Muktamar NU 2026, Mojokerto dan Cirebon Berebut Jadi Tuan Rumah

muktamar ke 35 nu

MAKLUMAT – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masih belum menetapkan lokasi pelaksanaan Muktamar NU ke-35 yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026. Namun, sejumlah daerah mulai bergerak cepat mengajukan diri sebagai tuan rumah forum tertinggi organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.

Dua wilayah yang paling serius mengajukan diri ialah Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto, Jawa Timur dan kawasan Cirebon Raya, Jawa Barat. Keduanya sama-sama menawarkan kekuatan historis, basis pesantren besar, hingga kesiapan infrastruktur untuk menyambut ribuan peserta muktamar.

Amanatul Ummah Siap Total Jadi Tuan Rumah

Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, KH Asep Saifuddin Chalim, menegaskan pihaknya telah mengirim surat resmi kepada panitia Muktamar ke-35 NU di Jakarta sebagai bentuk kesiapan menjadi tuan rumah.

Menurut Kiai Asep, Muktamar NU bukan sekadar agenda organisasi, melainkan momentum strategis menentukan arah perjuangan Nahdlatul Ulama ke depan.

“Kami berharap diberikan kesempatan menjadi tuan rumah Muktamar ke-35 NU. Amanatul Ummah siap lahir dan batin untuk ikut menyukseskan agenda besar jam’iyah Nahdlatul Ulama,” ujarnya dikutip, Rabu (27/5/2026)

Amanatul Ummah mengandalkan fasilitas besar yang dimiliki kompleks pesantren di Pacet, Mojokerto. Mulai dari Masjid Raya Abdul Chalim tiga lantai, student center berkapasitas sekitar 4.000 peserta, guest house, klinik, hingga area parkir luas.

Baca Juga  Rais Syuriyah PCNU Pasuruan Desak Pimpinan Sidang Muktamar NU Netral

Selain itu, dukungan fasilitas juga datang dari Universitas KH Abdul Chalim dan sejumlah lembaga pendidikan di bawah naungan pesantren tersebut.

Kiai Asep menilai suasana pesantren di Pacet sangat cocok untuk menghadirkan nuansa spiritual dan kekhidmatan khas tradisi NU.

PCNU Cirebon Andalkan Sejarah dan Infrastruktur

Tak mau kalah, PCNU Kabupaten Cirebon juga resmi melayangkan surat permohonan kepada Ketua Panitia Muktamar NU ke-35, Syaifullah Yusuf atau Gus Ipul.

Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Cirebon, KH Aziz Hakim Syaerozi menyebut pengajuan itu merupakan hasil musyawarah bersama pengurus NU se-Cirebon Raya yang meliputi Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, hingga Indramayu.

Menurutnya, Cirebon memiliki hubungan historis yang kuat dengan NU karena menjadi daerah asal sejumlah tokoh penting NU seperti KH M Abbas Abdul Jamil dan KH Abdullah Abbas.

Selain dikenal sebagai kota wali, Cirebon juga memiliki banyak pesantren tua berpengaruh seperti Buntet Pesantren, Pesantren Babakan, Pesantren Benda, dan Pesantren Gedongan.

“Cirebon bukan hanya punya nilai sejarah NU yang kuat, tetapi juga memiliki basis pesantren yang sangat besar dan nahdliyin yang mengakar,” katanya.

Dari sisi fasilitas, Cirebon Raya disebut memiliki lebih dari 30 hotel berbintang serta akses transportasi lengkap mulai jalur tol, kereta api, hingga bandara yang siap beroperasi 24 jam.

Baca Juga  Cek Fakta: Benarkah 10 Ribu Banser Jaga Natalan tapi Tidak Kirim Relawan di Bencana Sumatera?

Jawa Timur Masih Jadi Kandidat Kuat

Sebelumnya, Forum Rois Syuriyah PCNU se-Jawa Timur juga mengusulkan Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri sebagai lokasi Muktamar NU ke-35. Hal ini membuat persaingan penentuan lokasi muktamar semakin dinamis.

PBNU diperkirakan akan mempertimbangkan banyak aspek sebelum menetapkan lokasi resmi, mulai dari kesiapan teknis, kapasitas peserta, faktor historis, hingga dampak konsolidasi organisasi.

Persaingan menjadi tuan rumah Muktamar NU ke-35 bukan sekadar soal lokasi acara. Ini juga menjadi ajang menunjukkan pengaruh kultural, kekuatan jaringan pesantren, serta posisi strategis daerah dalam peta Nahdlatul Ulama nasional.

Jawa Timur masih terlihat dominan karena menjadi basis tradisional NU terbesar. Namun, munculnya Cirebon sebagai kandidat serius menunjukkan NU mulai membuka ruang simbolik baru di luar episentrum lama organisasi.

Jika PBNU memilih kawasan pesantren besar seperti Amanatul Ummah atau Lirboyo, maka nuansa kaderisasi ulama akan lebih menonjol. Sementara jika memilih Cirebon, PBNU berpeluang memperluas simbol konsolidasi NU lintas wilayah Jawa.