MAKLUMAT – Dinamika jelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 mulai memanas. Peta kekuatan tak lagi samar. Lima poros besar muncul dan saling mengunci dalam perebutan kursi Rais Aam dan Ketua Umum PBNU.
Meski secara formal NU tidak mengenal istilah “paslon”, realitas politik organisasi justru menunjukkan sebaliknya. Konsolidasi mengarah pada paket kepemimpinan yang tak terpisahkan.
Analis sekaligus tokoh muda NU, HRM Khalilur R Abdullah Sahlaway (Gus Lilur) menegaskan dua posisi puncak itu selalu lahir dari satu konfigurasi kekuatan.
“Rais Aam dan Ketua Umum itu satu tarikan napas. Tidak bisa berdiri sendiri,” ujarnya dikutip, Kamis (30/4/2026).
Ia mengungkapkan kunci permainan ada di Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Forum inilah yang menentukan Rais Aam, dan secara tidak langsung ikut mengunci arah Ketua Umum. Karena itu, perebutan pengaruh terhadap komposisi AHWA menjadi medan tempur paling awal.
Nama Saifullah Yusuf alias Gus Ipul disebut aktif membaca peta sekaligus merancang langkah strategis. Pergerakan ini memicu ketegangan antar kubu.
Sedangkan di level elite, rivalitas mengerucut pada dua tokoh besar, KH Miftachul Akhyar yang berpeluang bertahan dan KH Said Aqil Siradj yang didorong untuk kembali naik.
Lima Poros Kunci
Gus Lilur membagi peta kekuatan yang kini terbelah ke dalam lima poros utama:
1.Poros Petahana
Dipimpin Yahya Cholil Staquf. Ia mencari pasangan Rais Aam yang sejalan dengan agenda transformasi PBNU.
2.Poros Gus Ipul
Mengandalkan kekuatan struktural. Fokusnya menjaga posisi Rais Aam tetap di tangan KH Miftachul Akhyar.
3.Poros PKB
Didorong jaringan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Mereka mendorong KH Said Aqil Siradj kembali ke panggung Rais Aam.
4.Poros Kementerian Agama
Mengusung KH Nazaruddin Umar sebagai figur pemersatu untuk kursi Ketua Umum.
5.Poros Alternatif
Poros cair. Biasanya muncul di detik akhir sebagai jalan tengah ketika kebuntuan terjadi.
Potensi Koalisi Besar
Skenario paling menentukan ada pada kemungkinan koalisi. Jika poros PKB, jaringan Kementerian Agama, dan figur KH Said Aqil menyatu, peta bisa berubah drastis.
Nama-nama seperti Muhaimin Iskandar (Cak Imin) dan Nusron Wahid ikut disebut dalam orbit konsolidasi ini.
Jika konfigurasi itu solid, hasil Muktamar bisa “terkunci” bahkan sebelum forum resmi dimulai.
Faktor Penentu: Kiai Sepuh
Namun NU bukan sekadar hitungan politik. Tradisi pesantren tetap memegang kendali. Kiai sepuh—sering kali jauh dari sorotan justru menjadi penentu akhir. Mereka bisa mematahkan kalkulasi politik paling rapi sekalipun. Di titik ini, logika kekuasaan sering kalah oleh karisma dan restu ulama.
Muktamar NU 2026 tidak sekadar soal siapa menang, tapi bagaimana keseimbangan kekuatan dijaga. Poros petahana kuat secara struktur, tapi belum tentu dominan secara kultural. Poros PKB dan Kemenag punya daya dorong politik besar, namun tetap bergantung pada legitimasi ulama.
Kunci sesungguhnya ada di AHWA dan kiai sepuh—dua faktor yang sulit diprediksi. Artinya, pertarungan ini belum dimenangkan siapa pun. Namun satu hal pasti, Muktamar NU selalu menghadirkan kejutan di detik terakhir.***













