KOKAM Rasa Banser Ikut Mangayubagyo Muktamar NU ke-35 di Jombang

KOKAM

MAKLUMAT — Ada cara sederhana untuk menunjukkan rasa persaudaraan. Sinoman ketika saudara sedang punya hajat. Sinoman dalam tradisi masyarakat Jawa adalah gotong royong membantu keluarga atau tetangga yang sedang menggelar hajatan. Tidak banyak bicara. Tidak menunggu diminta. Datang, lalu ikut bekerja.

Semangat semacam itulah yang dibawa puluhan personel Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) Kota Blitar ketika bergerak menuju Jombang. Mereka datang untuk mangayubagyo menyukseskan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, Jumat (28/8/2026).

“Anggota KOKAM sudah berada di Jombang untuk mangayubagyo hajatan NU, Mas,” kata Ketua Pemuda Muhammadiyah Kota Blitar Khabib Aji Widodo, Kamis (27/8/2026).

Menurut Khabib, kehadiran KOKAM bukan sekadar untuk menyaksikan kemeriahan muktamar. Para personel datang untuk ikut membantu sesuai kemampuan. Mereka bergabung dengan personel KOKAM dari berbagai daerah di Jawa Timur untuk mendukung pengamanan selama berlangsungnya hajatan besar NU. “Bisa kami hanya membantu secara tenaga. Semoga bisa membantu kelancaran Muktamar NU,” tukasnya.

Seragamnya memang berbeda dengan Banser yang juga terlibat dalam pengamanan. Organisasinya pun berbeda. Namun, di Jombang, perbedaan itu menemukan ruang untuk bertemu: sama-sama membantu.

Komandan KOKAM Kota Blitar, Ngudi Santoso, mengatakan pengiriman personel tersebut merupakan bentuk partisipasi untuk menyukseskan Muktamar NU ke-35. “Di Jombang kita akan bergabung dengan pasukan KOKAM lainnya. Dalam laporan yang kami terima, ada sebanyak kurang lebih 200 pasukan KOKAM dari Jawa Timur,” ujarnya.

Baca Juga  Ketua LHKP PP Muhammadiyah Harap Kabinet Banyak Munculkan Terobosan Baru

Bukan Sekadar Menonton

Kehadiran KOKAM bukan sekadar menambah semarak suasana muktamar. Mereka masuk dalam skema pengamanan yang telah disiapkan panitia. Ketua Panitia Lokal Muktamar ke-35 NU sekaligus Ketua Yayasan PPBU, KH Abdurrozaq Sholeh atau Gus Rozaq, mengatakan pengamanan melibatkan berbagai unsur. Mulai TNI dan Polri, Banser, keamanan pondok, hingga KOKAM.

“Keamanan kita libatkan dari kepolisian, TNI, juga ada dari Banser, keamanan pondok. Dan kemarin juga ada bantuan dari KOKAM dari Muhammadiyah itu ada 100 sampai 200 personel. Kemarin datang ke sini, siap support untuk pengamanan,” ujar Gus Rozaq kepada wartawan, Selasa (18/8/2026).

Berdasarkan pemetaan pengamanan per 18 Agustus, personel KOKAM disiapkan untuk mendukung penjagaan di wilayah luar atau Ring 3. Tugas mereka antara lain membantu menjaga ketertiban dan kelancaran lalu lintas di sekitar area muktamar, termasuk membantu mengatur pergerakan kendaraan dan parkir.

Tugas yang mungkin terlihat sederhana. Namun, dalam hajatan yang dihadiri banyak orang, kelancaran lalu lintas dan ketertiban menjadi bagian penting agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar. Di sinilah menariknya kehadiran KOKAM.

Mereka tidak berada di panggung utama. Tidak pula datang membawa agenda organisasi. Mereka mengambil bagian di ruang yang mungkin tidak banyak terlihat, tetapi dibutuhkan.

Baca Juga  Bahas Sistem Pemilu, LHKP PWM Jatim Gelar FGD Bersama Sejumlah Tokoh Besok Ahad

Ketika Seragam Berbeda Berdiri Bersama

Muktamar NU ke-35 menjadi salah satu momentum ketika dua organisasi Islam besar, NU dan Muhammadiyah, bertemu dalam suasana yang berbeda. Bukan untuk memperdebatkan perbedaan. Bukan pula untuk membicarakan siapa yang lebih besar. Melainkan bekerja bersama.

Banser, KOKAM, TNI, Polri, keamanan pondok, dan unsur lainnya berada dalam satu skema pengamanan. Masing-masing membawa identitas dan tugas sendiri, tetapi tujuan akhirnya sama: menjaga agar hajatan berjalan aman dan tertib.

Istilah mangayubagyo terasa pas untuk menggambarkan kehadiran KOKAM rasa Banser di Muktamar NU. Datang ketika saudara punya hajat. Ikut merasakan kegembiraan. Lalu mengambil bagian sesuai kemampuan.Cukup berdiri di pinggir jalan. Mengatur kendaraan. Menjaga parkir. Memastikan orang-orang yang datang dapat mengikuti muktamar dengan nyaman.***