Universitas Bukan Pabrik Pekerja

Universitas

MAKLUMAT — Ada pertanyaan sederhana yang barangkali akan semakin mengganggu para rektor, dosen, menteri pendidikan, dan pengelola sekolah: untuk pekerjaan apa sebenarnya kita mendidik anak-anak hari ini?

Pertanyaan itu nampak sepele, terdengar biasa-biasa saja. Tetapi di tengah kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), dan sebagian ada yang membacanya AI sebagai “Akal Imitasi, ia menjadi pertanyaan yang serius. Sebab pekerjaan yang dipelajari mahasiswa hari ini belum tentu sama ketika mereka lulus empat tahun mendatang.

Di Inggris, kegelisahan itu mulai dijawab dengan mendorong pendidikan vokasi lebih dekat dengan dunia kerja. Pemerintah memperkenalkan jalur Vocational GCSE (General Certificate of Secondary Education) = dengan penekanan lebih kuat pada keterampilan praktis, pekerjaan, dan bidang kejuruan serta memperluas pengalaman kerja siswa.

Dunia pendidikan tidak lagi ingin terlalu lama berada di menara gading. Pendidikan harus mengenal bengkel, kantor, perusahaan, teknologi dan persoalan nyata masyarakat.

Tetapi persoalannya menjadi lebih rumit ketika AI masuk ke ruang kerja. Lulusan ilmu komputer, misalnya, menghadapi pasar kerja yang berubah karena sebagian pekerjaan pemrograman mulai dapat dibantu atau dikerjakan mesin.

OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) bahkan mengingatkan bahwa perkembangan AI menuntut pendidikan memikirkan kembali keterampilan apa yang harus diprioritaskan.

Maka kita sampai pada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah universitas harus mengejar pekerjaan, atau justru menyiapkan manusia untuk menghadapi pekerjaan yang belum ada?

Pada titik ini — pendidikan perlu berhenti berpikir terlalu pendek.

Selama puluhan tahun kita mengenal rumus yang hampir dianggap hukum alam: masuk sekolah, kuliah, memperoleh ijazah, lalu bekerja.

Gelar menjadi tiket masuk pasar kerja. Kurikulum disusun berdasarkan kebutuhan industri. Kampus berlomba memasang jargon link and match, job ready, industry oriented, dan sejenisnya.

Semua itu penting. Tetapi AI membuat rumus tersebut mulai retak.

Kurikulum membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk berubah. Teknologi berubah dalam hitungan bulan. Industri membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan baru. Kampus baru mulai menyusun mata kuliah ketika teknologi tersebut mungkin sudah berganti.

Baca Juga  Lunasi Hutang Peradaban, Muhammadiyah Luncurkan Kalender Hijriah Global Tunggal

Karena itu, universitas yang hanya bertanya, “Keterampilan apa yang dibutuhkan industri sekarang?” bisa selalu terlambat.

Pertanyaan yang lebih tepat adalah: keterampilan apa yang membuat manusia tetap relevan ketika industri berubah?

Jawabannya tidak semata-mata coding, prompt engineering, analisis data atau keterampilan digital lainnya. Justru yang semakin penting adalah kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, berkomunikasi, berkolaborasi, mengambil keputusan dan memahami konsekuensi moral dari sebuah tindakan.

OECD melalui Digital Education Outlook 2026 memberi peringatan yang menarik. AI generatif dapat membuat pekerjaan mahasiswa terlihat lebih baik, tetapi peningkatan kualitas hasil pekerjaan tidak otomatis berarti terjadi pembelajaran.

Jika mahasiswa menyerahkan pekerjaan berpikir kepada mesin, yang meningkat mungkin performanya, bukan kemampuan kognitifnya.

Sebaliknya, AI yang digunakan dengan tujuan pedagogis yang jelas dapat membantu mengembangkan argumentasi, kreativitas dan kolaborasi.

Ini pelajaran penting bagi dunia kampus di Indonesia. Jangan sampai AI hanya membuat mahasiswa semakin cepat menyelesaikan tugas, tetapi semakin lambat berpikir.

Jangan sampai mahasiswa mampu menghasilkan makalah 20 halaman dalam lima menit, tetapi tidak mampu menjelaskan mengapa argumen di dalamnya benar.

Jangan sampai universitas menghasilkan lulusan yang sangat mahir menggunakan mesin, tetapi gagap ketika harus mengambil keputusan tanpa mesin.

Di sinilah pendidikan Islam mempunyai warisan pemikiran yang menarik.

Dalam tradisi Islam, pendidikan tidak semata-mata bertujuan menghasilkan manusia yang knowledgable, tetapi manusia yang berilmu sekaligus berakhlak. Ilmu memiliki dimensi moral. Pengetahuan bukan sekadar sesuatu yang dikuasai, tetapi sesuatu yang dipertanggungjawabkan.

Konsep — ta’lim, — tarbiyah dan — ta’dib memberi perspektif bahwa pendidikan tidak berhenti pada transfer pengetahuan. Ada proses pembentukan manusia, pembiasaan nilai, penumbuhan tanggung jawab dan pengembangan adab.

Dalam konteks AI, gagasan ini menjadi sangat relevan. Mesin bisa menghasilkan informasi. Tetapi mesin tidak otomatis mempunyai tanggung jawab moral atas akibat informasi tersebut.

AI bisa membuat keputusan terlihat rasional. Tetapi manusia tetap harus bertanya: apakah keputusan itu adil? disamping itu, AI juga bisa menghasilkan tulisan yang indah. Tetapi manusia harus memastikan apakah tulisan itu benar, jujur dan tidak merugikan orang lain.

Baca Juga  Jangan Lupa! Malam Ini Gerhana Bulan Total, Begini Tata Cara Salat Gerhana

Dengan kata lain, semakin canggih mesin, semakin penting pendidikan tentang adab menggunakan mesin.

Penelitian terbaru mengenai pendidikan tinggi Islam bahkan mulai mengembangkan kerangka tata kelola AI berbasis maqashid al-shariah. Gagasannya adalah teknologi tidak cukup dinilai dari efisiensi, tetapi juga dari kemampuannya menjaga kemaslahatan manusia.

Kajian lain yang secara khusus dikembangkan di lingkungan pendidikan Muhammadiyah menawarkan model literasi AI yang menggabungkan teknologi dengan tauhid, akhlak, kesadaran kritis, etika digital dan tanggung jawab sosial.

Ini menarik karena menunjukkan bahwa literasi AI dalam pendidikan Islam tidak harus berhenti pada kemampuan teknis. Pada posisi ini pendidikan Muhammadiyah sebagai sebuah laboratorium sosial yang besar.

Sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di dunia dengan jaringan pendidikan yang luas, Muhammadiyah sejak awal memang memiliki tradisi mempertemukan agama dengan ilmu pengetahuan modern.

Sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah tidak dibangun untuk mempertentangkan agama dan modernitas. Justru modernitas dipakai sebagai instrumen untuk memajukan kehidupan.

Tetapi tantangannya sekarang lebih besar.

Pada September 2026, Muhammadiyah kembali menegaskan bahwa persoalan pendidikan tidak cukup diselesaikan dengan memperbanyak jumlah sekolah. Kualitas harus menjadi pusat perhatian.

Dalam Rakornas Sekolah/Madrasah Muhammadiyah Unggul, Ketua PP Muhammadiyah Irwan Akib menekankan pentingnya kualitas sebagai kunci daya saing, sementara ISMUBA—Al-Islam, Kemuhammadiyahan dan Bahasa Arab—ditegaskan bukan sekadar mata pelajaran, tetapi ruh pendidikan Muhammadiyah.

Ini sebenarnya bisa menjadi modal besar menghadapi era AI.

Pendidikan Muhammadiyah tidak harus memilih antara “modern” atau “religius”. Tantangannya justru membuat keduanya bekerja bersama: sains tanpa kehilangan etika, teknologi tanpa kehilangan kemanusiaan, kompetensi tanpa kehilangan akhlak.

Tetapi untuk sampai ke sana, kebijakan pendidikan juga harus berubah.

Pertama, pemerintah perlu mendorong kurikulum yang lebih lentur. Jangan setiap perubahan teknologi harus menunggu perubahan kurikulum yang bertele-tele. Kompetensi dasar harus kuat, tetapi ruang adaptasinya harus luas.

Baca Juga  Hubungan Muhammadiyah dengan Partai Politik adalah Mutualistis

Kedua, hubungan kampus dan dunia kerja jangan berhenti pada penandatanganan memorandum of understanding.

Industri harus masuk ke ruang kelas, sementara kampus masuk ke persoalan industri. Mahasiswa perlu menghadapi proyek nyata, bukan hanya soal ujian.

Ketiga, pengalaman kerja harus dipandang sebagai bagian dari pendidikan, bukan kegiatan tambahan. Magang, proyek sosial, kewirausahaan, riset terapan dan kerja kolaboratif perlu memperoleh posisi yang lebih serius.

Keempat, asesmen harus berubah. Jika AI mampu membuat esai, maka dosen perlu lebih banyak menilai proses berpikir, argumentasi, presentasi, diskusi, praktik, refleksi dan kemampuan mempertanggungjawabkan pekerjaan.

Kelima, pendidikan AI harus bersifat etis. Anak didik harus diajarkan bukan hanya how to use AI, tetapi juga when to trust AI, when to question AI, and when to refuse AI.

Dan keenam, kita harus berhenti mengukur keberhasilan pendidikan hanya dari berapa banyak lulusan memperoleh pekerjaan. Ukuran itu penting, tetapi tidak cukup.

Universitas juga harus dilihat dari kemampuannya melahirkan peneliti, inovator, pengusaha, pemimpin sosial, guru, pemikir dan warga negara yang mampu menghadapi persoalan baru.

Sebab universitas yang baik bukan hanya mencetak orang untuk mengisi lowongan pekerjaan. Universitas seharusnya ikut menciptakan pekerjaan, pengetahuan dan masa depan.

AI mungkin akan mengambil alih sejumlah pekerjaan manusia. Tetapi ada satu pekerjaan yang tidak boleh kita serahkan kepada mesin: menentukan manusia seperti apa yang ingin kita bentuk.

Itulah sebabnya masa depan pendidikan tidak semestinya hanya bertanya, “Bagaimana anak kita mendapatkan pekerjaan?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Bagaimana kita mendidik manusia agar tetap memiliki nilai ketika jenis pekerjaan terus berubah?”

Di situlah universitas menemukan alasan baru untuk tetap ada. Bukan karena manusia kekurangan informasi. Justru karena informasi kini berlimpah.

Universitas dibutuhkan agar manusia belajar apa yang harus dilakukan dengan pengetahuan itu—dan untuk siapa pengetahuan itu digunakan.

 

*) Pemerhati Pendidikan, MoT Save The Children***