22.4 C
Malang
Minggu, Februari 25, 2024
OpiniMuhadjir Effendy, Silent Worker yang Menghindari Gemerlap Pencitraan

Muhadjir Effendy, Silent Worker yang Menghindari Gemerlap Pencitraan

Menko PMK Muhadjir Effendy.

APABILA membaca rekam jejak Muhadjir Effendy yang tersurat dan tersirat dalam Biografi Intelektual bertajuk ”Merawat Matahari,” maka tergambar sosoknya sebagai aktivis terpelajar. Mulai dari masa pelajar (sebagai aktivis PII), dan masa mahasiswa (sebagai aktivis HMI), sampai sebagai aktivis Muhammadiyah.

Melalui tradisi dan pergerakan Islam telah membentuk Muhadjir tampil di tengah-tengah arus pluralitas agama dan budaya di Indonesia. Juga mampu berada di tengah-tengah percaturan politik kebangsaan, baik sebelum maupun sesudah reformasi.

Kemampuan organisasi yang diikuti dengan kapasitas intelektual yang luas sangat melekat di dalam diri Muhadjir Effendy. Tokoh penting Muhammadiyah yang kini meneruskan perjuangan politik Guru Bangsa Abdul Malik Fadjar.

Sekilas, Sosok Muhadjir Effendy memang terlihat kalem dan tenang, tapi di dalam pikirannya tersimpan banyak ide yang bisa bermanfaat untuk membangun bangsa Indonesia. Di antara sekian banyak dimensi kehidupannya, sisi Muhadjir sebagai seorang pendidik dan aktivis atau penggerak organisasi terus melekat hingga saat ini.

Pada usia yang masih sangat belia, sebagai seorang pelajar, pria yang kini menjabat sebagai Menko PMK tersebut telah terlibat dalam aktivisme sebuah organisasi pelajar yang usianya cukup tua, yakni Pelajar Islam Indonesia (PII).

Seperti tak lelah berorganisasi, pada saat menjalani kehidupan sebagai mahasiswa, dia juga menerjunkan diri dalam organisasi kemahasiswaan, dan di masa kematangan intelektualnya, ia berperan aktif di organisasi kemasyarakatan dan keagamaan modernis, yaitu Muhammadiyah baik di tingkat wilayah maupun pusat.

Rekam jejak sebagai aktivis terpelajar membentuk kapasitas Muhadjir Effendy sebagai orang yang senantiasa bergerak untuk melakukan perubahan, menciptakan inovasi, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar terus dapat memberikan sumbangsih kongkret untuk membangun bangsa Indonesia tanpa melihat status sosial yang dimiliki. Tidak hanya itu, Muhadjir Effendy juga dikenal sebagai pribadi yang lihai dalam memimpin. Hal ini tercatat dalam perjalanan hidupnya yang pernah menjadi Ketua Cabang HMI Malang Raya dan menjadi Rektor UMM selama belasan tahun.

Jangkauan pemikiran Muhadjir Effendy sebagai seorang aktivis terpelajar menjadikannya pribadi yang senantiasa membuat pembaharuan. Semangat yang dimiliki tidak lepas dari pengalamannya selama puluhan tahun menjadi seorang aktivis sekaligus pelajar yang hasilnya didedikasikan untuk membangun pendidikan di Universitas Muhammadiyah Malang.

Bahkan, Buya Syafi’i Ma’arif memuji dedikasi Muhadjir Effendy sebagai seorang penggerak pendidikan yang berdedikasi tinggi dan sangat konsisten dalam membangun pendidikan sampai-sampai melupakan kehidupan pribadinya sendiri.

Tidak hanya di dunia pendidikan, Muhadjir Effendy justru memiliki kemampuan untuk membicarakan banyak hal. Termasuk dinamika dan sejarah militer di Indonesia. Dia bisa dengan lincah bertutur tentang teori-teori pertahanan, seluk beluk dunia tentara, atau sisi-sisi sejarah militer yang barangkali tak diketahui banyak orang. Seperti hafal di luar kepala, Muhadjir lancar bertutur tentang KNIL (tentara Indonesia zaman Belanda), PETA (Pembela Tanah Air), kavaleri dan infanteri, Kopassus, sejarah Jenderal Soedirman yang alumni Hizbul Wathan Muhammadiyah, hingga isu soal friksi-friksi dalam dunia militer, dan sistem persenjataan militer.

Minatnya pada kajian militer, lebih jauh, telah menjadikan dia juga dekat dengan sejumlah petinggi militer di Indonesia. Tentu tak terlalu mengherankan jika Muhadjir memiliki pengetahuan yang memadai tentang militer, karena memang dia mengkhususkan diri pada kajian ini. Puncaknya, dia menulis disertasi tentang dinamika militer Indonesia yang kemudian dibukukan menjadi Jati Diri dan Profesi TNI: Studi Fenomenologi (UMM Press, 2009).

Ini bukanlah sebuah kebetulan. Pastilah ada sebab-sebab historis yang menjadikan Muhadjir memiliki perhatian khusus pada dunia militer. Selain buku yang dihasilkan dari dari disertasi ini, sebagai seorang intelektual, Muhadjir juga telah menulis sejumlah buku, yaitu: Pedagogi Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Multidimensional (UMM Press, 2004); Masyarakat Equilibrium: Meniti Perubahan dalam Bingkai Keseimbangan (Bentang Budaya, Yogyakarta, 2002); dan Dunia Perguruan Tinggi dan Kemahasiswaan (UMM Press, 1989), yang dia tulis bersama Malik Fadjar.

Muhadjir juga tergolong rajin menulis artikel di sejumlah media massa, terlebih saat ia dulu aktif di dunia jurnalistik semasa menjadi mahasiswa di IKIP Malang.

Besar tanpa Pencitraan

Nama besar Muhadjir Effendy jika ditelusuri dengan cermat tidaklah terbangun dengan proses pencitraan layaknya kebanyakan politikus saat ini. Muhadjir Effendy justru terbangun dengan kemampuan besar sebagai seorang pemimpin yang kaya dengan ilmu pengetahuan, inovasi, dan kecemerlangan gerakan sejak masih muda. Prestasi dan karyanya sudah diakui banyak orang, khususnya orang-orang yang sudah lama bercengkarama dengan dirinya. Dia seorang silent worker. Bekerja keras tanpa gemerlap lampu sorot pencitraan.

Sewaktu masih menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menggantikan Anies Baswedan, beberapa kebijakannya memang dikritik oleh berbagai pihak, namun membuahkan hasil yang positif bagi perkembangan pendidikan di Indonesia. Sehingga tidak salah jika nama besarnya menghantarkan beliau sebagai salah satu kandidat cawapres di Pilpres 2024 mendatang. Sebab, kegemilangan berpikir yang sudah diakui dan kebijakan yang sangat memperhatikan kemaslahatan bangsa Indonesia.

Muhadjir juga merupakan menteri di dalam kabinet Jokowi-Ma’ruf yang jauh dari isu negatif. Sosoknya dianggap sebagai salah satu menteri terbersih dari kasus korupsi dan kasus kriminal lain. Selain itu, dirinya juga sering dipercaya untuk menjalankan kebijakan-kebijakan presiden di wilayah kesejahteraan sosial, khususnya di wilayah pemberantasan stunting dan kemiskinan ekstrem. Selain karena tugas utamanya sebagai pembantu presiden, wilayah kesejateraan sosial memang sudah sangat melekat di dalam diri Muhadjir sebelum ditunjuk menjadi menteri.

Dalam biografinya tertulis bahwa sewaktu masih menjabat sebagai rektor UMM, beliau seringkali memberikan Tunjangan Hari Raya (THR) kepada seluruh guru-guru sekolah Muhammadiyah karena merasa bahwa peran mereka yang besar terhadap kemajuan bangsa ini layak diberikan apresiasi. Apalagi dengan gaji guru yang tidak seberapa mendorong sisi humanitas Muhadjir untuk ikut meringankan beban guru-guru tersebut. Sisi humanitas ini menjadi kelebihan tersendiri bagi Muhadjir yang jarang dimiliki oleh orang lain. Apalagi sekelas pejabat kampus dengan kiprah yang mentereng.

Oleh sebab itu, salah satu elemen utama yang harus dimiliki oleh calon pemimpin ke depan adalah sisi humanitas yang ditujukan kepada masyarakat kecil. Kita menyadari bahwa bangsa ini membutukan pemimpin yang tidak hanya pandai bergaul dengan kalangan elite saja, tapi juga pandai dan instens bergaul dengan kalangan bawah. Dengan kepandaian bergaul inilah, aspirasi-aspirasi rakyat bisa diserap dengan baik. Karena bagi rakyat, pemimpin yang sudah terasa dekat tidak akan membatasi diri untuk mengemukakan keresahan-keresahan yang dialami oleh rakyat kecil. Sebagai seorang aktivis terpelajar, Muhadjir Effendy sudah memiliki atribut penting sehingga layak menjadi cawapres pada pilpres 2024 mendatang. (*)

Nur Alim Mubin AM, Penulis adalah Ketua Dewan Penasihat Cangkir Opini

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Lihat Juga Tag :

Populer