun yang terindikasi menyebarkan promosi judi online. Komdigi juga mengajak masyarakat untuk tidak mengakses, membagikan, maupun berinteraksi dengan konten promosi judi online.
“Partisipasi aktif masyarakat melaporkan akun atau konten yang terindikasi melanggar menjadi langkah penting untuk mempersempit ruang gerak pelaku dan menjaga ruang digital Indonesia tetap aman dan sehat,” ungkap Alexander mengakhiri pernyataannya.
*) Penulis: Fatin Azmi Fauziyah













