Muhammadiyah Perkuat Gerakan Kemanusiaan, Respons Bantuan untuk NTT hingga Karhutla

Tim relawan Muhammadiyah melayani penyintas bencana gempa bumi NTT. (Foto: Lazismu)

MAKLUMAT — Muhammadiyah memperkuat gerakan kemanusiaan untuk membantu masyarakat terdampak bencana di berbagai daerah. Gerakan tersebut dilakukan melalui penghimpunan infak, pengerahan relawan, layanan kesehatan, penyediaan kebutuhan dasar, hingga pendampingan pada masa pemulihan.

Sekretaris PP Muhammadiyah M Izzul Muslimin mengatakan, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah mengeluarkan edaran agar infak Jumat di masjid-masjid Muhammadiyah dihimpun dan disalurkan untuk membantu masyarakat terdampak bencana, terutama gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ia menegaskan, penggalangan dana tidak berhenti setelah satu pekan. Warga Muhammadiyah, kata dia, dapat melanjutkan pengumpulan infak untuk membantu para penyintas bencana. Selain NTT, perhatian juga diarahkan kepada masyarakat terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan.

“Artinya edaran itu tidak berarti satu pekan berhenti, tapi kalau seandainya ada yang ingin melanjutkan lagi juga enggak apa-apa,” ujarnya, dikutip laman resmi PP Muhammadiyah pada Senin (7/9/2026).

“Kita berharap warga Muhammadiyah untuk bisa menyalurkan rezekinya, baik melalui infak Jumat, bisa juga melalui Lazismu di masing-masing tempat,” ajak Izzul.

Penghimpunan dan Distribusi

Gerakan kemanusiaan tersebut melibatkan sejumlah unsur dalam Muhammadiyah. Lazismu menjalankan fungsi penghimpunan dana, sedangkan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) berperan dalam asesmen dan pelaksanaan penanganan di lapangan.

Bendahara MDMC Dede Haris Sumarno mengatakan, gotong royong membantu masyarakat terdampak bencana telah menjadi bagian dari gerakan Muhammadiyah.

“Kalau di Persyarikatan Muhammadiyah ini adalah sesuatu yang saya kira sudah sangat mendarah daging,” kata dia.

Dalam penanganan bencana, MDMC melakukan asesmen untuk mengetahui kebutuhan masyarakat sebelum bantuan didistribusikan. Bantuan disesuaikan dengan kondisi lapangan, mulai dari hunian darurat, makanan, layanan kesehatan, kebutuhan anak-anak, pendidikan darurat, hingga tempat ibadah.

Di Flores, MDMC telah mengerahkan tim kesehatan, membangun rumah sakit lapangan, serta menyediakan layanan kesehatan bergerak karena para pengungsi tersebar di berbagai titik.

Bantuan juga mencakup hunian darurat karena gempa susulan masih membuat masyarakat khawatir. Pendidikan anak-anak turut menjadi perhatian agar proses belajar tetap berjalan.

Baca Juga  Penting Punya Wakil di Parlemen, Ketua PDM Tuban: Kita Arahkan Dukungan ke Caleg KaderMu

“Adik-adik kita boleh saja mengalami kejadian seperti ini, tapi pendidikannya tidak boleh ditinggalkan,” ujar Dede.

Di Kalimantan, MDMC juga mempertahankan tim yang membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan. Sementara untuk Flores, tim kesehatan dari sejumlah rumah sakit Muhammadiyah dikerahkan secara bergiliran.

Dede menegaskan, Muhammadiyah menempatkan diri sebagai mitra pemerintah dalam penanganan bencana. “Posisi membantu, tidak menggantikan pemerintah. Kita berkoordinasi mana rumah yang rusak berat, rusak sedang dan sebagainya,” tandasnya.

One Muhammadiyah One Response

Respons penanganan bencana yang dilakukan Muhammadiyah tidak berhenti pada masa tanggap darurat. Setelah fase tersebut, penanganan dilanjutkan menuju pemulihan ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga kehidupan sosial masyarakat.

Dede menjelaskan, setiap tahapan melibatkan unsur Muhammadiyah sesuai bidang masing-masing. Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata (MEBP) dapat mengambil peran dalam pemulihan ekonomi, Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Non-Formal (Dikdasmen PNF) dalam pemulihan pendidikan, sementara AUM perguruan tinggi dan rumah sakit terlibat sesuai kebutuhan.

Pola tersebut disebut sebagai One Muhammadiyah One Response (OMOR), yakni keterlibatan berbagai elemen persyarikatan dalam satu rangkaian penanganan bencana.

“Tidak hanya satu atau dua lembaga, tapi seluruh elemen yang ada di persyarikatan bergerak bersama sesuai dengan tahapannya masing-masing,” terang Dede.

Menurutnya, penanganan bencana membutuhkan waktu panjang. Karena itu, dukungan masyarakat tetap dibutuhkan setelah perhatian media terhadap sebuah bencana mulai berkurang.

Direktur Fundraising Lazismu Mochammad Sholeh Farabi mengatakan, masyarakat perlu memahami bahwa penanganan bencana berlangsung lebih lama daripada masa pemberitaan di media.

“Jangan biarkan kepedulian itu berhenti walaupun kabar tentang bencana mulai menghilang dari televisi,” ujar Farabi.

Farabi mengatakan, Muhammadiyah biasanya hadir sejak masa awal bencana dan terus mendampingi masyarakat hingga proses pemulihan.

“Jadi jalan bencana itu panjang. Biasanya memang Muhammadiyah itu tim yang biasanya pertama datang tapi pulang paling terakhir,” katanya.

Baca Juga  Tersisa Dua Tahun Menuju Muktamar, Haedar: Jangan-jangan Kita Hanya Mengejar Setoran Formalitas!

Rp7,4 Miliar dan 20 Ribu RendangMu

Respons masyarakat juga terlihat dari penghimpunan dana untuk penanganan bencana. Farabi menyampaikan, dana yang dihimpun Lazismu berdasarkan instruksi Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk penanganan bencana NTT telah mencapai sekitar Rp7,4 miliar.

“Menurut data yang terkumpul di Lazismu, berdasarkan surat PP Muhammadiyah untuk menghimpun itu sampai saat ini sudah masuk sekitar 7,4,” kata Farabi.

Dana tersebut akan disalurkan sesuai kebutuhan berdasarkan hasil asesmen tim di lapangan. Untuk bencana lain, seperti kebakaran hutan dan lahan serta erupsi, proses penghimpunan masih berlangsung.

Lazismu juga menyiapkan bantuan yang memperhatikan kebutuhan kelompok rentan. Dalam respons darurat, bantuan mencakup family kit, woman kit, dan hygiene kit.

Untuk kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, kebutuhan bantuan disesuaikan dengan hasil asesmen MDMC. Saat ini, antara lain tersedia donasi berupa uang, masker, dan kebutuhan kesehatan.

Keterlibatan masyarakat juga datang dari perguruan tinggi Muhammadiyah. Sivitas akademika, mahasiswa, organisasi kepemudaan, dan ortom turut menggalang bantuan serta mengajak masyarakat berdonasi.

Selain dana, Lazismu mendistribusikan makanan siap saji melalui program RendangMu. Farabi menyebut sekitar 20.000 kaleng RendangMu telah disalurkan kepada penyintas bencana di NTT melalui posko-posko Muhammadiyah.

“Saat ini kami sudah menyalurkan kurang lebih ada 20.000 kaleng,” ungkap Farabi.

Farabi memastikan Lazismu akan melaporkan penghimpunan dan penggunaan dana kepada masyarakat secara transparan dan akuntabel.

“Dana yang terhimpun di Lazismu itu akan kita kelola dengan prinsip amanah dan profesional. Itu sudah menjadi SOP kami,” tegasnya.

Ia menjelaskan, masyarakat dan donatur akan mendapatkan informasi mengenai jumlah dana yang dihimpun, penggunaannya, serta bentuk bantuan yang disalurkan. Pelaporan dilakukan melalui berbagai kanal, termasuk media dan media sosial.

Dalam pelaksanaannya, ia juga menandaskan bahwa Lazismu terus berkoordinasi dengan MDMC yang memperoleh informasi langsung mengenai kondisi dan kebutuhan di lapangan.

Baca Juga  Hadir di Milad ke-37 Umsida, Bupati Subandi: Muhammadiyah Adalah Rumah Kedua, Saya Selalu Siap!

Model tersebut membuat penghimpunan dana berjalan seiring dengan operasi kebencanaan. MDMC melakukan asesmen dan menentukan kebutuhan, sementara Lazismu menyiapkan dukungan pendanaan serta mengomunikasikan kebutuhan tersebut kepada masyarakat.

Dana Abadi Kemanusiaan

Dede juga mengusulkan penguatan kesiapsiagaan melalui pembentukan dana abadi kemanusiaan. Gagasan tersebut dinilai penting karena respons bencana membutuhkan kecepatan, sementara penghimpunan dana biasanya baru dimulai setelah bencana terjadi.

“Namun apabila kita telah memiliki dana abadi kemanusiaan, insya Allah maka bahasa anak mudanya akan lebih gercep,” ujar Dede.

Menurutnya, dana abadi dapat membuat Muhammadiyah memiliki sumber daya yang siap digunakan ketika bencana terjadi sehingga respons awal tidak harus menunggu proses penghimpunan.

Dede mengaitkan gagasan tersebut dengan semangat Al-Maun yang menjadi salah satu ruh gerakan sosial Muhammadiyah. Bantuan kemanusiaan, menurutnya, diberikan kepada siapa pun yang membutuhkan tanpa membedakan agama, suku, maupun latar belakang.

“Bencana kemanusiaan itu melampaui segalanya. Ada tidak ada agama, tidak ada suku dan lain sebagainya, semua kita bantu hanya karena rasa kemanusiaan,” katanya.

Semangat tersebut, kata dia, menjadi alasan Muhammadiyah terus terlibat dalam penanganan bencana hingga masa pemulihan. Ia menyebut, kader Muhammadiyah memiliki tanggung jawab menjadi bagian dari solusi atas persoalan kemanusiaan di Indonesia.

“Kita merasa bahwa ini adalah tugas kita sebagai khalifah, tugas kita sebagai warga bangsa dan tugas kita sebagai kader persyarikatan untuk menjadi bagian daripada solusi terhadap berbagai persoalan yang ada di Republik ini, khususnya terkait dengan kebencanaan atau kemanusiaan,” ujarnya.

Farabi menambahkan, kepedulian masyarakat dibutuhkan dalam seluruh tahapan penanganan bencana, baik berupa dana, tenaga, maupun barang.

Menurutnya, para penyintas membutuhkan pendampingan hingga benar-benar pulih. Karena itu, dukungan publik perlu dipertahankan meskipun bencana sudah tidak lagi menjadi berita utama.

“Kami semua elemen di Muhammadiyah akan mendampingi para penyintas bencana sampai mereka pulih,” kata Farabi.